Membaca

Dengan membaca, konon kita bisa melihat dunia. Decit tikus dan alunan terompet dari Jerman, kecerdikan Toyotomi Hideyoshi di Jepang rezim Ashikaga, juga lembaran kamus yang dibaca Malcolm X. Dari tumpukan buku berbau apak itu juga, ada bekas-bekas perjuangan Ibn Taimiyah, Abdullah Azzam, sampai Abdullah bin al Mubarak; ulama yang cucurkan darah di medan perang.

Terakhir, dari buku pula, seseorang akan tahu bahwa dirinya tengah sendirian.

***

Beberapa kali, di lingkungan sekitar kos maupun lingkungan online saya, pertanyaan datang mengenai bagaimana kita menumbuhkan minat baca, khususnya terhadap buku yang membahas tema keislaman. Keluhannya rata-rata sama: ada keengganan berada di depan buku lama-lama. Terutama buku yang menampilkan banyak fakta dan membutuhkan konsentrasi untuk menggabungkannya jadi satu simpulan. Ah ya, di sini, buku teks kuliah tak masuk hitungan.

Bicara soal buku, saya kemudian ingat komik serial yang dibelikan oleh bapak saya saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Komik serial itu bercerita tentang kehidupan nabi. Seingat saya, ada dua belas seri. Berikut ini salah satunya.

Mengapa buku sekecil ini jadi begitu penting buat saya? Karena mungkin bacaan inilah yang mulai sedikit menumbuhkan minat baca saya terhadap literatur-literatur keislaman. Seperti anak-anak seusia SD lainnya, saya tak begitu suka buku yang berisi rerumput berbentuk tulisan. Cerita bergambar seperti ini lebih mudah dicerna bagi anak-anak seusia saya waktu itu. Ditambah lagi, sebelumnya, yang tersusun di lemari buku keluarga kami adalah bundel-bundel majalah Tempo, Gatra, sampai Suara Muhammadiyah milik bapak. Plus koleksi majalah-sejenis-Bobo milik saya yang sedikit tak terurus.

Saya masih ingat betul dialog, ilustrasi, dan cara bercerita penulis komik ini. Memang, beberapa hal kemudian saya sadari tak sesuai dengan kitab shirah yang jadi rujukan, semisal tulisan Syaikh Mubarakfury atau Ibn Hisyam. Tapi paling tidak, ia berhasil menumbuhkan minat baca saya.

Lantas apa yang ingin saya sampaikan di sini? Tak banyak dan sederhana: tumbuhkan minat baca. Dan minat baca itu didapat dari bertubinya kenikmatan yang didapat saat membaca. Ada kesenangan tertentu ketika kita mengetahui sesuatu. Kesenangan itu tentu tak bisa didapatkan dengan pola membaca yang sporadis, tidak berkelanjutan. Maka, pembiasaan terhadap buku, serta memulai dengan tema yang menyenangkan, menjadi perlu di sini.

Konkretnya, buat saja daftar buku yang ingin dibaca bulan ini, dan disiplinkan diri untuk mematuhi jadwal itu. Tak perlu beli baru bila memang ada buku di lemari yang belum terbaca. Tapi saya sangat menyarankan untuk membeli bila memang buku itu termasuk buku yang tak setiap waktu bisa dijumpai.πŸ™‚

Usaha membiasakan membaca kadang terbentur oleh beberapa masalah. Keluhan berikutnya yang sering muncul di antara teman-teman saya adalah bahwa minat baca ini seperti iman: naik-turun. Tak adakah cara untuk mengatasinya?

Ada, dan bentuknya berbeda bagi tiap orang. Bila satu saat kita sibuk dengan tema tertentu, beralihlah ke bacaan lain. Saya sendiri, bila sudah jenuh dengan bacaan bertema Islam, memilih baca buku-buku sejarah. Jadi, kalau lihat saya ke mana-mana menenteng buku sejarah, kemungkinannya cuma satu: saya sedang dalam mood kurang baik.πŸ™‚

Tapi sekali lagi, ini masalah selera. Untuk orang lain, bisa jadi berbeda. Saya menemukan rekreasi yang cukup menyegarkan saat baca buku-buku sejarah, entah untuk alasan apa. Tapi orang lain bisa jadi malah mengantuk, bosan, atau seketika menutup buku.

Jadi, untuk pertanyaan di awal tulisan ini, saya hanya punya jawaban sederhana: biasakan membaca sedini yang kita bisa. Bagi mereka yang sudah dibiasakan membaca oleh orang tuanya sejak kecil, bersyukurlah. Dan jangan pelihara kemalasan terlalu lama. Buat yang tidak, satu-satunya cara yang saya anjurkan adalah: mulai sekarang juga!

-RSP-

4 comments
  1. faraziyya said:

    “dari buku pula, seseorang akan tahu bahwa dirinya tengah sendirian.”
    knp km nyimpulin itu? mski tahu, tp karena kamu tuliskan gini, aku jadi mengiyakan gitu. tp kenapa kalimat itu kedengarannya sepi yaa?

    • reza said:

      aku nggak tahu, mbak. lihat pengalaman orang dan diri sendiri aja.

  2. Gabby Laupa said:

    Bacaaaaaa yaaa semπŸ˜€ Aku lama gak buka blog kamu terus langsung ditampar tulisan ini *ditampar katanya* AHHHHHHH dan langsung teringat tumpukan buku yang ada di lemari, ada yang masih di plastikin, kebuka tapi baru kebaca setengah dan yang paling nista itu Anna Karenina, udah setaun ngejogrok di sana tapi gak selesai2 bacanya -___________- btw buku aku udah selesai dibaca semuaaa?πŸ˜€ review dong reviewπŸ˜€

    • reza said:

      hehe..πŸ™‚ udah. tapi yg ttg CIA kok aku nggak minat ya.. nggak sampai seperempat udah ditutup lagi.

      jadi laporan singkatnya gini: Historian udah (sejak dahulu kala). The Money Dragon susah nyelesaikannya. Hot Flat and Crowded cuma tertarik baca nama penulisnya *parah*

      aku kemarin ke Bandung geb. sayang cuma singgah di rumah kenalan tok. mau ke tempatmu udah sore. macet parah lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: