Karakteristik Manhaj Qur’ani

Para pengemban da’wah Islam seharusnya mengerti bahwa ketika mereka menyeru pada manusia untuk kembali mengembangkan agama ini, maka yang pertama kali harus mereka lakukan adalah menyeru manusia untuk menganut aqidah ini, meski yang mereka seru adalah orang yang mengaku muslim dan dibuktikan oleh akta kelahirannya. Mereka wajib menegaskan bahwa Islam, pertama kali, menancapkan aqidah laa ilaaha illallaah dengan maknanya yang haqiqi, yaitu mengembalikan kekuasaan tertinggi di tangan Allah dalam segala urusan, dan memisahkan diri dari kaum yang menentang kekuasaan Allah dengan klaim kebenaran dalam diri mereka. Mereka harus menancapkan aqidah ini dalam sanubari dan ritual ibadah mereka, juga dalam tataran realitas kehidupan mereka.

Hendaknya persoalan aqidah menjadi fundamen da’wah Islam pada manusia karena aqidah sedari awal memang menjadi fundamen da’wah Islam pada manusia. Da’wah inilah yang menjadi fokus al Quran periode Makkah selama tiga belas tahun penuh. Jika konsep dasar Islam ini mendarah daging dalam diri ummat Islam, maka pengkristalan inilah yang akan menjadi landasan bagi apa yang disebut dengan “masyarakat Islami”. Masyarakat ini sangat tepat dalam membangun tatanan Islami dalam kehidupan sosial. Karena, ia mengandaikan kehidupan antara pribadi muslim dan masyarakatnya dengan berlandaskan aqidah ini, dan hidup mereka sepenuhnya tidak diatur kecuali dengan hukum Allah.

Ketika masyarakat seperti ini benar-benar telah tegak, maka dimulailah penjelasan dasar-dasar tatanan Islam yan gberpijak pada tauhid. Seiring dengan itu, masyarakat ini menerapkannya selama masa penetapan undang-undang dalam atmosfer kerangka umum tatanan Islami. Inilah tata urutan yang tepat dari langkah-langkah manhaj Islami yang realistis, aplikatif, dan moderat.

Terkadang, semua itu hanyalah sebatas terbayang dalam pikiran sebagian orang–yang ikhlas namun tergesa-gesa–yang tak mau merenungkan karakter Islam dan karakter manhaj rabbaninya yang lurus, yang didasarkan pada kebijakan Allah dan pengetahuanNya atas karakteristik manusia dan kebutuhan hidupnya. Kadang, terbayang di pikiran mereka untuk langsung memaparkan dasar-dasar sistem Islami–bahkan hukum-hukum Islam–kepada manusia sebelum mematangkan aqidah. Tujuannya, agar mempermudah jalan da’wah mereka dan membuat manusia mencintai Islam.

Mereka terlalu tergesa-gesa. Mereka itu sama seperti orang-orang yang sering melontarkan masukan bahwa seharusnya da’wah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali ditegakkan di bawah panji-panji kebangsaan, panji-panji kemasyarakatan, dan panji-panji moralitas, agar mempermudah jalan da’wah.

Padahal, pertama kali, hati haruslah benar-benar ikhlas demi Allah. Hati haruslah mempersembahkan ketundukannya pada Allah semata dengan hanya menerima syariat Allah dan menolak segala syariat selain syariatNya. Demikian ini harus diprioritaskan, sebelum membicarakan berbagai penjelasan syariat yang diinginkannya.

Keinginan ini haruslah muncul dari keikhlasan menghamba pada Allah dan kebebasan dari kekuasaan lain, bukannya berdasarkan pandangan bahwa aturan yang diusulkan sebenarnya lebih baik daripada peraturan yang ada, dalam hal apa pun.

Peraturan Allah, pada hakikatnya, adalah lebih baik karena itu termasuk syariat Allah. Kapan pun, syariat yang dibuat oleh manusia tak akan dapat menyamai syariat Allah. Akan tetapi, ini bukan landasan da’wah. Landasan da’wah adalah menerima syariat Allah apa adanya dan menolak syariat lain apa pun wujudnya. Beginilah Islam, pada hakikatnya. Islam tidak memiliki makna lain selain makna ini.

Barangsiapa yang benar-benar cinta pada Islam, berarti ia telah mantap dengan makna ini, dan ia tak memerlukan lagi motivasi berupa keindahan dan keistimewaan peraturan. Inilah salah satu pembuktian dari keimanan.

Sayyid Quthb; Ma’alim fit Thariq-Karakteristik Manhaj Qur’ani

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: