Jabat Tangan

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “liberal” sebagai “bersifat bebas” atau “berpandangan bebas; luas dan terbuka”. Di masyarakat, pendefinisian liberal ini juga berkembang luas. Ada yang mengucap bahwa ia adalah simbol kebebasan berpikir dan berpendapat. Beberapa yang lain berkata bahwa ia merupakan penafsiran ulang terhadap teks—teks apa pun itu—dari yang bersifat konvensional menuju hal-hal yang dianggap progresif.

Satu yang dapat dipahami di sini: liberal mensyaratkan adanya kelapangan dada dengan tiadanya batas-batas yang mengikat manusia. Semua sama. Benar-benar setara. Tanpa ada pengaruh apa pun yang dianggap mengurangi kebebasan manusia yang menjadikannya manusia-yang-berkehendak seutuhnya.

Tapi, malam ini, saya terkaget melihat hamburan post di twitter yang mengecam usaha Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informasi, yang menahan tangannya dari bersalaman dengan Michelle Obama, isteri Barrack Obama, presiden Amerika Serikat, walaupun akhirnya gagal juga. Terkaget, mengingat mereka yang melontarkan kecaman di antaranya mengaku sebagai sosok yang liberal. Terkaget, mengingat banyak di antara mereka yang melontarkan kecaman pernah hidup di Amerika dan merasakan keragaman kulturnya. Dan yang paling penting, terkaget, mengingat mereka yang mengecam masih mengaku sebagai muslim. Setidaknya, begitulah yang tertulis di KTP-nya.

Ini jelas menggelitik saya. Pertama, paling tidak, saat ini, pandangan saya mengenai standar penilaian mereka yang menyebut diri liberal itu sedikit bergeser, walaupun bingkai besarnya tetap sama. Dahulu, mereka mengajak masyarakat untuk menghormati Ahmadiyah dengan segala kontroversinya. Tak ketinggalan, mengecam mereka yang tak sejalan dengan pola pikirnya, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Masih segar pula dalam ingatan bagaimana beberapa di antara mereka berkunjung ke Tel Aviv dan Jerusalem sambil menghina wajah-wajah kusam yang tinggal di barak-barak kumuh di sekitarnya. Tanpa mau mengingat siapa yang terjajah, siapa yang agresor.

Tapi kini, entah mengapa, argumen-argumen itu menguap, lenyap. Argumen itu berganti jadi tuduhan bahwa Tifatul telah mempermalukan Indonesia. Maka, jadilah penolakan untuk berjabat tangan dianggap sebagai perbuatan intoleran.

Mari kita bandingkan satu per satu, poin-per-poin. Kita—atau paling tidak saya sendiri—tak melihat adanya kelurusan metode berpikir mereka yang menyebut diri liberal itu; dalam memahami Ahmadiyah, salah satunya. Dilihat dari sejarah berdirinya, saya kira semua sudah mafhum siapa itu Mirza Ghulam Ahmad; ada apa di balik kedekatannya dengan pemerintah kolonial Inggris yang saat itu menjajah India, atau ada apa di balik pengakuannya sebagai nabi setelah nabi terakhir: Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal, seperti telah jamak diketahui, konsensus ini adalah bagian dari aqidah keislaman seorang muslim. Bukan hal yang dipaksakan atau mengada-ada.

Dan ketika kita sodorkan permasalahan Ahmadiyah ini pada segenap sarjana muslim, serempak mereka menjawab dengan satu suara: menolak. Memang, kuantitas jelas bukan ukuran kebenaran. Tapi setidaknya, mencermati alasan mereka—yang telah banyak dipublikasikan di berbagai media—kita bisa mengambil simpulan singkat bahwa ada sesuatu yang tak beres di tubuh Ahmadiyah. Utamanya, sesuatu yang tak beres itu berada pada pemahaman mereka.

Nah, ketika Ahmadiyah—yang cacat dari sisi sejarah maupun dalil itu—dibela mati-matian atas dasar persamaan hak, kebebasan berpendapat, atau kebebasan memeluk agama, saya jadi kurang mengerti alasan di balik kecaman mereka pada Tifatul Sembiring. Toh, tindakan Menteri Tifatul itu berasal dari keyakinannya juga. Dan alasannya pun cukup kuat. Dapat dipertanggungjawabkan di hadapan berbagai disiplin ilmu keislaman.

Lagipula, melihat senyum lebar dan jabat tangannya di hadapan Barrack Obama, saya yakin itu bukan wujud protesnya terhadap Michelle maupun Barrack terhadap kebijakan AS selama ini. Yap, memang sedikit lucu rasanya bila dibandingkan dengan momen-momen saat ia berorasi memprotes beberapa kebijakan luar negeri AS beberapa waktu lalu.

Kedua, masalah keragaman kultur Amerika. Kita terlalu khawatir pasangan Obama, atau siapa pun itu, akan tersinggung dengan sikap teguh kita. Padahal, saya kira tak ada yang salah bila kita mempertahankan idealisme kita. Karena masing-masing dari kita tentu memiliki cita-cita, memiliki konsep ideal sendiri.

Kita mungkin lupa bahwa Obama hidup di Amerika Serikat. Negara yang katanya menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan berpendapat. Kalau mau konsisten dengan pernyataan ini, seharusnya kita juga menetapkan standar yang sama pada Obama. Bahwa keragaman itu juga ada di Indonesia. Kalau keduanya tersinggung, mereka perlu kita ingatkan dengan premis umum di awal paragraf ini.

Saya teringat sebuah kisah dalam al Quran yang bercerita mengenai murid-murid nabi Isa. Dalam kondisi tertekan, dalam situasi mencekam, sebuah seruan menggema di telinga mereka, “wa maa anshari ilallah? Siapakah yang akan menjadi penolong (agama) Allah?”

Serempak dijawab, “Nahnu ansharullah! Kamilah penolong (agama) Allah!”

Dan akhirnya, keteguhan mereka dalam menggenggam ideologi itu diganjar setimpal oleh Allah. Tak ketinggalan, sebutan mereka, hawariyyun, abadi tertulis dalam al Quran.

Lihatlah, itu hasil yang didapat ketika kita teguh memegang prinsip. Apalagi bila prinsip itu, bila ideologi itu, berasal dari pencipta alam semesta ini.

Kita terlalu takut berpendapat. Kita terlalu takut melawan mainstream. Mungkin kita minder. Mungkin ini ada kaitannya dengan kata “Yang Mulia..” yang Yudhoyono sematkan pada Obama. Saya tak tahu persis. Tapi satu poin lagi yang kita dapat dari pembahasan kedua ini: bahwa identitas, apa pun itu, harus diusahakan sekuat tenaga. Harus ditunjukkan dengan rasa bangga. Karena itu terkait dengan ideologi apa yang kita perjuangkan.

Tapi, masalahnya, ketika kita teguh dalam menggenggam ideologi tertentu, seringkali sebutan “kolot” atau “intoleran” muncul. Masalah toleransi? Ini jelas lucu.

Kadang saya berpikir, masihkah disebut toleran mereka yang memaksakan toleransi itu pada manusia lainnya? Maksud saya, bagaimanapun, toleransi dan segala derivasinya merupakan sebuah ideologi. Merupakan sebuah cara pandang, atau dengan kata apa pun kita menyebutnya. Tapi ketika toleransi, kebebasan, atau demokrasi itu dipaksakan, apakah itu juga merupakan wujud dari toleransi?

Saya teringat argumen George Walker Bush saat bulan-bulan pertama pengiriman serdadu ke Afghanistan dan Iraq. Alasan penting yang saya tangkap adalah keinginannya menebar demokrasi di negeri tersebut. Karena Iraq dipimpin oleh seorang diktator. Karena Afghanistan masih memendam akar Taliban dengan erat. Sayangnya, ia dilaksanakan dengan jutaan butir peluru yang keluar serta membunuh mereka yang tak sejalan.

Ah, mungkin karena mereka adalah pengikut Bush-isme, bahwa manusia hanya dibagi jadi dua golongan: golongan “kami” atau golongan teroris.

Ketiga, sepertinya kita perlu mempertanyakan lagi komitmen keislaman kita. Sejauh mana kita beriman pada Allah, pada rasulNya, pada kitabNya. Sejauh mana kita menganggap bahwa kitabNya itu adalah benar dariNya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam al Ubudiyah, berkata bahwa ibadah adalah sebuah kata yang meliputi apa saja yang dicintai dan diridhai Allah, menyangkut seluruh ucapan dan perbuatan, yang tampak maupun tak tampak. Dari sini kita bisa menarik sebuah premis bahwa pelaksanaan terhadap perintahNya dan penghindaran dari laranganNya, apa pun itu, juga dapat disebut ibadah. Dari sini pula kita bisa menyimpulkan bahwa Ibnu Taimiyah menarik masalah ibadah ke ranah yang lebih luas, yang lebih umum, tak terbatas pada penyembahan seremonial saja.

Sesungguhnya jika ditusuk kepala salah seorang di antara kalian dengan paku adalah masih lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. (HR At-Thabrani)

Ditegaskan pula bahwa sang nabi sendiri pun tak pernah menyentuh mereka yang tak halal baginya.

Tidak pernah aku menyentuh tangan perempuan ajnabiyah (HR At-Thabrani)

Hadis ini kemudian membawa saya pada pernyataan Allah lainnya. Bahwa cinta padaNya salah satunya terlukis dari peneladanan manusia pada jejak sang nabi (QS 3:31). Maka di sini lah pembuktian cinta kita. Adakah ia lebih besar daripada cinta kita pada selainNya.

Titik persinggahan cinta ini membawa kita pada kenyataan lain, bahwa cinta mereka yang beriman pada Allah sungguh tak terukur (QS 2:165). Mungkin cinta ini yang membawa Thalhah bin Ubaidillah, sang syahid yang berjalan di muka bumi, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng Rasulullah di Uhud. Hingga puluhan bekas sayatan parang membekas di tubuhnya. Hingga jari-jarinya putus sebab tertebas pedang. Atau yang meneguhkan Bilal bin Rabbah mengucap “Ahad.. Ahad.. Ahad..,” bahkan ketika bebatu besar itu menindih dadanya. Di tengah terik padang pasir.

Atau cinta Anshar pada Allah dan rasulNya yang membuat mereka menitikkan air mata di kandang unta. Cinta Muhajirin pada keduanya yang mendorong mereka meninggalkan harta dan perniagaannya di kampung halaman. Cinta Abu Bakr pada keduanya pula yang meloloskan lidahnya berkata, “Cukup Allah dan rasulNya bagi keluargaku..”

Seperti yang dialami Sa’ad bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, dan sederet sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum, perjalanan menggenggam persaksian bahwa Allah adalah rabb kita memang berat. Bahkan rasul berkata, ia seberat menggenggam bara api. Panas. Namun bila dilepas, terlepas pula diin ini.

Segala coba ini hanya serupa gelitik bagi keimanan mereka. Karena telah nyata gambaran surga bagi mereka. Karena telah tertanam tauhid dalam dada.

Melihat kisah teladan dari generasi terbaik itu, saya kembali berpikir. Masihkah pantas kita menyombongkan diri di hadapan Allah? Ini syariat Allah. Melecehkannya sama juga artinya dengan menghina Allah. Memang, kemuliaanNya tak akan bertambah bila disembah. Tak berkurang bila kita ingkar. Tapi masing-masing memiliki konsekuensinya. Yang beriman dijanjikan surga. Yang ingkar diberi kabar gembira dengan neraka.

Masihkah pantas menyebut diri muslim bila tak ada penyerahan diri pada pencipta semesta alam? Masihkah pantas menyebut diri ahli surga bila sombong masih melekat dalam dada? Ini masalah ketaatan kita pada Allah. Bukan sekedar pelaksanaan ibadah ritual atau implementasi syariat secara parsial.

Kita mengaku bahwa Ia adalah pencipta langit dan bumi. Bahwa Ia adalah pemberi rezeki. Bahwa ialah pemberi pendengaran dan penglihatan; yang menghidupkan dan mematikan; yang mengatur segala urusan. Tapi enggan sekali rasanya kita untuk bertaqwa (QS 10:31). Berbagai tanya seperti ini terus berkelebat. Kita mengaku bahwa Ia adalah dzat mahasempurna. Tapi kita masih enggan mengikuti produk pemikiranNya yang mahasempurna itu. Sayangnya kita masih ingin mencari hakim-hakim lain selain Allah.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman pada apa yang diturunkan padamu dan apa yang diturunkan pada orang-orang sebelum kamu? Mereka hendak berhakim pada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka dengan ksesatan yang sangat jauh. (QS an Nisaa’ 60)

Sekarang, pengingkaran pada thaghut itu dimulai dengan penihilan Allah di ruang publik. Dilanjutkan dengan pengingkaran padaNya di ruang privat. Penolakan terhadap syariat yang bersifat pribadi itu, jabat tangan misalnya, jadi pertanda. Jadi pertanda bahwa kita semakin jauh dariNya, sekaligus jadi pertanda kebenaran firman Allah yang mulia.

Hinaan, barangkali, jadi salah satu senjata.

Dan sungguh telah kami utus pada setiap ummat seorang rasul untuk menyeru supaya menyembah Allah dan menjauhi thaghut. Maka di antara mereka ada yang mengikuti petunjuk Allah, dan di antara mereka ada yang tetap di atas kesesatan. Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan. (QS an Nahl 36)

-RSP-

Iklan
5 comments
  1. abu zenan said:

    Shahih Akhi…. جَزَاك اللهُ خَيْرًا…

  2. deady said:

    orang” itu hanya bisanya menghina.

    *padahal diriku juga sampe saat ini masih susah untuk menahan tidak berjabat tangan dengan tante”ku. -.-*

    • reza said:

      yg penting tetap berusaha, mas.. 🙂 lagipula, orang2 yg kubicarakan di awal tulisan ini begitu tendensius dlm menghadapi masalah ini. terlihat dari tulisan2 mereka. terutama mereka yg aktif di twitter. *oya, tulisan ini bkn utk membela tifatul sembiring secara personal ya. saya punya banyak perbedaan dengannya. tapi ada sisi lain yg perlu diangkat, yg mana, salah satu yg terlibat kebetulan adalah tifatul.

  3. Batu said:

    ya, dalam setiap hal selalu ada pro dan kontra yg terjadi…
    yg kadang dasarnya hanya berupa nalar yg dianggap benar, tanpa mengindahkan aturan2 yg dibuat Allah SWT..
    walahuallam…

    • reza said:

      iya, mas. terkadang saya bertanya. Allah itu penguasa semesta alam. tapi manusia masih saja menyombongkan diri dg menyejajarkan dirinya dg Allah. manusia seringkali mengaku dirinya tempatnya dosa. banyak salahnya. banyak kurangnya. tapi seringkali menganggap produk pemikirannya lebih canggih daripada syariat Allah. mempertimbangkan/menilai syariat Allah cuma dari pemikirannya saja.

      kalo ada yg taat pada aturan Allah, disebutlah bigot, kolot, narrow-minded, dsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: