Ibnul Qayyim tentang Ma’shiyat

Malam ini, tiba-tiba saja saya teringat kata seorang kawan. “Siksa terbesar bagi para pelaku ma’shiyat,” katanya, “adalah perasaan aman dan biasa saja ketika ia baru saja berbuat ma’shiyat.”

Ternyata kata ini tak hanya terlontar dari lisan kawan saya itu. Tercatat, seorang alim sekelas Ibnul Qayyim al Jauziyah juga menyatakan hal yang sama. Berkata beliau dalam ad Daa’ wad Dawaa’,

Akibat ma’shiyat adalah lunturnya persepsi buruk tentang dosa dalam hati seseorang. Artinya, ia tidak akan merasa bahwa dosa yang ia lakukan adalah perbuatan buruk. Akhirnya, dosa itu jadi kebiasaannya. Meski dicerca, ia tak akan merasakan dirinya terhina.

Perasaan seperti ini merupakan puncak kesenangan dan kenikmatan dari pelaku ma’shiyat. Bahkan ada yang bangga dengan ma’shiyat yang ia lakukan dengan menceritakannya pada orang lain, “Saya telah melakukan ma’shiyat ini dan itu.”

Jenis manusia inilah yang tidak dimaafkan Allah dan jalan serta pintu-pintu menuju taubat tertutup bagi mereka. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semua ummatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang yang terang-terangan berbuat ma’shiyat. Termasuk terang-terangan berbuat ma’shiyat adalah ketika Allah menutupi aibnya, tapi pagi harinya ia membuka aibnya itu sendiri. Ia berkata, ‘Semalam aku melakukan ini dan itu’. Ia telah merobek kehormatannya sendiri, padahal Allah telah menutupnya.”

Di antara dosa yang membuat pelaku dosanya merasa tak berbuat dosa adalah bid’ah, masih menurut Ibnul Qayyim. Beliau menempatkan dosa ini setingkat di bawah perbuatan syirik dalam hal tingkatan godaan syaithan. Artinya, ketika syaithan gagal menggoda manusia menuju perbuatan syirik, ia akan mengajak manusia untuk melakukan bid’ah. Bahkan, syaithan mendahulukan ajakan pada bid’ah dibanding ajakan pada kaba’ir (dosa besar).

Mengapa? Beliau menjelaskan bahwa pelaku bid’ah tidak merasa dirinya melakukan ma’shiyat. Malah, mereka merasa dirinya sedang melakukan kebajikan, tapi mereka tak sadar. Akibatnya, akan semakin sulit bagi mereka untuk diluruskan kembali ke jalan yang benar.

Ibnul Qayyim, masih dalam buku yang sama, menuliskan berbagai siksa bagi para pelaku dosa. Uniknya, siksa ini tak melulu berwujud kesakitan, kesusahan, ataupun neraka. Tapi lebih berfokus pada penyakit hati.

Pertama, ma’shiyat akan menutup hati. Di antara sekian banyak akibat dari kema’shiyatan adalah tertutupnya hati, pendengaran, dan penglihatan. Sehingga, hatinya terkucilkan, qalbunya tersumbat, karena dipenuhi kotoran yang berkarat. Allah kemudian membolak-balikkan hatinya sehingga tidak memiliki pendirian, membuat jarak antara diri dan hatinya. Hatinya akan lupa untuk berdzikir, lupa terhadap dirinya sendiri. Allah tidak berkeinginan untuk membersihkan hatinya.

Ma’shiyat membuat dada seseorang jadi sempit. Hatinya dipalingkan dari kebenaran, menambah penyakit dengan penyakit, dan akan tetap sakit seperti yang diterangkan oleh Imam Ahmad dari Hudzaifah bin Yaman, bahwasanya ia berkata, “Hati itu terbagi jadi empat, yaitu: hati bersih yang memiliki penerang yang menerangi. Itulah hati orang mu’min. Kedua, hati yang tertutup, yaitu hati orang kafir. Ketiga, hati yang terbalik, yaitu hati orang munafiq. Keempat, hati yang memiliki dua unsur di dalamnya, yaitu unsur keimanan dan kemunafiqan, kapan saja salah satu unsurnya yang mendominasi, maka unsur itulah yang menguasai.”

Kemudian, kema’shiyatan menjauhkan seseorang dari ketaatan pada Allah, menjadikan hati jadi tuli dan enggan mendengar kebenaran, membuat seseorang bisu dan enggan membicarakan kebenaran. Jadi, sebenarnya, kebutaan, ketulian, dan kebisuan hati adalah hakikat kecacatan yang sebenarnya. “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (QS 22:46)

Bukan berarti ayat ini menafikan cacat kebutaan fisik, sebab Allah berfirman, “Tidak ada halangan bagi orang buta.” (QS 24:61) dan Allah berfirman, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya.” (QS 80:1-2)

Yang dimaksud adalah bahwa kebutaan sempurna dan sebenarnya adalah kebutaan hati, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang kuat dalam bertarung. Tetapi orang yang kuat adalah orang yan gmampu menguasai hawa nafsunya ketika marah.” Dan sabda beliau, Bukanlah orang miskin itu adalah orang yang meminta sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin adalah orang yang tidak meminta-minta pada orang dan tidak diketahui orang tetapi ia diberi shadaqah.” (HR Muslim)

Kedua, ma’shiyat menyebabkan tenggelamnya hati.  Tenggelamnya hati tak bisa dirasakan oleh pemiliknya. Tanda-tandanya adalah selalu berada pada hal-hal yang hina, rendah, kotor, dan keji. Sebagaimana hati yang derajatnya diangkat oleh Allah akan selalu berada pada kebaikan, kebajikan, hal-hal yang bernilai tinggi, amal, perkataan, dan akhlaq yang terpuji.

Ketiga, ma’shiyat juga berakibat menghapus kebaikan hati atau mengutuk sebagaimana dikutuknya sebuah bentuk fisik makhluq jadi binatang. Akibatnya, hati berubah menjadi hati yang berperilaku seperti binatang. Atas dasar inilah, Sufyan ats Tsauri menafsirkan firman Allah yang berbunyi, “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada dalam bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan ummat-ummat juga seperti kamu. (QS 6:38)

Ia berkata, “Di antara mereka ada yang memiliki perilaku binatang buas, ada juga yang memiliki perilaku seperti perilaku anjing, babi, keledai, atau yang suka menghiasi pakaiannya seperti burung merak, atau yang bodoh seperti keledai, suka mengutamakan oran glain atas dirinya seperti ayam jago, jinak dan penurut seperti burung dara, pendendam seperti unta, baik seperti kambing, serupa serigala atau yang lainnya.

Maraji’: ad Daa’ wad Dawaa’ karya Ibnul Qayyim al Jauziyah

3 comments
  1. deady said:

    bentar bentar za aku bookmark dulu postingan ini ke folder kajian salafi.
    ehm. Punya bukunya Ibnul Qayyim, dek? Ulama keren tuh!

    • reza said:

      punya. memang, beliau keren sekali. amat sangat keren sekali. apalagi taushiyahnya mengenai hati. ngena banget.

      kalo liat buku2 tazkiyatun nafs-nya, sedikit ga percaya bahwa dia muridnya syaikhul islam. gaya nulisnya beda banget..🙂

    • reza said:

      oh iya. tulisan ini cuma menukil beberapa hal saja dlm 3 bab tsb. ada beberapa lainnya yg ga kutampilkan. selengkapnya, silakan merujuk pada buku yg saya tuliskan di situ ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: