Serial Negara Sejahtera (6): Arti Sistem Khilafah

Al Quran menyebut pemberian khilafah dari Allah pada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, seperti yang disebut dalam ayat berikut.

Allah telah berjanji pada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Ia akan memberikan khilafah pada mereka di muka bumi sebagaimana Ia telah memberikan khilafah itu pada orang-orang sebelum mereka. (QS an Nuur 55)

Ayat al Quran ini melukiskan dengan jelas teori Islam tentang politik atau teori Islam tentang negara. Dari ayat ini, paling tidak ada dua masalah fundamental yang dapat diambil. Pertama, Islam menggunakan kata “khilafah” sebagai kata kunci, bukan kata kedaulatan atau yang lain. Sebab, kedaulatan sesungguhnya hanyalah milik Allah. Sehubungan dengan pengertian terakhir ini, siapa pun yang memegang kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu sesuai dengan norma dan hukum Allah, maka dengan sendirinya ia menjadi khilafah Allah dan ia tak punya otoritas atas sesuatu, kecuali yang telah didelegasikan padanya.

Kedua, kekuasaan untuk mengatur dan memakmurkan bumi, mengelola negara, dan menyejahterakan masyarakat dijanjikan pada “seluruh orang-orang yang beriman”, bukan pada seseorang atau suatu kelas tertentu. Konsekuensi logis dari pengertian ini adalah bahwa seluruh orang beriman menjadi tempat bersemayamnya khilafah. Dus, khilafah diberikan oleh Allah pada kaum mu’minin secara menyeluruh, tak terbatas pada keluarga, kelas, suku, atau ras tertentu. Tiap mu’min menjadi khalifah Allah di muka bumi sesuai dengan kapasitas individualnya. Berdasarkan posisinya masing-masing, seorang mu’min bertanggung jawab pada Allah, sesuai dengan sabda nabi, “Masing-masing darimu adalah pemimpin. Dan tiap pemimpin harus bertanggung jawab atas semua urusan yang dipimpinnya.” Seorang khilafah tak ada yang lebih rendah dari khalifah lainnya.

Kedua masalah fundamental di atas merupakan pondasi demokrasi dalam Islam. Paling tidak, ada empat prinsip yang dapat diturunkan dari dua pengertian fundamental tersebut.

Pertama, dalam suatu masyarakat yang tiap orang menjadi khalifah Allah dan menjadi partisipan sederajat dalam khalifah, tiap perbedaan kelas yang didasarkan pada keturunan dan posisi sosial sama sekali tak bisa dibenarkan. Semua manusia memiliki posisi dan status yang sama. Satu-satunya pengukur superioritas dalam orde sosial seperti ini adalah kemampuan dan karakter pribadi. Inilah yang berulang kali dinyatakan oleh Nabi, “Seorang Arab tak lebih unggul dari orang ajam (non-Arab) dan demikian pula sebaliknya. Juga seorang kulit putih tak memiliki superioritas apa pun terhadap seorang kulit hitam dan demikian pula sebaliknya, kecuali dalam masalah taqwa.”

Setelah nabi dan kaum mu’minin menaklukkan seluruh Jazirah Arab dan wilayah ini tunduk di bawah pemerintahan Islam, Nabi memberikan pidato peringatan yang diarahkan pada orang-orang dari sukunya sendiri, yang dalam zaman pra-Islam menikmati status istimewa sebagaimana kaum brahmana menikmati statusnya di anak benua India. Nabi berkata,

Wahai orang-orang Quraisy, Allah telah mencabut kebanggaanmu di masa jahiliyah dan mencabut kebanggaanmu atas nenek-moyangmu. Wahai manusia, kamu semua adalah anak-cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat. Tak ada alasan apa pun untuk berbangga-bangga dengan nenek-moyang, tak ada kelebihan orang Arab atas ajam dan tak ada kelebihan orang ajam terhadap orang Arab. Ketahuilah, yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa.

Kedua, dalam masyarakat seperti ini tak ada satu orang atau satu kelompok pun yang akan menderita karena diskriminasi berdasarkan keturunan, status sosial, atau profesi yang dapat menghambat pertumbuhan bakat dan kemampuannya. Tiap orang dapat menikmati kesempatan yang sama untuk mengejar kemajuan. Tiap warga negara diperbolehkan mengembangkan kemampuan dan bakatnya untuk mencapai puncak-puncak prestasi dalam segala lapangan kehidupan. Anak-anak dari lapisan ekonomi yang paling lemah, seperti tukang semir sepatu atau tukang sapu jalan, dapat dan berhak meniti jenjang karier menjadi gubernur, jenderal, dan sebagainya, sementara mereka yang jadi keturunan bangsawan tak boleh segan bekerja di bawah pemimpin yang berasal dari rakyat kecil. Nabi mengajarkan, “Dengarkan dan taatilah pemimpinmu meski ia adalah seorang negro yang rambutnya seperti kismis.” (HR Bukhari)

Ketiga, Islam tak memberikan kesempatan bagi berlangsungnya suatu kediktatoran karena tiap orang adalah khalifah Allah. Tak ada seorang atau sekelompok orang pun yang berhak menjadi penguasa mutlak dengan menghilangkan hak khilafah rakyat. Seseorang yang ditunjuk oleh rakyat untuk mengelola urusan pemerintahan berarti bahwa ia mendapat tugas administratif yang harus dijalankan sesuai dengan kehendak rakyat, tak lebih dari itu. Jadi, ia bertanggung jawab pada Allah di satu pihak, dan bertanggung jawab pada “khalifah-khalifah” lain yang telah mendelegasikan otoritas mereka padanya, di lain pihak. Maka, seorang pemimpin negara yang mendudukkan dirinya sebagai penguasa absolut yang tak mau bertanggung jawab pada rakyatnya bukan lagi seorang khalifah, tapi seorang pemerkosa hak-hak rakyat. Dengan kata lain, ia telah menjadi diktator. Padahal, kediktatoran adalah negasi dari khilafah rakyat.

Keempat, dalam masyarakat dan negara yang mematuhi Islam itu, tiap muslim yang sehat jiwa dan raganya, baik pria maupun wanita, berhak sepenuhnya untuk mengemukakan pendapatnya.

Kelima, demokrasi superlatif sesuai ajaran Islam selalu berusaha mencapai keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme. Dalam Islam, tujuan kehidupan individual dan kehidupan komunal diarahkan untuk mencapai mardhotillah, dengan jalan memberlakukan hukum-hukum ilahi. Harmonisasi antara kehidupan individual dan kehidupan kolektif itu pada pokoknya dicapai dengan jalan memberikan seluas-luasnya kesempatan pada masing-masing pihak untuk mengembangkan potensi yang ada padanya dan mengabdikan potensi yang dikembangkan itu untuk kesejahteraan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: