Menimbang Poligami

Mungkin memang begitu hirarki para pembelajar. Mereka memungut data dari pelaku. Mereka menulis berita dari saksi mata. Serta mengambil pelajaran dari ahli ilmu. Semua terangkum jadi begini: para pembelajar meraup hikmah dari para pendahulu.

Kisah ini dimulai saat jahiliyah masih mencengkeram bumi. Paras jelita yang mengiringi akhlaq menawan dan kecerdasan di atas rata-rata membuat Malik bin Nadhar mempersunting wanita dari kaum Khazraj ini. Singkat cerita,dilaksanakanlah pernikahan. Dan dari rahim wanita shalihah ini, Ummu Sulaim binti Milhan, lahir seorang putera yang kelak mewarnai sejarah Islam: Anas bin Malik.

Pelajaran cinta kita dapati darinya. Kedatangan cahaya nubuwwah membuat mereka yang beriman harus memilih: iman atau kafir. Ummu Sulaim memilih yang pertama. Tapi tak begitu halnya dengan Malik.

Maka penuh murka ia berkata, “Benarkah kau telah murtad dari agamamu?”

“Tidak,” jawab Ummu Sulaim, dengan suara yang dikuat-kuatkan. “Bahkan aku telah
beriman..”

Maka berulang ia mengucap kalimat syahadat. Supaya teguh iman dalam hatinya. Mendengarnya, Malik bin Nadhar semakin panas. Sebab tak tahan, ia akhirnya bersumpah akan pergi dari rumah dan tak akan kembali sampai isterinya kembali pada agamanya yang dulu.

Tragisnya, dalam perjalanan-entah-ke-mananya itu, ia bertemu dengan musuh. Dan terbunuh dalam insiden itu. Ia meninggal tanpa menyisakan keimanan sedikit pun dalam dirinya.

Sungguh sakit meninggalkan mereka yang dicinta demi agama ini di masa awal. Ditinggalkan oleh suami, apalagi sang suami meninggal dalam kekafiran, tanpa bekal fisik dan ruhani apa pun ditambah tanggungan seorang putera jelas bukan perkara mudah. Masa depan tak jelas nyaris jadi sebuah kepastian. Serupa dengan Abu Bakr yang harus menghadapi puteranya sendiri, Abdurrahman, di perang Badar. Nyaris sama dengan Rasul yang menghadapi pamannya sendiri, Abu Sufyan, di medan yang sama. Seperti Abdurrahman bin Auf yang meninggalkan harta melimpahnya demi hijrah. Sungguh sulit, tapi memang itu ujiannya.

Tak ada jaminan keselamatan dan kesejahteraan dari rasul saat itu, kecuali jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Itu pun baru sebatas janji. Surga tak tampak oleh mata. Tak dapat ditangkap oleh indera lainnya. Titel “al Amin”lah—dan akhlaq mulia Rasul seperti yang dikisahkan Abu Sufyan saat berhadapan dengan Najasyi di Habasyah—yang membuat sebagian besar masyarakat saat itu memilih untuk mempercayai kata-kata Rasul.

Tapi itulah orang yang beriman. Mereka lebih memilih menundukkan diri dan memupuk sifat sabar ketimbang menentang syariat Allah. Maka tak ada balasan mereka yang sabar selain jaminan surga dari rabb mereka (QS 25:75).

***

Kisah lain ditampilkan isteri Julaibib. Julaibib, yang pendek, dekil, dan faqir itu, jelas tak punya banyak pilihan untuk menikah. Ditambah lagi, ia menanggung aib terbesar dalam kehidupan Arab zaman dahulu, seperti diungkap oleh Philip Hitti dalam History of the Arabs: tak jelas nasabnya. Tapi kedekatannya dengan Rasul menumbuhkan perhatian lebih dari sang Nabi. Mari sejenak simak kisahnya, yang dilampirkan oleh Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran berikut.

Suatu hari, Rasul bertanya, “Yaa Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

“Yaa Rasulallah,” jawab Julaibib, sederhana, “siapakah yang hendak menikahkan puterinya denganku?”

Pertanyaan itu diulang tiga kali. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai terakhir kali, Rasul menggamit tangannya, dan mengajaknya menuju rumah keluarga Abu Barzah al Aslami. Terang saja tuan rumah terkaget bahagia. Dikiranya, Rasul melamar puteri mereka untuk dirinya. Tapi rasa bahagia itu cuma terselip sesaat saja setelah mengetahui bahwa lamaran itu ditujukan untuk Julaibib. Bukan untuk Rasul sendiri. Maka Abu Barzah mohon izin untuk bertanya pada isterinya dahulu.

Terang saja ragu hinggap dalam hati keluarga itu. Bagaimana mungkin mereka tega menikahkan puterinya dengan seorang faqir, tak tampan, dan tak jelas nasabnya itu? “Tidak! Wallahi, jadi Rasulullah hanya menemukan Julaibib bagi jodoh anak kita?” kata sang ibu. “Padahal, kita sebelumnya menolak lamaran Fulan dan Fulan.”

Mengetahui kegelisahan orang tuanya, sang gadis akhirnya menghadap kedua orang tuanya. “Apakah ayah dan ibu,” katanya, “hendak menolak perintah Rasulullah?”

Keduanya terkaget. Belum lepas kejut itu dari diri mereka, shahabiyah nan shalihah ini kemudian membaca sebuah ayat dari al Quran.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. (QS Al Ahzab 36)

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menyandingkan kisah Julaibib ini dengan sejarah pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma. Kisahnya serupa. Zainab sempat menolak perintah Rasul untuk menikah dengan Zaid yang bukan bangsawan itu. Maka, turunlah ayat ini.

Di sini, lagi-lagi kita menyaksikan keteguhan sekaligus kesabaran khas para mu’minin. Mereka menundukkan cinta dan benci mereka karena Allah. Cinta mereka pada manusia telah tersandar pada cinta mereka pada Allah. Maka perintah apa pun yang turun pada mereka, termasuk perintah untuk menikah, dengan sigap mereka laksanakan, meski semula hati berat menerimanya.

Ibnu Katsir juga mengaitkan ayat ini pada permasalahan yang lebih serius: eksistensi keimanan. Beliau menuliskan sebuah ayat yang terkait dengan ayat yang tersebut sebelumnya.

Maka demi rabbmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa berat terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS an Nisaa’ 65)

Kaum yang beriman telah menyerahkan diri mereka seutuhnya pada Allah. Segenap pengorbanan, seperti yang jamak kita temui dari para sahabat rasul yang mulia, berulang kali diberikan. Tujuannya satu: mengharap ridha Allah.

“Maka saat itulah jiwa-jiwa mereka ridha dengan apa pun yang datang dari Allah,” kata Sayyid Quthb, dalam Zhilal. “Mereka menerima qadar Allah dengan kesadaran yang tenang, meyakinkan, dan tenteram. Hingga, perlahan mereka tak lagi merasakan pahitnya kejadian yang tiba-tiba dan kejutan yang menimpa mereka dari qadar Allah itu. Mereka tak lagi berkeluh kesah dan merana karena hal itu dapat diatasi dengan prasangka baik mereka pada Allah. Dan mereka tak lagi merasakan pedih sebab kesabaran mereka,” lanjutnya.

***

Penerimaan terhadap syariat, termasuk dalam hal pernikahan, apalagi poligami, jadi hal yang begitu sulit dilakukan. Ini terjadi sebab, seperti kata seorang ibu melalui akun twitternya, “berat bagi wanita, karena terkait perasaan. Berat bagi pria, karena ia harus menghidupi dua keluarga sekaligus.”

Memang, kalau bicara masalah perasaan, sepertinya kita tak akan menemukan titik temu. Sebab ia bukanlah hal yang matematis, yang selalu sama bagi semua pihak. Ia pun punya begitu banyak variabel. Gejolak seperti ini dirasakan pula oleh para shahabiyah yang shalihah itu.

Salah seorang ummahatul mu’minin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahkan sempat membanting piring hidangan buatan Shafiyah yang Nabi sajikan buat para tamu. Mengapa? Karena cemburu! Sepertinya berat rasanya menjadi salah satu dari sembilan isteri nabi. Tapi tak lantas beliau menolak syariat poligami. Lagi-lagi pertanyaannya; mengapa? Puluhan alasan bisa diajukan. Tapi saya ingin memberikan salah satunya sebagai bahan pertimbangan: sebab ia adalah wujud ketaatan isteri nabi terhadap syariat Allah; sebab ada janji surga di dalamnya.

Batin kita lantas berontak. Apa Allah sengaja sisipkan sesak dalam hati hambaNya? Apa Allah memang menghendaki tangis tertumpah dari manusia? Apa Allah memang menghendaki darah mengalir demi kepentinganNya?

Mungkin kita perlu mengubah sudut pandang. Mari gunakan kacamata husnuzhon—terutama pada Allah—dalam menyikapi masalah ini. Khansa’ binti Amr radhiyallahu ‘anha, ibu nan shalihah itu, telah mengajarkannya pada kita ketika medan Qadisiyah menjadi saksi syahidnya empat puteranya. Tanpa ragu, ia sambut kabar itu dengan ucap, “Alhamdulillah, yang telah memuliakanku dengan syahidnya putera-puteraku..”

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu lebih heroik. Tujuh puluh sembilan luka sayat pedang, tusukan tombak, dan hujan anak panah menghias tubuhnya. Sebaris jemarinya terputus. Darahnya tersembur ke segala arah. Itu harga yang dibayar saat ia memutuskan tetap bertahan jadi benteng terakhir Rasul di perang Uhud. Keluhkah yang keluar dari lisan Thalhah? Tidak! Ia bersabar hingga Rasul menyebutnya syahidul hayy; hingga Rasul menyebutnya sebagai syahid yang berjalan di muka bumi.

Generasi pendahulu kita nan shalih itu mengerti betul makna dari kalimat Rasul yang dikisahkan melalui Abu Said al Khudri berikut,

Tak ada satu kepedihan, keletihan, penyakit, atau kesedihan hingga perasaan keluh-kesah yang menimpa seorang muslim kecuali dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari kesalahannya. (HR Muslim)

Mereka memahami bahwa segenap pengorbanan itu perlu—apalagi di jalan Allah—guna menjadikan mereka berada dalam ridho Allah ta’ala. Ni’mat surga itu terlalu mahal buat kita beli. Bayangkan saja: dipan-dipan tempat bertelekan bidadari bak yaqut dan marjan jadi tempat istirahat; di lembahnya, air mengalir di sungai tiada henti; belum lagi sejuk tegukan penghapus dahaga nan lebih lembut dari susu serta lebih manis dari madu; dan yang terutama, penghuni surga mampu mendapat keni’matan tertinggi nantinya: melihat wajah Allah. Maka benarlah Rasul yang berkata bahwa semata karena rahmat Allah-lah, kita bisa berada di sana.

Singkatnya begini: Bukan tanpa maksud Allah gariskan para penghuni surga untuk berpayah-payah menimba amal shalih di dunia, termasuk bersabar atas ketetapanNya. Tak pernah sia-sia Allah syaratkan sabar atas goncang cobaan dariNya untuk memasukinya (QS2:214). Jelas ada arti tersembunyi saat Allah menanti harta tercinta yang hambaNya infaqkan di jalanNya (QS 3:92). Ia meminta bukti ketaatan hamba-hambaNya, seperti nyata tertulis dalam kitabNya yang mulia,

Apa kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang yang bersabar. (QS Ali Imran 142)

Mungkin harus diakui, poligami itu sulit, terutama bagi pihak wanita. Tapi uniknya, justru darinyalah potensi kebaikan bisa dipetik, terutama dalam hal keadilan dan kesabaran. Apalagi bila kedua belah pihak—suami maupun isteri—menghiasi dirinya dengan perannya masing-masing. Begitulah Allah gariskan ujian bagi mereka yang menginginkan surga. Ia dikelilingi hal yang dibenci syahwat. Sedang neraka sangat dekat dengan apa yang disukai syahwat.

Surga itu dikelilingi hal-hal yang dibenci, sedang neraka dikelilingi hal-hal yang disukai syahwat. (HR Bukhari)

***

Rangkaian kisah yang baru kita simak tadi membawa kita pada beberapa premis dalam satu paragraf berikut: poligami itu sulit, terutama bagi pihak wanita. Tapi justru darinyalah peluang meraih ni’mat surga dimanfaatkan. Apalagi bila kedua belah pihak—suami maupun isteri—menghiasi dirinya dengan perannya masing-masing. Suami memenuhi kewajibannya, sedang isteri senatiasa belajar untuk bersabar.

Kemudian, kita lihat bahwa Allah memberikan satu syarat dalam syariat itu: keadilan. Lantas, di mana keadilan itu? Bukankah Allah telah memperingatkan, “Jika kamu khawatir tidak dapat berbuat adil, maka nikahi seorang saja atau budak yang kamu miliki” (QS 4:3)?

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isterimu walaupun kamu sangat menginginkannya. Maka janganlah kamu terlalu cenderung pada yang satu sehingga kamu membiarkan yang lainnya. Jika kamu berlaku baik dan memelihara diri, maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS an Nisaa’ 129)

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya yang diringkas oleh Syaikh Muhammad Nasib ar Rifa’i, berkata, “Firman Allah ini berarti bahwa manusia tidak akan dapat berlaku secara sama terhadap isteri-isterinya dalam segala hal. Walaupun secara lahir ia sama, misalnya dalam hal giliran, pastilah hal itu mengandung perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’.” Tertuliskan di sana, Ibnu Katsir menisbatkan penafsiran ini pada Ibnu Abbas dan sejumlah tabi’in.

Sementara Ibnu Abi Hatim berkata, “Ayat ini diturunkan sehubungan dengan Aisyah; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mencintainya dibanding isteri lainnya (yang hidup semasa). Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah, bahwa Rasul bersabda,

Yaa Allah, inilah pembagian terhadap apa yang kumiliki, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki dan tak kumiliki. (HR Ahmad)

Tentang hal yang Allah miliki dan Rasul tak miliki, Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah hati.”

Maka, secara singkat, yang dimaksud adil yang disyariatkan oleh Allah mengenai hal ini adalah untuk masalah fisik, yang tangible. Sedang masalah hati, Rasul, sosok manusia paling adil pun mengisyaratkan bahwa ia, mau tak mau, memiliki kecenderungan tertentu pada salah satu isteri.

Satu hal lagi yang perlu kita cermati. Poligami bukan perkara wajib, terlebih poligami yang dilakukan Rasul. Hukumnya, secara umum, lebih sering kasuistik. Syaikh Abdul Wahhab Khallaf pernah mengajarkan pada kita, dalam Ilmu Ushul Fiqh, bahwa ternyata tak semua perbuatan Nabi bisa dimaknai sebagai syariat.

Pertanyaannya: mengapa? Pertama, sebab Nabi juga manusia. Ia juga melakukan perbuatan-perbuatan manusiawi. Dan perbuatan manusiawi ini tentu tak bisa jadi dasar hukum. Perbuatan beliau sebagai Rasul-lah yang kemudian jadi pembentuk atau sebab dari hukum tersebut.

Selain perbuatan yang bersifat manusiawi, Rasul beberapa kali juga pernah didapati mengutarakan pendapat yang bersifat manusiawi. Tentu kita ingat bagaimana diskusi Rasul bersama sahabat menjelang Uhud atau Khandaq. Di sana, usulan sahabat yang absen di Badar dan sumbang pikir dari Salman al Farisi-lah yang jadi keputusan akhir. Juga, saat Rasul memberikan isyarat saran pengembangbiakan tanaman kurma. Dari peristiwa terakhir ini, bersabdalah beliau, “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum. Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”

Kedua, ada beberapa hal, beberapa syariat yang dikhususkan hanya pada Nabi dengan qarinah atau penanda tertentu, termasuk poligami. Nabi memang beristeri lebih dari empat wanita. Tapi segenap muslim tak diperkenankan mengikuti perbuatan Nabi tersebut. Mengapa? Sebab ada dalil syar’i yang menunjukkan kekhususan hal ini bagi Nabi. Hal ini disimpulkan dari firman Allah berikut,

Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. (QS an Nisaa’ 3)

Lantas, apakah berarti Nabi menyalahi batasan dalam al Quran? Tidak. Sebab, kita kembali pada aturan yang telah ditetapkan ulama ushul fiqh itu. Ada syariat yang dikhususkan hanya pada Nabi, dan ada pula yang berlaku umum. Penanda lainnya adalah dengan tidak adanya teguran langsung dari Allah. Padahal, kita tahu, sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh para nabi, teguran dari Allah begitu keras. Seperti teguranNya pada Nabi Yunus yang geram pada kaumnya, semisal peringatanNya pada Rasul yang lalai mengucap “insya Allah”, atau serupa koreksi Allah atas sikap Rasul dengan turunnya sepuluh ayat pertama surat Abasa.

***

Dari kisah di atas, kita belajar mendudukkan cinta dan benci kita karena Allah. Bagaimana keduanya harus tunduk di hadapan ketentuanNya. MematuhiNya memang berat. Seberat Ummu Sulaim merelakan kepergian suaminya, atau bersabar saat puteranya dari pernikahannya dengan Abu Thalhah meninggal dunia. Sesulit keputusan puteri Abi Barzah saat memilih Julaibib. Seperih luka Thalhah bin Ubaidillah di medan Uhud. Atau semisal Khansa’ yang menyaksikan puteranya syahid sekaligus.

Namun jangan sampai perih dan sesak yang kita rasakan karena sebuah syariat membuat kita mengharamkannya. Sebab ada janji surga bagi mereka yang senatiasa bersabar. Selain itu, tentu kita berpijak pada sebuah fakta bahwa Allah begitu membenci mereka yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, atau sebaliknya. Kita tahu, segenap mufasir bersuara sama dalam mengomentari surat at Taubah ayat 31.

Maka, poin pentingnya ada di sini: pertama, poligami bukan tindak kriminal. Ia halal, meski tak memiliki status wajib. Ia disyariatkan dalam al Quran dan karenanya, ia tentu mendapat ridho dari Allah. Kedua, makna keadilan dalam poligami ternyata tak bisa kita gunakan dengan standar yang sama dengan makna keadilan yang umum. Ia memiliki sisi khusus yang perlu dicermati. Ketiga, bila tak berkenan mengamalkan poligami, tak masalah. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai kita terjebak—sebagaimana yang dilakukan oleh rahib-pendeta Yahudi dan Nasrani—seperti yang telah Allah peringatkan dalam surat kesembilan, ayat ketiga puluh satu itu.

-RSP-

Iklan
10 comments
  1. polgami… poligami,,, masalah yang penuh tanya…

    • reza said:

      betul. dan jadi rumit bila tidak disikapi dg bijak dan sesuai dg apa yg Allah sebutkan dalam kitabNya dan petunjuk nabiNya. semoga Allah senatiasa beri kita petunjuk pada jalan yg lurus. 🙂

  2. perlu banyak pembelajaran about poligami jika kita memang emmilih tuk berpoligamui
    salam hangat dari blue

    • reza said:

      betul, mas blue yg shalih. salam hangat pula dari saya. 🙂

  3. Untuk kesimpulan kedua, bisakah diterangkan?

    “Kedua, makna keadilan dalam poligami ternyata tak bisa kita gunakan dengan standar yang sama dengan makna keadilan yang umum. Ia memiliki sisi khusus yang perlu dicermati.”

  4. reza said:

    keadilan versi umum: pokoknya semua harus dapat perlakuan sama.

    keadilan versi pinter: tiap orang mendapat porsi yg sesuai dg kebutuhan masing2.

    keadilan versi poligami: sebatas adil/seimbang dlm hal fisik saja. hal ini dijelaskan dlm tafsir yg saya kutip dlm paragraf berikut,

    “Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir, dalam tafsirnya yang diringkas oleh Syaikh Muhammad Nasib ar Rifa’i, berkata, “Firman Allah ini berarti bahwa manusia tidak akan dapat berlaku secara sama terhadap isteri-isterinya dalam segala hal. Walaupun secara lahir ia sama, misalnya dalam hal giliran, pastilah hal itu mengandung perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’.” Tertuliskan di sana, Ibnu Katsir menisbatkan penafsiran ini pada Ibnu Abbas dan sejumlah tabi’in.

    Sementara Ibnu Abi Hatim berkata, “Ayat ini diturunkan sehubungan dengan Aisyah; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mencintainya dibanding isteri lainnya (yang hidup semasa). Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Aisyah, bahwa Rasul bersabda,

    Yaa Allah, inilah pembagian terhadap apa yang kumiliki, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki dan tak kumiliki. (HR Ahmad)

    Tentang hal yang Allah miliki dan Rasul tak miliki, Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah hati.”

    Maka, secara singkat, yang dimaksud adil yang disyariatkan oleh Allah mengenai hal ini adalah untuk masalah fisik, yang tangible. Sedang masalah hati, Rasul, sosok manusia paling adil pun mengisyaratkan bahwa ia, mau tak mau, memiliki kecenderungan tertentu pada salah satu isteri”

    adil, makna asal dan muthlaqnya adl seimbang dlm segala hal. namun, dlm hal ini, ada pengkhususan atau treatment yg berbeda krn ada (kalo pake bahasa ushul fiqh) qayyid yg menunjukkan demikian. salah satunya adl adanya penjelasan dari ulama tafsir dan hadis2 yg terkait dg hal tersebut. maka, kata “adil” dlm masalah poligami sudah berubah makna jadi muqayyad.

  5. dsm said:

    wah, lama tak berkunjung kesini, eh ternyata sudah banyak perubahan..

    sekarang tampilannya lebih ramah, za.. plus ada gambarnya pula. mantap lah!

    • reza said:

      alhamdulillah.. iya mas. saran dari beberapa teman blogger. blog mas dirga mana nih? 🙂

  6. Assalamu’alaikum..
    Salam kenal.. Sebelumnya saya juga pernah posting masalah poligami d twitter krn ada salah 1 akun yg mention saya menanyakan masalah ini. Saya pribadi, menilai poligami adlah hal yang di perbolehkan oleh Allah SWT. Namun saya lebih menilai poligami dari sisi pribadi. Jika hal ini terjadi pada saya, yang ingin saya panjatkan kepada Allah SWT hanyalah “agar diri ini dihindarkan dari apa2 yang membuat hidup ini sia2”.
    Dengan kata lain, hanya ingin mendapatkan keikhlasan diri agar hidup tidak penuh dengan penyakit hati yang mungkin akan timbul jika dalam keadaan di poligami.
    Saya yakin, yang terjadi adalah seizin Allah SWT. Karena itu, panjatkanlah doa untuk dapat menerimanya dengan ikhlas seizin Allah SWT jua.
    Walau karena pendapat ini jua say sempat di doakan oleh bbrp akun ditwitter agar d poligami dan bahkan ada yg sampai menghujat saya sbg perempuan bodoh. Tapi biarkanlah. Yang saya yakini dalam perjalan hidup ini adalah, “Apakah kita ingin mencapai kemuliaan atau kehinaan”. Saya juga yakin, Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah “yang manusia hanya kita, orangtua, anak, saudara, harta, dan sekeliling kita hanyalah alat kita untuk bisa menentukan hidup kita, Apakah hubungan kita dengan Allah ingin mulia atau hina? Pintar2lah kita untuk menyikapi kehidupan ini”.
    Lebih kurangnya saya mohon maaf..
    Terima kasih.. Wassalamu’alaikum…

    • reza said:

      wa’alaikumussalam.

      memang pada dasarnya, poligami ini adl pilihan bu. bisa jadi ladang pahala, seperti amal shalih lainnya, bila disikapi dg ideal, seperti yg ibu katakan tadi. semoga sikap ridho kita yg seperti ini, meski kita sendiri belum mengamalkan dan lulus ujian tsb, telah Allah nilai sbg amal shalih yg memberatkan timbangan kita di akhirat kelak.

      kemudian Allah juga berfirman, “dan tidak pantas bagi mu’min dan mu’minah apabila Allah dan rasulNya telah menetapkan sesuatu dari sebuah urusan, kemudian mereka mencari pilihan lain dari urusannya itu.” (QS 33:36)

      dan tentu kita tak ingin menyebut Zainab dan istri Julaibib sebagai orang bodoh yg mau menuruti saran rasul utk menikahi Zaid bin Haritsah dan Julaibib. biarlah, bu, kita disebut bodoh oleh orang2 kafir dan munafiq, sebab memang salah 1 karakteristik mereka adl menginginkan berhukum dg selain hukum Allah (QS 4:60) dan selalu mencoba menghalang2i hukumNya tegak di muka bumi dg luar biasa keras (QS 4:61).

      maka, ridho Allah lah yg kita harapkan. sama sekali kita tak mengharapkan balasan maupun ucapan terima kasih dari manusia (QS al insaan 8-9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: