Menakar Kelembutan

Saya betul-betul berusaha merasakan sakit hati Bilal bin Rabbah saat Abu Dzarr mengumpatnya dengan panggilan, “anak orang hitam”. Saya mencoba memahami sakit hati Abu Bakr saat lontaran kata sahabat tercintanya, Umar bin Khaththab, singgung perasaannya.

Dan kita kemudian mungkin hanya bisa berkata bahwa kekuatan ukhuwah atau ketakutan yang luar biasa besar terhadap dosa yang mengakibatkan Abu Dzarr meletakkan pipinya di tanah, di depan Bilal, sambil berkata, “Injaklah pipiku bila kau mau.” Kita juga mungkin cuma bisa berdalih bahwa kemuliaan Umar yang berani akui kesalahan serta kelapangan hati Abu Bakr yang rela berikan maaf pada saudaranya.

Memang terlalu cepat rasanya mengambil simpulan dari dua hal yang sarat kata “mungkin” itu. Maka, mari terbangkan ingatan kita pada suatu masa di Thaif, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan guna sampaikan firmanNya menuju penduduk setempat. Yap, seperti yang telah kita ketahui bersama, bukan sambutan meriah atas datangnya wahyu yang didapat. Tapi sumpah serapah sampai lemparan batu yang mengantar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Thaif.

Satu catatan perlu kita tambahkan pada peristiwa setelahnya. Saat malaikat berkata bahwa Allah telah mengizinkan malaikat penjaga gunung Akhsyabain untuk timpakan gunung itu pada penduduk Thaif, Rasul hanya berkata, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.”

Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan (HR Bukhari)

Beberapa kisah ini mengajarkan kita bahwa betapa kelembutan jadi salah satu jarum penting untuk merajut ukhuwah yang datangkan berkah. Juga, sebagai salah satu petunjuk jalan dalam melaksanakan tugas da’wah; menyampaikan ajaran Allah pada manusia. Bahwa kelembutan merupakan salah satu sarana penting dalam upaya menghias akhlaq kita yang nanti akan kita tampilkan pada para mad’u.

Tapi apa Rasul tak pernah bersikap keras? Apa Rasul sangat benci sematkan sebutan-sebutan buruk bagi orang-orang di sekitarnya—tanpa terkecuali? Oh, pernah! Dan fakta tentangnya mudah kita temui dalam referensi sejarah Islam mana pun.

Bahkan masyarakat pun lebih mengenal laqab kasar bagi Amr bin Hisyam—Abu Jahl, bapak kebodohan—ketimbang nama aslinya sendiri. Bahkan kita cukup akrab dengan yel-yel, “Khaibar! Khaibar, yaa Yahuud! Jaisyu Muhammad saufa ya’uud!” ketika mereka yang mengaku dai malah mencekoki masyarakat dengan pengertian salah arah dari “rahmatan lil ‘alamin”. Seluruh kitab shirah juga menyebutkan pengusiran bani Quraizhah dari Madinah sebab pengkhianatan mereka saat perang Khandaq. Dan kita pun masih ingat betul, bagaimana nasib orang-orang musyrik di sumur-sumur Badar yang didoakan kecelakaan oleh Rasul saat beliau masih berada di Makkah.

Tak ketinggalan, Allah pun juga memberi contoh bahwa ternyata ada, dalam sejarahnya, orang-orang yang diberi gelar-gelar yang buruk.

Dan bacakanlah pada mereka berita orang yang telah Kami berikan padanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan. Maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan dia dengannya, tapi dia cenderung pada dunia dan mengikuti nafsunya. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, maka diulurkannya lidahnya. Dan jika kamu membiarkannya, maka ia mengulurkan lidahnya pula. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (QS al A’raaf 175-176)

Ada yang unik dari penyebutan permisalan yang begitu buruk ini. Orang-orang yang disinggung ayat-ayat ini adalah mereka yang dustakan ayat-ayatNya sementara mereka mengetahui kebenaran al Quran. Tafsir ayat ini mengenalkan kita pada Bal’am bin Baura, seorang alim di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, yang termakan tipuan Bani Kan’an sehingga mengirimkan fitnah berupa wanita pada ummat Nabi Musa, Bani Israil. Kisah serupa ternyata kita akrabi pula di zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama al Walid bin al Mughirah, cerdik cendekia Quraisy yang terpaksa akui kemuliaan al Quran dan nabiNya sampai—karena kehabisan akal—harus sebut al Quran sebagai kitab sihir.

Kita cermati lagi siapa saja yang didoakan keburukan oleh Rasul yang kemudian tewas di medan Badar. Semuanya adalah para petinggi Quraisy yang telah tegak hujjah atas mereka. Ayat-ayat Allah begitu jelas bagi mereka, tapi nafsu—atau motivasi lain—ternyata lebih dominan dalam tentukan sikap yang diambil. Alhasil, hanya umpat tercela dan gangguan-gangguan di jalan da’wah yang mampu mereka berikan.

Tapi apa jadinya bila kesesatan merajalela, kondisi akhlaq ummat kian kritis, dan kesalahan marak dilakukan oleh para pemimpin?

Imam Ibnu Majah dan Tirmidzi kemudian meriwayatkan hadis yang nyaris serupa.

Dari Abi Sa’id, ia berkata, “Marwan keluar dari mimbar pada ‘Id, kemudian ia memulainya dengan khutbah sebelum shalat. Maka berdirilah seorang lelaki dan ia berkata, “yaa Marwan, engkau telah menyalahi sunnah rasul. Engkau keluar dari mimbar pada ‘Id, sementara tidak seorang pun yang keluar darinya. Lalu engkau memulai dengan khutbah sebelum shalat, padahal tak seorang pun yang memulai dengan khutbah.” (HR Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa peringatan pada pemimpin yang melakukan kesalahan secara nyata dan terang-terangan di hadapan umum, bahkan berpotensi menyesatkan manusia karena perbuatannya itu diperkenankan untuk dibantah dengan cara yang zhahir pula.

Bahkan, peringatan-peringatan keras yang tak sungkan menyebut nama juga teramat sering dilakukan oleh para ulama salaf. Lihat bagaimana Ibnul Jauzi “habisi” Khawarij, Mu’tazilah, dan berbagai firqah menyimpang lainnya dalam Talbis Iblis. Lihat pula kritik Imam as Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ terhadap nafsu memerintah yang tidak haq yang berkuasa di beberapa zaman dalam sejarah Islam. Tak terhitung berapa kali para ulama’ itu menyebut nama al Hallaj, Abdurrahman bin Muljam, atau Washil bin Atha’ dengan nada tegas untuk meminta ummat agar berhati-hati.

Satu hal yang perlu kita ingat: kita tak mendapati para ulama mengungkit keburukan personal lain dari Marwan karena kesalahannya saat khutbah Idul Fitri itu. Contoh kesantunan yang demikian lah yang melembutkan hati kita, yang pada akhirnya akan memudahkan kita untuk menerima kebenaran, apa pun bentuknya.

***

Kita memang bukan penganut sebuah nilai di mana di tiap tamparan di pipi kanan akan wujudkan kerelaan kita pada tamparan serupa di pipi kiri. Kita juga bukan ummat semacam rahib yang menjauhkan diri dari dunia, dengan mengabaikan nilai-nilai sosial, terutama masalah amar ma’ruf nahi munkar. Tidak. Tapi tentu fakta itu tak lantas membuat kita melupakan nilai-nilai kelembutan yang diajarkan nabi.

Lantas apa takaran pas dalam menghadapi masyarakat? Dua hal: al Quran dan as Sunnah. Bila tak disebutkan dalam keduanya? Khatibun naas ‘alaa qadri uqulihim. Wa khatibun naas bi lughati qaumihim.

Da’wah, seperti yang jamak kita pahami bersama, adalah upaya seorang dai untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan kepada sesama hamba pada penyembahan pada Allah semata. Proses itu tentu membutuhkan logika matang, argumentasi kokoh, dan landasan dalil yang luar biasa terpercaya.

Tapi, setelah begitu terbukanya pintu-pintu ilmu, ketika hujjah telah nyata tegak di kalangan masyarakat, barangkali kita tak lagi berjuang memenangkan logika. Kita sedang berupaya memenangkan hati manusia. Logika orang yang mengaku beriman harusnya telah tertunduk di hadapan daras ayat suciNya. Mencoba membantah ayat-ayatNya itu? Silakan deklarasikan diri murtad dari ajaran penguasa semesta alam.

Maka saksikanlah, kapan kita goyah di atas pijakan wahyu? Tapi peran argumentasi dalam kerja da’wah memang tidak—dan mungkin tak akan pernah—berdiri sendiri. Sebab ternyata, hati yang mengendalikan semua. Dan sayangnya, seringnya hati sulit ditaklukkan semata dengan logika. Padahal, seperti kata nabi yang jamak kita dengar, “Ada sebuah daging yg ketika ia baik, semuanya akan baik. Ia adalah qalb.”

Itulah sebabnya kerap kita jumpai keledai yang berlelah-lelah mengangkut banyak kitab. Banyak ilmu, tapi rasa muraqabah maupun takut pada Allah tak kunjung tumbuh. Terkadang logika telah suka rela—atau terpaksa—menerima. Tapi hati masih sulit terpaling dari ma’shiyat menuju al haq.

Mungkin bashirah telah meredup. Mungkin kepekaan hati terhadap kasak-kusuk gelisah para kader, lirik curiga konstituen, nilai-nilai yang katanya terbangun kokoh, maupun cengkeram tangan menyelamatkan dari sesama du’at, telah menghilang.

Sungguh tragis nasib mereka yang tak rasakan sakit setelah berulang kali tercambuk. Sangat mengenaskan kisah hidup mereka yang tak tahu pedih setelah puluhan luka sayat menghias raga. Maka mari ucapkan kalimat istirja’ atas musibah yang datang pada mereka yang tak sadar akan khilaf dirinya dan pemimpin-pemimpinnya tatkala berbagai fakta terungkap di depan mata. Mari berdoa, semoga hati mereka—dan juga kita—belum gelap tertutup noktah dosa.

Ah ya, satu yang ingin saya garis bawahi: mungkin mereka, saudara-saudara kita itu, hanya pantas untuk dikasihani. Bukan untuk dicaci-maki.

-RSP-

2 comments
  1. Memang kelembutan hanya akan nampak dari mereka yang memilik fondasi spiritual yang kuat dan dalam. Sulit memaksakan kelembutan pada orang yang dangkal dan kering jiwanya dari limpahan rahmat Allah SWT.

    Alangkah indahnya agama kita ini jika disampaikan oleh orang-orang yang tidak hanya lembut sikap dan tutur katanya, tapi juga lembut hati dan jiwanya

    • reza said:

      betul, pak Nahar. semoga Allah memasukkan kita sebagai bagian dari orang2 yg dilembutkan hatinya hingga mudah menerima hidayah.. aamiin.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: