Serial Negara Sejahtera (3): Teori Politik Maududi

 

Menyusun kerangka berpikir dalam memahami Islam sebagai diin, sebagai sistem hidup, ternyata memang bukan perkara mudah; apalagi bila kita menakar Islam sebagai ideologi yang memiliki ciri khas yang mampu berdiri secaramandiri; tak tercampur dengan diin lain. Dan karenanya, usaha menyajikan kerangka tersebut supaya mudah dipahami pada orang lain juga punya kerumitan tersendiri.

Karena alasan itu, saya tak ingin menumpuk tanggung jawab elaborasi pada pundak saya sendiri. Saya juga ingin pembaca yang mengikuti serial ini menggali lebih dalam dengan inisiatif masing-masing. Sebab, seperti halnya proses belajar yang lain, proses penggalian mandiri itu harus didasari oleh rasa cinta pada ilmu. Dan rasa cinta pada ilmu itulah yang insya Allah akan mempermudah proses penyusunan kerangka berpikir tersebut.

Untuk itu, saya memutuskan turut mem-post beberapa tulisan orang lain–baik panjang maupun pendek–yang mendukung proses penyusunan kerangka berpikir tersebut di sini, siapa pun penulisnya. Tujuannya, pertama, supaya kita lebih bersemangat menggali pemikiran orang-orang yang tulisannya saya “promosikan” di sini. Yang pada akhirnya akan menambah minat kita untuk membaca lebih dalam pandangan-pandangan mereka. Kedua, supaya kita lebih terlatih meneliti dan menyeleksi mana pemikiran yang selaras dengan al Quran dan as Sunnah, dan mana yang harusnya ditinggalkan. Ketiga, supaya sudut pandang kita makin luas dalam memahami permasalahan. Harapannya, kita bisa makin bijak menilai sebuah problem.

Kali ini, saya mencoba mengangkat pandangan Amien Rais yang kemudian dijadikan sebagai pengantar buku al Khilafah wal Mulk edisi Indonesia. Teksnya saya ambil dari buku terbitan Mizan cetakan pertama. Mengingat panjangnya tulisan tersebut, saya memutuskan untuk memecah tulisan itu menjadi empat dengan judul Teori Politik Maududi, Beberapa Prinsip Teori Politik Islam, Tujuan Negara Menurut Islam, dan Arti Sistem Khilafah–susunan yang sama dengan subjudul dalam kata pengantar buku tersebut.

Dalam tulisan ini, barangkali pembaca akan terkejut melihat “sisi lain” dari Amien Rais, tokoh yang mungkin baru kita kenal setelah ia menduduki kursi Ketua Umum Muhammadiyah, atau ketika ia mejadi salah satu motor reformasi 1998. Sama seperti yang saya rasakan; kaget bahwa Amien Rais yang sempat menjabat sebagai Ketua MPR itu ternyata punya pandangan begitu radikal mengenai konsep pemerintahan dan kedaulatan.

Singkat saja, saya mengucapkan selamat membaca bagi antum sekalian. Semoga hanya barakah dan manfaat yang terpetik dari tulisan-tulisan dalam serial ini.

***

Pada dasarnya, buku yang ada di tangan pembaca ini adalah uraian Maududi tentang teori politik Islam yang sangat mengecam sistem kerajaan karena sistem kerajaan atau monarki memang tak memiliki tempat dalam Islam. Meminjam istilah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Maududi mengingatkan bahwa seluruh kerajaan pasti memaksakan ditaatinya kekuasaan secara turun-temurun. Dan karena itu pula, kerajaan itu menjadi mulkan adhon, atau “kerajaan yang menggigit”, yakni kerajaan menindas dan merampas hak rakyat di bidang politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya. Di zaman dahulu maupun modern, tiap kerajaan pada hakikatnya selalu menggigit rakyatnya, termasuk misalnya Kerajaan Arab Saudi yang oleh banyak orang disalahartikan sebagai penerapan ajaran Islam.

Lewat kata pengantar pendek ini kita dapat mengemukakan teori politik Islam Maududi secara sangat elementer agar dapat melengkapi gagasan-gagasannya yang telah dituangkan dalam buku ini, yang terutama sekali mengingatkan kita, kaum muslimin, bahwa kejatuhan politik ummat Islam dimulai sejak ditinggalkannya sistem khilafah dan dipakainya sistem mulk atau sistem kerajaan.

Barangkali, Maududi adalah pemikir Islam yang sangat tajam dalam mengemukakan analisis mengenai faktor kejatuhan politik ummat Islam di muka bumi ini sembari menunjukkan cara-cara merebut kembali kepemimpinan politik ummat Islam di dunia internasional. Bagi Maududi, sistem monarki adalah malapetaka paling besar dan paling tragis yang meimpa kaum muslimin di dunia. Buku ini menyiratkan pesan bahwa kerajaan-kerajaan yang masih saja terus berlangsung di dunia Islam sesungguhnya tidak memiliki legitimasi dan sangat tepat bila kerajaan ataupun sistem emirat dihilangkan sama sekali.

Bagaimanakah teori politik Islam yang telah dikembangkan oleh Maududi? Teori politik Islam itu sudah dituangkan Maududi dalam salah satu bukunya yang juga sangat terkenal, yaitu Islamic Law and Constitution. Untuk mengenalkan isi buku ini pada para pembaca, ada baiknya saya uraikan pokok-pokoknya agar, sekali lagi, dapat menjadi pelengkap buku al Khilafah wal Mulk yang ada di hadapan pembaca sekarang ini.

Menurut Maududi, asas terpenting dalam Islam adalah tauhid. Dan seluruh nabi serta rasul Allah memiliki tugas pokok untuk mengajarkan tauhid pada seluruh ummat manusia. Sekilas, tugas menanamkan tauhid pad ummat manusia cukup mudah dan sederhana. Akan tetapi, bila diingat bagaimana para musuh orang-orang beriman menentang tauhid itu dengan segala macam jalan, maka akan sadarlah kita bahwa doktrin yang terkandung dalam ajaran tauhid itu sangat revolusioner dan memiliki implikasi sangat jauh dalam mengubah tata sosial, politik, dan ekonomi yang tidak bersendikan tauhid tersebut.

Jadi, tidak aneh apabila kita melihat sejak dulu, terlalu banyak orang yang menetang doktrin sosial dan politik yang bersumber pada tauhid. Ini karena doktrin revolusioner yang bersumberkan tauhid itu selalu menentang penindasan, tirani, dan pelestarian vested interests yang tidak adil.

Ajaran tauhid itu sendiri sangat sederhana, yaitu, “Tidak ada ilaah selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah”. Tapi seandainya deklarasi “Tidak ada ilaah selain Allah” berarti bahwa seorang manusia mengesakan Allah dan menyembahNya hanya di tempat ibadah dan kemudian manusia itu memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa saja di luar tempat ibadah dan menghamba pada kekuasaan selain Allah, mkaa alangkah bodohnya para penguasa di berbagai negara yang harus mengerahkan kekuatan dan siasatnya untuk menentang tauhid. Memang, dalam kenyataannya, ada pertentangan besar antara para rasul pembawa tauhid dengan lawan-lawan mereka.

Masalah pokok yang menjadi pertentangan besar antara para nabi dan rasul dengan lawan-lawan mereka bukanlah terletak pada pengingkaran musuh-musuh nabi dan rasul itu terhadap wujud atau eksistensi tuhan karena kebanyakan manusia, termasuk para musuh rasul-rasul itu, juga mengakui eksistensi tuhan. Bahkan, mereka percaya bahwa tuhan sajalah yang telah menciptakan seluruh jagad raya dan segenap isinya, bahwa mekanisme alam dan hukum-hukumnya juga tunduk pada kehendak tuhan dan bahwa tuhan sajalah yang berkuasa menurunkan hujan, mengirimkan angin dan menguasai matahari, bumi, bulan, serta pengakuan lainnya (QS 23:84-89, 29:61, 43:87). Akan tetapi, mereka tidak mengakui bahwa Allah adalah rabb sekaligus ilaah.

Pertentangan antara para rasul dengan musuh-musuhnya yang tak mau beriman itu terletak pada tuntutan al Quran yang sangat tegas agar seluruh manusia mengakui Allah sebagai rabb dan sekaligus sebagai ilaah. Jadi, kendati musuh-musuh para nabi atau rasul percaya pada eksistensi tuhan dan kekuasaan tuhan atas seluruh alam raya, mereka tidak mau mengakui Allah sebagai rabb dan ilaah.

Dalam bahasa Arab, ilaah berarti tuhan yang disembah (ma’bud). Hubungan manusia dengan ilaah-nya adalah laksana hubungan antara hamba sahaya yang setia pada tuannya. Si hamba itu sanggup mengorbankan apa saja yang dimilikinya untuk kebahagiaan tuannya. Demikian juga seorang manusia yang telah berikrar dengan laa ilaaha illallaah. Ikrar itu menunjukkan kesediaannya untuk mematuhi kehendak Allah dan tidak akan mengakui kekuasaan selain kekuasaan Allah. Seluruh hidupnya, matinya, shalatnya, dan ibadahnya, hanya didedikasikan pada Alah semata.

Sedangkan rabb, dalam bahasa Arab, berarti tuhan yang memelihara, mengatur, mengasihi, dan menyempurnakan. Oleh karena itu, hubungan antara manusia dengan rabb-nya harus ditandai dengan kepasrahan, ketaatan, dan ketundukan. Karena hanya Allah sajalah yang benar-benar ilaah dan rabb, maka Ia sajalah yang berhak mengklaim ketaatan dan kepasrahan manusia. Di sinilah sesungguhnya letak persoalan yang tidak boleh kita lupakan: bahwa ketaatan, kepasrahan, ketundukan, dan kesetiaan manusia hanyalah untuk Allah saja dan tidak boleh kesetiaan tunggal itu dilacurkan pada sesama makhluk.

Dengan demikian, menjadi jelas setiap klaim yang dinyatakan oleh para penguasa negara sejak dulu sampai sekarang: bahwa mereka wajib ditaati tanpa reserve; adalah batal dengan sendirinya menurut Islam. Bahkan, Islam melaknat dan memerangi klaim seperti itu.

Di dalam al Quran, contoh penguasa yang bermain seperti tuhan adalah Fir’aun yang mengatakan, “ana rabbukum al a’laa. Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi,” serta “ma ‘alimtu lakum min ilaahin ghairi. aku tidak mengetahui/mengakui adanya ilaah untukmu selain aku.” Pada nabi Ibrahim, Namrudz juga membuat klaim seperti yang dilakukan oleh Fir’aun. Malah, Namrudz mengatakan dialah tuhan yang memberi hidup dan membuat mati seseorang. Akan tetapi, ia menjadi bingung ketika ditantang oleh Ibrahim untuk menerbitkan matahari dari sebelah barat, bila ia benar-benar tuhan. (QS 2:258)

Maududi mengingatkan bahwa di zaman modern ini, fenomena Fir’aun dan Namrudz masih tetap dapat kita amati secara jelas. Banyak sekali penguasa negara yang bertingkah bagaikan Fir’aun dan Namrudz, yang merasa menyandang kebenaran mutlak dan menuntut ketaatan rakyat secara total tanpa reserve. Saat ini, para penguasa memang tak lagi mengklaim dirinya sebagai tuhan. Tapi, tuntutan mereka tak ubahnya dengan tuntutan tuhan, yaitu kemutlakan kekuasaannya atas rakyat yang diperintah. Otoritas dan kekuasaannya pantang dikritik, apalagi ditentang. Anehnya, sejarah menunjukkan bahwa pada umumnya rakyat memang mudah ditundukkan dengan ancaman, intimidasi, dan bayang-bayang mengerikan akibat propaganda yang efektif dari para penguasa.

Pernah seorang penulis mengatakan bahwa Fir’aun dan Namrudz tidak akan menjadi Fir’aun dan Namrudz yang diktator, tiran, dan absolutis karena rakyat tidak saja tidak punya keberanian moril untuk mengajukan kritik, tetapi juga rakyat kemudian latah mengagung-agungkan kedua tiran itu sehingga akhirnya dua tiran itu memproklamasikan dirinya sebagai tuhan.

Dewasa ini, manusia modern terjerembab ke dalam perbudakan manusia atas manusia dan penyembahan kepada “tuhan-tuhan kecil” yang berwujud manusia. Tak peduli ia seorang Rusia atau Amerika, Italia atau Yugoslavia, Inggris atau Cina, ternyata ia berada di bawah bayangan kekuasaan suatu partai, seorang pemimpin, atau seorang plutokrat sedemikian rupa. Sehingga, pada hakikatnya, kontrol manusia atas manusia, penyembahan manusia pada manusia, dan pengawasan manusia atas manusia tetap saja berlangsung tanpa mengalami perubahan yang berarti.

Manusia modern memang sudah mencampakkan penyembahan pada alam, tetapi ia menggantinya dengan penyembahan pada sesama manusia. Bahkan saat ini kita dapat menyaksikan suatu bangsa yang mendominasi bangsa lainnya, suatu kelas yang menindas kelas lainnya, atau suatu partai politik yang menguasai anggota-anggotanya dengan mutlak sehingga seakan partai itulah yang menentukan nasib manusia. Atau, kita juga bisa melihat seorang diktator yang menggenggam seluruh kekuasaan dan pengaruh. Dan karenanya, ia merasa menjadi tuhan kecil yang setiap kehendaknya harus berlaku tanpa ada kekuatan lain yang dapat menentangnya.

Apa yang akan timbul bila terjadi dominasi manusia atas manusia lainnya—atau jika seorang diktator mendominasi rakyatnya? Sang diktator akan terus merasa haus kekuasaan tanpa henti. Dan dapat dipastikan ia akan kehilangan kendali diri. Ia akan mabuk kekuasaan dan mustahil akan dapat memiliki netralitas, pandangan yang visioner, dan wawasan yang jernih.

Anehnya, sang diktator—yang sesungguhnya sangat picik—itu merasa memainkan peranan seperti tuhan dan melakukan kewajiban-kewajiban ketuhanan. Inilah sebabnya, kata Maududi, mengapa tirani, despotisme, kesewenang-wenangan, eksploitasi, dan ketidakadilan merajalela ketika penyembahan manusia pada manusia dan dominasi manusia atas manusia (uluhiyah dan rububiyah) sampai terjadi dan berakar di dalam masyarakat.

Akibat dari kenyataan ini adalah terbelenggunya jiwa manusia—yang seharusnya merdeka, gersang dan kerdilnya potensi dan bakat manusia, dan tidak wajarnya perkembangan kepribadiannya. Hal ini terjadi karena sejak semula ia sudah terkungkung dalam berbagai restriksi yang sangat mengganggu. Menurut Maududi, tirani, despotisme, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan eksploitasi manusia atas manusia adalah sumber malapetaka dan kemalangan manusia sejak dulu hingga kini.

Maka, inilah hambatan sesungguhnya bagi kemajuan: penguasa yang berlagak memainkan fungsi ilahiyah (overlordship) dan rububiyah (domination) adalah semisal kanker yang merusak jaringan kehidupan moral, intelektual, politik dan ekonomi masyarakat, serta menghancurkan nilai-nilai kebaikan yang memisahkan harkat manusia dari alam binatang. Demikianlah keadaan masa lalu dan demikian pula keadaan sekarang.

Satu-satunya obat untuk memberantas kanker tersebut adalah penolakan secara mutlak terhadap setiap faktor dan gejala penuhanan sesama manusia yang biasanya terselubung rapi dalam berbagai ideologi yang bersifat man-made untuk kemudian kembali pada keyakinan yang benar, yaitu mengakui bahwa Allah sajalah yang berhak atas penyembahan, kepasrahan, ketundukan, dan ketaatan manusia. Tidak ada jalan yang benar kecuali menuhankan Allah sebagai ilaah dan rabb. Bahwa manusia tidak akan dapat melepaskan diri dari ilaah dan rabb, dapat kita ketahui dengan mengingat bahwa seorang ateis pun pada dasarnya membutuhkan “tuhan”, baik dalam bentuk partai maupun diktator.

Pada dasarnya, tugas para nabi adalah melakukan reformasi radikal sepanjang sejarah kemanusiaan. Para nabi maupun rasul itu menghancurkan supremasi manusia atas manusia dalam rangka menjebol kezhaliman dan membangun keadilan, membersihkan kehidupan manusia dari perbudakan yang mengejawantah dalam penyembahan pada tuhan-tuhan palsu, serta melenyapkan eksploitasi si lemah oleh si kuat. Karena itulah para rasul menciptakan dan menggerakkan suatu organisasi sosial yang didasarkan atas persamaan derajat manusia yang di dalamnya tak ada lagi manusia yang menjadi budak dan tuan, karena semuanya adalah hamba-hamba yang berkedudukan sama di hadapan Allah. Berkali-kali para rasul menyeru ummatnya dengan kata-kata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, karena tidak ada ilaah bagimu selainNya” (QS 7:59, 7:65, 7:75, 7:86, 11:50, 11:61, 11:84). Seruan ini tidak saja dikumandangkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, dan Syu’aib saja. Melainkan juga oleh Nabi Musa, Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Deklarasi “tidak ada ilaah selain Allah” itu merupakan kunci pembebasan jiwa manusia dari setiap jerat dan belenggu kekuatan intelektual dan material yang bebas dari ikatan-ikatan perbudakan. Kalimat thayyibah itu sajalah yang dapat melepaskan manusia dari beban mental-psikologis yang seringkali merusak kesehatan jasmani dan ruhaninya. Kalimat tauhid itulah yang memberikan piagam sejati bagi kemerdekaan dan kebebasan manusia. Sebagaimana diterangkan oleh al Quran, nabi Islam “telah menyuruh manusia berbuat kebajikan dan melarang mereka dari kemunkaran. Ia halalkan bagi mereka hal-hal yang baik dan ia haramkan atas mereka hal-hal yang buruk, dan ia hilangkan dari mereka berbagai beban dan belenggu yang ada pada mereka; maka orang-orang yang beriman padanya, memuliakannya, dan menolongnya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang berbahagia”. (QS 7:157)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: