Stigma

Rosihan Anwar, dalam Petite Histoire Indonesia, menuliskan perjalanannya bersama rombongan kecil Menteri Penerangan Muhammad Natsir suatu kali di bulan Juni 1946. Kunjungan ini terkait peristiwa pembantaian warga Tionghoa di Tangerang atas tuduhan agen NICA. Masa itu, sentimen warga pribumi, khususnya yang tinggal di sekitar ibukota, terhadap NICA dan antek-anteknya yang tersebar di berbagai struktur masyarakat meningkat. Tapi, sebagaimana ketakutan berlebih lainnya yang tak terjaga sesuai porsinya, sentimen ini membuahkan tuduhan-tuduhan yang kelewat batas.

Preman, aktivis pemuda, dan warga lain yang punya energi serta kuasa lebih mulai beraksi. Salah paham mengenai masalah “siapa memihak siapa” menyebabkan warga Tionghoa jadi korban. Mereka yang diduga antek NICA dibunuh. Tak ada catatan pasti mengenai cara dan jumlah warga yang tewas. Sebagian berkata, mereka ditusuk, kadang disembelih—yang punya amunisi ekstra memilih menggunakan bedil—tanpa ada usaha untuk membuktikan kesalahan, melalui cara apa pun. Sekali diduga, habislah nyawa dalam hitungan pekan bahkan hari.

Memang situasi sedang mencekam. Sulit mengetahui siapa kawan dan siapa lawan. Mochtar Lubis menuliskan kondisi psikologis penuh tekanan ini dalam novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung. Rosihan Anwar bahkan menuliskan perjalanan mereka saat itu sesekali berhenti untuk melayani pertanyaan serdadu-serdadu bule NICA. “Bila NICA-NICA itu tak mau mendengar dan main tembak saja seperti kelakuan serdadu Ambon dan Indo dari Batalion Sepuluh di jalanan Jakarta,” tulisnya, “kami bisa habis.”

Sepintas, bisa dipahami bila paranoia seperti itu muncul di tengah masyarakat. Tapi sebelum tergesa mengambil kesimpulan, mari kita tengok catatan sejarah lainnya.

***

24 Maret 1946, Bandung berkobar. Tak rela Bandung Selatan berubah menjadi lokasi strategis tentara Sekutu dalam menjajah Indonesia, pejuang kemerdekaan memilih membumihanguskannya sambil meneruskan perang gerilya untuk merebut kembali Bandung dari serdadu Inggris.

Hari itu juga menjadi hari terakhir Muhammad Toha dan Ramdan menghirup nafas di dunia. Misi meledakkan gudang senjata meminta nyawa keduanya sebagai imbalan. Keduanya tewas bersama meledaknya bom di gudang-gudang senjata itu. Kini, masyarakat mengenang keduanya sebagai bagian dari pejuang kemerdekaan Indonesia.

Bila Muhammad Toha dan Ramdan meninggalkan nama harum sebagai pahlawan, lain halnya dengan pejuang dari barisan kaum muslimin. Bertumpuk kasus istisyhadi di Afghanistan dan Pakistan ditanggapi sebagai serbuan teroris. Pengamat sok tahu di Indonesia menyebut aksi-aksi tersebut merupakan wujud keputusasaan. “Hal ini karena,” ujar salah seorang di antara mereka, “menghadapi kehidupan membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada menghadapi kematian.” Satu lagi eufimisme dari “hubbud dunyaa, wa karahyatul maut”.

Nasib serupa juga dialami Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Namanya disandingkan dengan Daud Beureuh, Chris Soumoukil, dan Hassan di Tiro sebagai barisan perongrong kedaulatan republik. Mayoritas publik, dari veteran pejuang kemerdekaan hingga bocah-bocah SD penghobi sejarah, membenci mereka.

Sebab stigma yang telah tercipta, kita sulit mengolah fakta bahwa pascaperjanjian Renville, wilayah RI hanya seputar Jogjakarta. Sementara, kita tahu bahwa NII diproklamasikan tahun 1949 di wilayah Jawa Barat. Otomatis, argumen “negara dalam negara” yang kerap tercantum di buku sejarah saya saat sekolah dasar jelas mentah.

Sayangnya, emosi sering mengalahkan logika. Saat tergesa dan berada dalam kondisi tertekan, kita tahu lift yang ingin kita gunakan takkan bertambah cepat meski tombolnya ditekan berulang-ulang. Tapi sebagian penggunanya masih melakukan hal itu. Sama dengan hal ini. Meski penjalasan logis sudah disampaikan, tetap sulit menghilangkan kesan negatif dari orang-orang ini tanpa agitasi yang konsisten dan masif. Sebab informasi yang salah itu sudah diteriakkan di telinga kita berulang-ulang dan dalam waktu yang lama. Sulit menghilangkan sinisme itu meski kita berusaha menolaknya.

***

Membaca peristiwa-peristiwa tersebut, timbul pertanyaan: Mengapa ada standar ganda di sini? Mengapa kisah pribumi yang membantai warga Tionghoa itu tak begitu akrab di telinga kita? Mengapa perjuangan Muhammad Toha dan Ramdan dianggap baik sementara reaksi kita—atau pemerintah yang sedang berkuasa—berbeda saat mendengar mujahidin meledakkan fasilitas militer milik gembong syaithan pimpinan bule-bule dari gedung putih? Meski kita sadar bahwa memang begitulah tabiat orang-orang yang berkuasa: mengidentifikasi pihak yang mencoba menggelitik kuasanya sebagai teroris, tentu tetap ada jawaban lain untuk menjelaskannya.

Saya memiliki jawaban subyektif: sebab kita melihat peristiwa dengan tendensi tertentu. Akibatnya, kita melihat apa yang ingin kita lihat.

Pangkal masalahnya terletak pada bagaimana kita melihat hal-hal ini. Ketika kita berpihak pada salah satu faksi, kita—termasuk saya sendiri—sulit menilai masalah secara obyektif. Masyarakat muslim mengenalnya dengan terminologi ta’ashub. Dengan sikap ini, segala hal yang dilakukan pihak satu selalu benar. Sementara pihak lain selalu salah.

Benar kita mencitakan kemerdekaan. Benar mayoritas masyarakat Indonesia mencintai negerinya. Tapi kecintaan ini ternyata membawa kita pada sikap lain yang benar-benar salah. Kita—atau paling tidak, penulis kurikulum sejarah sekolah—diam melihat tindak-tanduk warga perindu kemerdekaan yang semena-mena. Meski diam tak selalu bisa diartikan sebagai persetujuan, tapi hal itu cukup untuk mengaburkan sejarah dan memberikan penilaian berbeda terhadap orang-orang tertentu.

Sedikit sebenarnya yang ingin saya sampaikan: bahwa stigma—tanpa pertimbangan logis sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini—ternyata membawa seseorang pada penghakiman yang salah. Kita sering sulit melakukan upaya sungguh-sungguh supaya kita mampu berpikir dari dua atau lebih sudut pandang dan mencoba memahami argumen di pihak lain sebelum melontarkan stempel negatif pada pihak lain tersebut.

Dalam memahami rangkaian sejarah, tentu tak bijak hanya mempercayai sumber pihak-pihak yang berkuasa. Sebab, semisal dengan adagium “Power tends to corrupt”-nya Lord Acton, orang-orang yang berkuasa senatiasa ingin mengejar keuntungan dari kuasanya dan ingin berlama-lama duduk di singgasananya. Media dan penulisan sejarah menjadi salah satu sarananya.

Dalam memahami perjuangan kaum muslimin, tak bijak pula hanya mempelajarinya dari aspek duniawi saja. Motivasi menyandang status syuhada’ bukan sesuatu yang dapat dijelaskan dengan mudah melalui argumen-argumen “putus asa”. Adakah yang pernah mendengar kisah Khonsaa’ radhiyallahu ‘anha, wanita yang empat orang putranya syahid sekaligus itu? Adakah yang pernah mempertimbangkan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, sang syahidul hayy—seorang syuhada’ yang masih hidup, yang berusaha melindungi orang yang paling dicintainya saat Perang Uhud? Adakah yang mencoba merenungkan pembakaran perahu yang dilakukan Thariq bin Ziyad? Adakah tulisan sejarah yang menunjukkan bahwa mereka melakukan hal-hal tersebut sebab putus asa?

Mungkin terdengar tak realistis dan irrasional. Tapi pengalaman saya membaca hal-hal yang ada dalam diri mereka membawa saya pada kesan bahwa mereka adalah orang-orang penuh semangat, bukan orang-orang yang putus asa hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang dipandang mulia. Mereka adalah orang-orang yang bergairah menggapai surga, sesuatu yang mungkin sulit kita pahami hari-hari ini.

Konkretnya, berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menyikapi hal semisal ini. Pertama, tentukan nilai terbaik yang akan kita anut. Sebagai muslim, tentu pedoman hidup mereka adalah al Quran dan as Sunnah. Kedua, jadikan standar nilai itu konsisten kita gunakan. Ketiga, yakinkan bahwa informasi yang diterima—baik bersumber dari nash syar’i maupun kondisi faktual di lapangan—sudah benar-benar cukup untuk menentukan sikap. Terakhir, senatiasa lakukan dialog. Sebab, meski melelahkan, harus selalu ada usaha untuk mengatasi keterbatasan diri dalam memahami hal-hal yang terjadi di luar sana.

-RSP-

3 comments
  1. Bisa ditambahin share widget ga sih?

    • reza said:

      nggak tau. caranya gimana?

    • reza said:

      ketemu. ada di setting -> sharing. option-nya ada di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: