Mengapa Takut pada Pers Mahasiswa?

Beberapa bulan belakangan adalah waktu kritis bagi Media Center untuk berbenah diri. Ada dua momen penting dalam hal ini. Pertama, pergantian kepengurusan dan pembenahan di beberapa bidang, terutama redaksi, yang menjadi bagian dari fokus kami tahun ini. Kedua, ini yang menarik: tak seperti biasanya, suara-suara “protes” menghampiri ruang redaksi kami.

Hal pertama tentu tak bisa dilepaskan dari dinamika di tiap organisasi mahasiswa tiap tahun. Ini bukan hal yang istimewa. Sementara peristiwa kedua jelas perlu diperhatikan. Ada bermacam suara yang sampai ke kami seperti keluhan mengenai berita-berita basi yang perlu waktu cukup lama untuk menunggu jadwal terbit tabloid, sampai tendensi Media Center untuk menampilkan “borok” organisasi-organisasi mahasiswa, tanpa turut merekam jejak-jejak positif yang ditinggalkan warga kampus.

Mari mengkajinya dari sudut pandang tugas pers sebagai watch dog (anjing penjaga). Maksudnya, salah satu fungsi pers adalah memantau kinerja pihak-pihak yang berkuasa supaya tetap berada dalam jalurnya. Bila ditemukan kesalahan, ingatkan. Bila ada hal positif dalam kinerjanya, berikan apresiasi. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Elements of Journalism menulis rumusan sederhana mengenai hal ini. “Wartawan,” tuilsnya, “harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan.”

Setelah jelas bahwa kita perlu melacak tiap penyalahgunaan wewenang, perlukah memberikan perhatian khusus pada prestasi yang telah dicapai? Jawabnya, tetap perlu, tetap penting. Tapi mengapa Media Center terkesan memojokkan organisasi mahasiswa yang sedang punya hajat, yang kemudian diindikasikan timbul kesalahan di dalamnya? Ini terkait dengan prioritas Media Center dalam menjalankan fungsinya.

Di tengah terbatasnya tenaga dan jangkauan informasi, kami memprioritaskan untuk meliput hal-hal yang tak semestinya terjadi. Mengapa? Sebab hal-hal negatif cenderung akan berkembang jadi budaya bila tak ditanggulangi—atau paling tidak, dikenali—sejak dini. Di sini, Media Center mengambil perannya sebagai lembaga pers mahasiswa. Caranya, dengan mengangkat masalah ini ke permukaan agar perhatian pembaca produk-produk Media Center terfokus di masalah tersebut.

Nah, masalah keterbatasan sumber daya manusia dan jangkauan informasi inilah yang membawa lembaga pers di mana pun pada sistem komunikasi dua arah antara pers dengan audiensnya. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, masih dalam buku yang sama, memberikan contoh menarik mengenai hal ini. Joe Conason, penulis yang bekerja untuk Majalah Salon menjumpai ketidakakuratan data yang ditampilkan situs online Majalah Slate, suatu hari di tahun 1999. Ia lantas mengirimkan email yang mengoreksi pemberitaan tersebut. Email ini kemudian ditindaklanjuti dengan memuat berita yang telah direvisi—dengan menampilkan pemberitahuan bahwa tulisan itu telah direvisi—sambil menampilkan link yang memuat berita lama yang belum direvisi serta konten email yang dikirim oleh Conason.

Di sinilah kita menjumpai adanya komunikasi dua arah antara wartawan dengan pembaca berita. Di sini pulalah kerja terpenting seorang wartawan—verifikasi; atau pengecekan kebenaran suatu data—lebih mudah dilakukan dengan sistem yang lebih fair dan lebih sehat. Akibatnya, wartawan lebih dituntut untuk menyediakan informasi yang bermutu—kalau tidak, reputasi kewartawanan mereka yang jadi taruhan; dan pembaca berita dituntut lebih aktif dalam memberikan respon berupa kritik maupun saran. Hasil akhirnya, berita yang ditampilkan pun akan jauh lebih dekat pada fakta yang terjadi di lapangan.

Komunikasi dua arah ini menjadikan pers benar-benar berfungsi sebagai corong bagi suara audiensnya. Hal ini terkait erat pada elemen jurnalisme lainnya, bahwa loyalitas teringgi seorang wartawan adalah pada pembacanya, bukan yang lain. Artinya, wartawan perlu menyusun berita dengan motivasi memberikan informasi yang faktual, yang bermanfaat bagi pembacanya dalam menentukan sikap.

Tapi, sekali lagi, komunikasi dua arah ini jelas membutuhkan pembaca sebagai mitra kerja. Arief Zulkifli, Redaktur Utama Majalah Tempo, suatu hari pernah bercerita di akun twitter-nya, bahwa Tempo tiap hari kebanjiran surat-surat kaleng mengenai masalah yang bermacam bentuknya. Tugas tim redaksi akhirnya menjadi jelas dan fokus: verifikasi; membuktikan kebenaran berita dalam surat kaleng itu.

Peran seperti inilah yang sebenarnya kami harapkan dari mahasiswa: memberikan umpan sekaligus respon balik—tentu tanpa menafikan peran aktif mahasiswa yang selama ini turut bersuara melalui produk-produk jurnalistik Media Center. Bila ada suatu hal yang sekiranya perlu diketahui orang banyak, mahasiswa bisa meminta media untuk melakukan proses verifikasi. Bila ada berita yang dianggap ditulis dengan cara yang tak seimbang, atau memiliki diksi tak sesuai, mahasiswa bisa meminta media untuk membenahinya melalui rubrik “suara pembaca” maupun “opini” yang hari ini sudah terdapat di media massa mana pun.

Dalam melakukan tugas reportase, ada satu prinsip yang selalu ditekankan setiap rapat redaksi: cover both side. Sayangnya, beberapa kali tim reporter Media Center berjumpa dengan kondisi di mana prinsip ini tak terpenuhi sebab tak ada pihak terkait yang mau memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang kami temukan. Kalau satu pihak menolak menggunakan hak bicara, wajar kiranya bila reporter terpaksa menuliskan apa adanya. Sebab dalam prinsip verifikasi, ada aturan untuk tidak menambahi sesuatu yang tidak ada, tidak menipu audiens, bersikap transparan dalam liputan, mengandalkan reportase pribadi—bukan milik orang lain, dan bersikap rendah hati terhadap kesalahan liputan yang mungkin terjadi.

Kami tentu tak ingin mengelabui pembaca dengan membuat atau menghapus pernyataan tertentu demi popularitas. Ini karena eksistensi kami tak tergantung dari seberapa populer berita yang tampil di produk jurnalistik Media Center, tapi terletak pada seberapa akurat berita yang tertulis di sana. Lembaga pers konvensional meletakkan pondasi bisnis mereka pada popularitas sebab ia begitu bergantung pada pemasukan dari iklan yang dipasang di media tersebut. Sementara Media Center tidak hidup dari iklan. Ia hidup dari ekspektasi mahasiswa—atau perwakilan mahasiswa—bahwa Media Center masih punya harapan untuk menampilkan data yang dapat dipercaya.

Bila hal-hal di atas dianggap sebagai apologi kami atas hal-hal yang harusnya jadi tanggung jawab kami, izinkan saya mendudukkan masalah ini sekali lagi, agar lebih jelas. Pertama, tanpa bermaksud mengalihkan tanggung jawab kami pada pembaca, saya berpendapat bahwa mahasiswa perlu turut lebih berpartisipasi dalam menyediakan budaya pers yang sehat. Caranya adalah dengan memberikan masukan yang akan ditindaklanjuti oleh pegiat pers mahasiswa. Bentuknya bisa jadi berupa opini, surat pembaca, atau informasi yang diberikan secara lisan pada reporter yang dikenal.

Kedua, dalam menjalankan fungsinya sebagai watch dog, pers berperan dengan membuka jalan bagi transparansi lebih lebar lagi. Caranya ialah dengan menuliskan artikel berdasarkan data yang dimiliki, bukan dengan berasumsi atau meniupkan propaganda tertentu.

Pers, secara umum, memiliki tugas untuk menyediakan informasi yang faktual yang dibutuhkan masyarakat agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri. Salah satu implementasinya adalah berperan sebagai watch dog, dengan memantau kuasa supaya tak jadi absolut. Harapannya, kewaspadaan yang timbul dari kontrol masyarakat melalui pers ini mampu membantu memperbaiki kinerja pihak-pihak yang sedang dipantau performanya. Nah, sesederhana itulah sebenarnya tujuan adanya pengawasan terhadap kinerja pihak yang punya wewenang.

Jadi, mengapa masih takut pada pers mahasiswa?

Reza Syam Pratama
Pemimpin Redaksi Media Center STAN

*tulisan ini adalah versi asli (tanpa edit) dari artikel yang dimuat di rubrik opini Tabloid Civitas #17.
**ada tulisan menarik mengenai errata, masih berkaitan dengan salah satu poin artikel ini, di sini.

5 comments
  1. DSM said:

    eh, kok paragraf awalnya beda sama di majalah, za? ini kena editor’s cut mestinya ya?

    • reza said:

      sepertinya begitu, mas.

  2. DSM said:

    tabloid maksudnya.

  3. cendi said:

    keren

    • reza said:

      Terima kasih. Saya lihat di link yang Mas Cendi tautkan. Mas Cendi PU LPM di Politeknik Ganesha? Akan bagus kelihatannya bila kita menjalin komunikasi antar-LPM ya. Menurut Mas Cendi gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: