Melihat Lebih Luas

Suatu hari, di sebuah kesempatan yang saya sudah lupa waktu dan tempatnya, seseorang berkata pada saya yang kira-kira begini isinya.

Saya tak habis pikir dengan orang-orang yang rajin berkampanye syariat dan jihad itu, seolah mereka ini benar sendiri. Padahal kan yang baik menurut mereka belum tentu baik menurut tuhan; jangan memaksakan kehendak dong…

Sekali lagi, karena saya lupa masalah detail mengenai pernyataan ini, saya hanya menampilkan poinnya. Ini bukan transkrip kata per kata. Tapi saya yakin poin yang hendak disampaikan orang ini adalah seperti yang saya tulis itu.

Apa yang menarik? Begini, kalimat terakhir orang itu sebenarnya merupakan sepenggal kutipan dari al Quran. Tepatnya di QS al Baqarah 216. Berikut kutipan lengkapnya.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS al Baqarah 216)

Saya tak sedang membicarakan tafsirnya. Hanya menunjukkan bahwa penegakan syariat jihad yang dibenci kawan saya itu ternyata disebutkan oleh Allah dengan redaksi yang sama sekali berbeda.

Oya, perlu dicatat bahwa saya tidak sedang mengomentari pernyataan mengenai memaksakan kehendak. Sayyid Quthb, dalam Ma’alim fit Thariq, saya kira sudah memberikan penjelasan yang cukup mudah dimengerti mengenai batasan “pemaksaan di dalam diin“ yang diizinkan oleh Islam; selain karena saya sedang tidak bicara mengenai poin itu kali ini.

Nah, melihat pernyataan kawan saya itu, luar biasa ironis bila dibandingkan dengan hal yang tersebut dalam al Quran, kan?

Ada lagi kasus populer yang sering mencuat ketika masyarakat bimbang, harus menuruti pemerintah—atau pihak-pihak berkuasa lainnya—atau ikut pada ijtihad pribadi atau ulama yang dinilai lebih dekat pada kebenaran. Seorang teman—orang yang berbeda dengan yang saya ceritakan di awal tulisan ini—pernah mengirimkan pesan singkat pada saya. Intinya agar saya mengikuti pemerintah untuk masalah penentuan awal Syawwal, tanpa mengkaji dalilnya lebih lanjut. Dalam pesan singkat tersebut, ia hanya menuliskan, “Wahai orang-orang beriman, taatlah pada Allah, taatlah pada Rasul, dan ulil amri di antara kalian,” sebagai dasar pertimbangannya.

Serupa dengan hal di atas, ini juga termasuk salah satu pengambilan simpulan berdasarkan sumber yang terpotong. Begini kutipan ayat lengkapnya.

Wahai orang-orang beriman, taatlah pada Allah, taatlah pada Rasul, dan ulil amri di antara kalian. Maka jika kalian berbeda pendapat mengenai sesuatu, kembalikan ia pada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian beriman beriman pada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih ahsan akhirnya. (QS an Nisaa’ 59)

Simpelnya, dalam memutuskan sesuatu, bila terjadi perbedaan pendapat di dalamnya, silakan kembalikan pada al Quran dan as Sunnah, bukan lantas bersikap, “apa kata pemerintah”. Hal ini serupa dengan yang disebutkan dalam nash berikut.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut oleh lidahmu secara dusta, ini “halal” dan ini “haram” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. (QS an Nahl 116)

Konsekuensi dari tidak mengamalkan ayat ini ternyata berat bagi kedua belah pihak, penguasa dan pengikutnya. Hal ini tercermin dalam ayat berikut.

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya andai kami taat pada Allah dan taat pada Rasul.” Dan mereka berkata, “Yaa rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Yaa rabb kami, timpakanlah pada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS al Ahzab 66-68)

Maka semoga kita tak lupa pada Ibrahim ‘alaihissalam, Isa ‘alaihissalam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai Syaikhul Islam Ibn Taimiyah yang berseteru dengan penguasa. Sebab yang perlu kita ambil pelajaran dari mereka adalah bahwa kesalahan bisa jadi dilakukan oleh penguasa atau pembesar kaum kita. Sementara kita wajib berlepas diri darinya, seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita yang shalih itu.

Terakhir, saya menjumpai hal unik yang saya baca di buku tentang Muhammad Natsir, terbitan Tempo. Berkomentar tentang Natsir (dan pandangannya mengenai pendirian negara Islam), pendiri Masyumi sekaligus salah satu perdana menteri Indonesia, Adnan Buyung Nasution berkata,

Ibadah itu menyangkut hukum Islam yang mengatur soal hubungan manusia dan tuhannya. Itu sudah harga mati. Yang bisa diatur adalah urusan muamalah atau kehidupan bersama antara ummat Islam dan ummat yang lain—atau urusan bernegara. Allah sendiri berfirman, kalau urusan di antara kamu, aturlah… Begitu sering dikatakan Natsir. Jadi memang kalau menyangkut urusan bersama, hukum harus disepakati oleh dua pihak secara demokratis. Tidak bisa pihak Islam memaksakan kehendaknya.

Saya tak mau berkomentar banyak mengenai hubungan antara Natsir dengan Buyung, mengingat saya tak pernah punya interaksi dengan Muhammad Natsir, selain dari buku-buku karyanya serta dari rekaman audio yang menunjukkan betapa menggebunya Natsir menyamakan Soeharto dengan thaghut asal Mesir itu: Fir’aun.

Yang menarik adalah pengambilan simpulan Buyung yang begitu simplistis. Tentu, bila kita bersedia meluangkan waktu sejam-dua jam saja untuk mempelajari hadis—bukan firman Allah, seperti yang dibilang Buyung—kita akan tahu di mana letak perbedaan urusan dunia dan urusan diin seperti yang disinggung Buyung itu.

Lantas apa jawaban saya atas penyusunan hukum yang menurut Buyung “harus disepakati oleh dua belah pihak secara demokratis”? Ayat-ayat yang saya kutip di atas kiranya sudah mampu memberikan sedikit jawaban. Ditambah lagi,

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah… (QS al An’aam 57)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku beriman pada apa yang diturunkan padamu dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak berhakim pada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan pada mereka, “Marilah (tunduk) pada hukum yang Allah telah turunkan dan pada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafiq menghalangi dengan penghalangan yang sangat kuat. (QS an Nisaa’ 60-61)

***

Orang Jawa mengenal istilah “jarkoni”—iso ngajar, gak iso ngelakoni (bisa mengajarkan, tapi tak bisa menerapkan dalam kehidupan nyata). Guyonan kita sehari-hari menyebutnya “NATO”—no action talk only. Ini barangkali adalah salah satu fenomena nyata yang mudah ditemui di lapangan. Seperti yang telah saya sebutkan, tak sekali-dua kali saya bertemu dengan orang-orang ini: berteriak-teriak agar melihat dengan perspektif lebih luas, menambah referensi bermacam-macam, tapi secara bersamaan, di beberapa kesempatan mereka memilih untuk memenggal beberapa dasar argumen supaya sesuai dengan kesimpulan awal yang ia susun sebelumnya.

Yang saya tuliskan di atas adalah contoh bagi kita agar konsisten dengan ucapan kita. Bila memang meminta orang lain untuk berpikiran luas, silakan mulai dari diri sendiri dulu untuk membaca dan mendengar sebanyak mungkin sebelum memberikan komentar. Lagipula, sejak awal memang tak ada yang salah dengan membaca dan mendengar lebih banyak. Toh dengan begitu akan ada simpulan bermutu yang didasarkan dari dasar yang jelas.

Sebabnya macam-macam. Saya tentu tak bisa menimpakan kesalahan pada orang-orang tertentu saja. Misalnya, karena keterbatasan sumber bacaan. Atau karena kita berada pada masa “tsunami informasi”, di mana informasi membanjir masuk ke ruang baca kita. Atau, yang parah, kita sudah punya kecenderungan untuk berpihak pada simpulan tertentu.

Sikap deduktif—menyusun simpulan terlebih dahulu baru melihat rincian yang mendukung simpulan itu—buat saya bukan proses berpikir yang baik. Sebab kita akan kesulitan melihat fakta yang bertentangan dengna simpulan awal kita untuk menarik hasil akhir yang lebih dekat dengan kebenaran. Contohnya bisa kita lihat di kawan yang saya sebutkan pertama kali. Dia membaca al Quran, tapi entah karena ia sudah punya simpulan tertentu, atau tak tuntas membaca satu ayat itu, hingga akhirnya menarik simpulan yang sama sekali bertentangan dengan dalil yang sudah jelas itu.

Ada bertumpuk contoh yang bisa saya tampilkan—saya sedang dalam kerja menuju penyusunan tulisan itu. Namun, dari tiga contoh ini, paling tidak ada pelajaran penting yang bisa kita tarik. Banyak-banyaklah membaca dan mendegar. Jadikan informasi sebagai penyusun simpulan, bukan pembenar atas pikiran kita. Dan yang terpenting, lihatlah perkara dengan perspektif yang lebih luas. Jangan sampai kata-kata ini terhenti sebatas jargon belaka.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: