Kursi dan Batu

Oleh Ustadz Rahmat Abdullah

Berbahagialah mereka yang tak tahu politik. Berbahagialah mereka yang tak tahu arti kebahagian.  Lebih berbahagialagi mereka yang tahu politik dan mau berpolitik untuk menjinakkan politik. Karirnya menjadi penjinak politik.

Mengapa orang sinis dengan politik ? Barangkali karena kecewa ulah para politisi. Mereka kumpulkan batu-batu untuk menyusun tangga yang akan menyampaikan mereka ke puncak kekuasaan dan memborong seribu kursi perwakilan.

Mereka boleh bersiap jika rakyat yang mereka wakili marah dan mulai melempar batu. Siapa peduli penyelesaian masalah demi masalah yang diwariskan generasi lampau?

Rakyat memang hanya punya satu senjata: protes; dan satu kesempatan: sekarang! Selebihnya urusan para pengambil keputusan.

Si licik tinggal impor terigu dengan jaminan harga diri dan kehormatan bangsa. Yang lebih berbahaya bila kursi di perebutkan dengan kelelahan mendaki tangga-tangga batu telah merobah hati manusianya menjadi batu. Bahkan ada kader partai yang sebelum mendapat kursi hatinya bertukar batu.

Dusta, nifaq, intrik, khianat dan egoisme adalah lelehan najis yang keluar dari hati yang batu. Ditingkah cairan sifat suka menjilat dan rekayasa ayat, lengkap sudah pentas perpolitikan dipenuhi biang laknat.

Batu Ujian

Partai anda partai orang-orang bersih? Tidak ada jaminan pribadi otomatis baik.

Klaim dan imitasi adalah sifat khas ahli kitab sepanjang masa yang diotaknya terpola satu pemikiran “takkan masuk surga kecuali Yahudi atau Nashrani’ (Q.S Al Baqarah : 111). Silahkan masuk lewat pintu Yahudi atau Nashrani. Pintu Islam hanya terbuka bagi mereka yang, “…menyerahkan dirinya kepada Allah seraya terus ihsan, maka ia berhak mendapatkan ganjaran di sisi Rabbnya, tiada mereka dapatkan kesedihan”. (Q.S Al Baqarah : 112)

Kalau ada kanker yang menggerogoti agama-agama, maka diantaranya bisa berbentuk umat yang hanya berbangga dengan status, tak peduli dengan nilai dan kualitas, lalu menjadikan simbol status itu sebagai gincu saja atau alat justifikasi kezaliman.

Era dakwah kelembagaan yang mengambil bentuk parpol adalah era setiap orang berpacu dan bergiat dalam kendaraan kolektifnya, dan segala kreasi besar, walau sekecil apapun langkah yang bisa diayunkan dan huruf-huruf sejarah yang bisa dipahatnya.

Bila popularitas yang dipanen hari ini adalah sebagai buah dari benih yang ditanam hari ini juga, maka genap sudah kedunguan Yahudi dalam diri sang aktivis, tepatnya sang parasit. Yang malas kembali ke surau-surau dan gubuk-gubuk untuk mengeja kata pesan suci yang telah membesarkan komunitas ini. Yang lebih bernafsu mendeklamasikan do’a dengan suara menggeram, memaksa orang menangis di siang terang, lalu ia sendiri tertidur mendengkur sampai pagi melewati malam-malam, tanpa sujud, tanpa do’a, tanpa rintihan.

Perutnya kenyang dengan jamuan pertemuan, sementara gelap malam telah melindunginya dari penilai dungu yang mengira betapa panjang tahajudnya, betapa lirihnya do’anya, betapa bening hatinya. Ia resah menpertahankan identitas dakwahnya, gelisah dan ingin cepat-cepat kembali ke gita cinta SMA, lalu menginginkan rapat-rapatnya benar-benar rapat laki-laki dan perempuan, bergurau bebas, berbaur lepas.

Lepas dari norma-norma santrinya. Yang meluncur dengan panji-panji politik yang tak bisa dipenuhinya, si pandir yang menggunakan forum walimah dan bakti sosial untuk mendikte orang lain menerima partainya “yang paling hebat”, tanpa melihat bibir mereka yang mencibir mengejek jamaahnya. Yang mulai grogi seraya mencari celah berlari ketika satu bunga Al-Qur’an gugur sebagai syahid da’wah.

Ingatlah, Musa pun pernah ngeri melihat tantangan besar di hadapannya, namun ia tak larut dalam perasaan takut yang manusiawi namun tidak imani itu.

Batu Sendi Kader

Sesungguhnya nama harum harimu dibangun di atas fakta-fakta yang berakar dalam ke masa lalu, ketika dakwah ini bermula; di gubug-gubug gang sempit lahirnya.

Berpeluh di kendaraan umum dalam rute-rute panjang aktivitasnya.

Menapak jalan-jalan kota dan desa. Nyaris tanpa sepatu kadernya.

Mengorbankan nikmat tidur dengan pulang larut pagi.

Jauh dari hingar bingar massa yang menyambut dengan gegap gempita.

Lapar dan haus jadi kata asing untuk dieja dalam entri kamusnya, karena telah berganti dengan kesenangan menghirup sepuas hati telaga al Qur’an.

Dan dalam kerja, semboyan ini meningkat gelora jiwanya menepiskan semua pengandalan status dan nama besar: “siapa yang lamban amalnya, tak dapat di percepat oleh nasabnya”.

***

sumber

Iklan
2 comments
  1. salamu’alaykum akhiy, numpang baca-baca yoooo…. bte, nice blog. tetap menulis.

    ttd,
    kaa

    • reza said:

      wa’alaikum salam

      monggo, akh azzam. insya Allah tetap menulis. mohon doa, kritik, dan saran ya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: