Serial Negara Sejahtera: Belajar dari Ummat Terdahulu

Syahdan, seorang cerdik cendekia ditanya, “Di negara Islam, kenapa kekerasan terhadap TKI masih tinggi?”

“Itu karena negara yang baik biasanya tak mengerti agama,” jawabnya, lugas. “Negara yang baik hanya mengerti kesejahteraan.”

***

Membacanya, saya seketika meraih mushaf dan membuka surat kedelapan puluh sembilan dalam al Quran. Surat al Fajr namanya. Mari kita simak bersama,

Apakah kamu tidak melihat apa yang rabbmu pada (kaum) ‘Ad? (Penduduk) Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi yang belum pernah diciptakan negeri seperti itu sebelumnya. Dan Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan Fir’aun yang memiliki pasak-pasak yang berbuat sewenang-wenang di negeri itu; maka dia berbuat banyak kerusakan. (QS al Fajr 6-11)

Ayat ini dengan gamblang menyebut ‘Ad yang memiliki bangunan tinggi yang luar biasa megah. Juga Tsamud yang lihai memahat batu hingga jadi istana. Atau Fir’aun yang kuasanya tak kira-kira. Tapi di akhir rangkaian ayat tersebut, Allah menyebut mereka sebagai orang yang banyak berbuat kerusakan.

Kerusakan macam apa yang diperbuat kaum yang berhasil membangun bangunan sedemikian gagah? Ulah seperti apa yang diperbuat ummat yang sanggup memotong bebatu raksasa yang akhirnya berbentuk istana? Fasad berbentuk apa yang hinggap di kaum Fir’aun, padahal mereka punya teknologi untuk membangun menara tinggi untuk melihat rabbnya Musa (QS 28:38)?

Ternyata, jawabnya ada pada nilai-nilai akhirat yang mereka tinggalkan. Kita menyaksikan bagaimana durhakanya ummat Nabi Huud dan Shalih ini dalam menyikapi risalah kenabian. Suatu ketika, mereka menuduh Huud ‘alaihissalam sebagai orang gila sambil mendustakan apa yang beliau bawa (QS 11:54). Kaum yang sama menambahkan, “Engkau tidak mendatangkan pada kami suatu bukti yang nyata,” (QS 11:53) dengan mantap. Padahal, kata Sayyid Quthb dalam Zhilal, tauhid tak memerlukan bukti yang nyata. Ia hanya perlu bangkitnya logika fitrah dan kesadaran nurani.

Yang lain senatiasa kukuh dalam aqidah nenek moyang mereka (QS 11:62). Shalih ‘alaihissalam tak tinggal diam. Ia tunjukkan salah satu pertanda dari Allah, bi idznillah. Diberikan pada mereka unta betina sebagai ujian bagi mereka. Dititipkan, supaya unta tersebut tak diganggu dengan gangguan apa pun. Supaya mereka melihat apa yang terjadi dengan mu’jizat yang Allah turunkan itu.

Sayangnya, sombong menguasai diri mereka. Merasa aman dari adzab, unta itu disembelih. Kali ini, Nabi Shalih tak lagi melayani kekafiran mereka. “Bersenang-senanglah kalian dalam rumah kalian selama tiga hari,” katanya. “Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS 11:65)

Setelah tiga hari berada dalam kesenangan, Allah turunkan guntur yang seketika menewaskan mereka. Allah hancurkan negeri itu, seolah mereka tak pernah tinggal di tempat itu (QS 11:68).

Bagaimana dengan ‘Ad? Ah, mereka telah punah terlebih dahulu sebab badai delapan hari tujuh malam yang menerjang mereka, hingga tubuh mereka serupa “tunggul-tungul pohon kurma yang telah lapuk” (QS 69:6-8).

Secuil peristiwa sejarah ini menunjukkan bahwa peradaban yang sejahtera dan maju tak akan menjamin ia akan selamat. Peradaban yang baik pun pada akhirnya dicap berbuat fasad oleh Allah sebab kemungkaran yang mereka lakukan. Dan adzabNya tertimpa pada mereka karena durhaka-durhaka ini (QS 89:13). Intinya sederhana: apakah negara yang baik menyuapi warganya sambil menanggung risiko kehancuran? Ataukah negara yang baik adalah negara yang menjaga rakyatnya dari siksa dan adzab yang kekal itu?

Bicara tentang kesejahteraan, Qarun, Fir’aun, dan Namrudz jelas tak kalah. Seolah kunci dunia diberikan pada ketiganya. Qarun dengan hartanya yang melimpah, Fir’aun dengan kuasanya yang luas, atau Namrudz yang punya pengikut begitu besar. Dua yang disebut terakhir adalah raja. Tentu hidupnya sejahtera. Sementara yang disebut pertama sudah jelas kita kenal sebagai orang kaya.

Tapi adakah mereka bersyukur dan menjadikannya sebagai ayat Allah yang membawa mereka pada ketaatan? Tidak. Lihat saja akhir kehidupan Fir’aun dan Qarun. Lihat saja dialog antara Namrudz dengan Ibrahim. Dari situ saja, telah tampak mana yang benar dan mana yang batil.

Di masa Umar bin Khaththab, paceklik turun pada mereka. Kelaparan melanda. Krisis tak tertanggungkan. Tapi apakah ini merupakan bentuk hilangnya rahmat Allah dari pemerintahan yang berasas al Quran dan as Sunnah itu? Jelas tidak. Apakah ini pertanda bahwa negara pimpinan Umar adalah negara yang tak baik? Sekali lagi, jelas tidak.

Di masa berbeda, keturunan Umar bin Khaththab yang bernama Umar bin Abdul Aziz berhasil membawa negeri ini ke gerbang kemakmuran. Bahkan diriwayatkan bahwa penduduk di Afrika, batas terjauh kekuasaan Islam saat itu, juga tak mau lagi menerima zakat. Mereka sama bingungnya dengan orang-orang yang tnggal di pusat pemerintahan bagaimana cara menyalurkan zakat; dan terutama, pada siapa zakat itu diberikan.

Maju ke beberapa generasi berikutnya, Harun al Rasyid dikenal mampu memimpin pembaruan keilmuan masyarakat yang berpusat di Baghdad. Peradaban lebih maju disusun. Dengan bentuk pemerintahan berdasar al Quran dan as Sunnah—dengan beberapa kekurangan di sana-sini—sang khalifah sanggup membangun perpustakaan besar bertajuk “Baitul Hikmah”. Dan di masa-masa ini, saya belum melihat Eropa menemui setitik cahaya menuju abad pencerahan.

Dua kondisi bertolak belakang ini bisa menjadi faktor pendukung kesimpulan kita bahwa negara yang baik tidak selalu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya, apa pun bentuknya. Bisa jadi sama-sama menerapkan syariat Islam, tapi memiliki kondisi perekonomian yang berbeda. Hal ini boleh jadi disebabkan oleh wujud ujian Allah pada hamba-hambaNya yang beriman; berupa dicabutnya sedikit bagian kesejahteraan dari mereka.

Maka, ukuran-ukuran dunia ini sebenarnya tak pantas jadi tolok ukur kesuksesan sebuah pemerintahan Islam. Ia harusnya diukur dari tujuan Islam turun ke bumi. Ia pantasnya dilihat dari misi utama para rasul: da’wah tauhid. Sampai-sampai, Allah mengisyaratkan bahwa tanda kemenangan itu telah diraih adalah dengan masuknya orang ke dalam keislaman secara berbondong-bondong (QS 110:1-2). Da’wah para rasul itu bukanlah da’wah kesejahteraan: supaya perut kenyang dan tidurnya nyenyak. Lebih dari itu, tujuannya berorientasi akhirat. Da’wah ini memiliki tujuan yang lebih mengkilat.

Memang, terkadang kesempitan dan kesusahan itu bisa dimaknai sebagai musibah, sebagai adzab. Apalagi bila ada beberapa sosok di tengah-tengah kita—atau jangan-jangan kita sendiri—yang berstatus sebagai orang shalih yang memilih untuk diam ketika melihat kemungkaran. Tak pernah memerah wajahnya saat syariat Allah diinjak-injak.

Tapi, bagi mereka yang beriman, masalah ini layak dikembalikan pada dzon mereka pada Allah. Adakah mereka menganggap ini sebagai ujian, atau musibah? Sebab, seperti yang telah Allah ingatkan dalam sebuah hadis qudsi, “Anaa inda dzonni abdi bii. Aku di sisi persangkaan hambaKu padaKu.”

-RSP-

2 comments
  1. deady said:

    emang masih banyak orang arab yang kudu belajar salafi

    • reza said:

      iya. pemahaman keislaman mereka perlu ditingkatkan. terutama agar mereka bisa membedakan mana yg budak, mana yg buruh. *eh, sebenernya ga cuma orang arab aja sih. kita juga. dan sebenernya bukan cuma pemahaman thd perbudakan aja sih. tauhid juga.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: