Menjawab Keterjagaan Malaikat dan Rasul

Ini mungkin akan jadi post yang sangat pendek mengingat tulisan ini tadinya ditujukan sebagai komentar atas artikel yang ditulis oleh seseorang di suatu tempat. Tulisan ini mungkin juga akan jadi pembuka rangkaian tulisan saya, insya Allah, mengenai alasan saya memilih Islam, bukan diin yang lain.

Pertanyaan pertama adalah: apa yang dimaksud ma’shum itu?

Secara bahasa, ma’shum berarti “yang terjaga” atau “yang terkawal”. Umumnya, kata ini digunakan untuk menjelaskan keterjagaan para rasul terkait perannya dalam lingkup keislaman. Untuk mempermudah bahasan ini, ma’shum bisa kita kelompokkan jadi dua: terjaga dari penyimpangan dalam menyampaikan wahyu, dan terjaga dari kealpaan atau kelalaian.

Pembahasan mengenai keterjagaan para malaikat dan rasul menjadi penting karena hal ini secara langsung terkait dengan validitas risalah; mengingat perantara kita dengan Allah dalam hal wahyu adalah malaikat dan para rasul.

Sebelum memasuki bahasan lebih lanjut, saya ingin menyampaikan sedikit catatan: mengingat malaikat dan turunnya wahyu yang juga melibatkan rasul adalah hal gaib yang otomatis tidak bisa ditangkap dan diolah oleh indra dan akal manusia biasa—manusia yang tidak berstatus sebagai rasul atau orang-orang yang secara istimewa diberi pengecualian atas hal ini—maka cara paling fair untuk memahaminya, menurut saya, adalah mengembalikannya pada pemilik sesuatu yang gaib itu.

Allah maha mengetahui hal yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan hal gaib pada siapa pun, kecuali pada rasul yang Ia ridhai. (QS al Jin 26)

Mengenai kema’shuman malaikat, al Quran mencatat,

Dan mereka berkata, “Rabb yang maha pemurah telah mengambil (memiliki) anak,” Maha suci Allah, sesungguhnya mereka (para malaikat) itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan yang tidak mendahuluiNya dengan ucapan dan mereka melaksanakan perintah-perintahNya. (QS al Anbiyaa’ 26-27)

Sesungguhnya mereka (malaikat) tidak berma’shiyat pada Allah terhadap apa yang diperintahkan pada mereka dan mereka senatiasa melaksanakan apa yang diperintahkan. (QS at Tahrim 6)

Rangkaian ayat pertama berkorelasi dengan malaikat sebab, meski tidak disebut secara leterlijk bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah malaikat, Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb ketika menafsirkan ayat ini sama-sama mencatat bahwa ayat ini turun untuk menjawab pandangan umum masyarakat Arab jahiliyah bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.

Dari ayat tersebut, sudah jelas kiranya keterangan al Quran mengenai posisi keterjagaan malaikat dalam menyampaikan wahyu. Dan jaminan ini disampaikan Allah sendiri melalui al Quran. Memang, akan ada pertanyaan semisal, bagaimana kita melakukan cek ulang mengenai kebenaran jaminan ini mengingat malaikat sendiri boleh jadi melakukan kesalahan dengan memutarbalikkan wahyu yang seharusnya mereka sampaikan—sementara kita tidak memiliki instrumen apa pun untuk mengecek kinerja malaikat?

Menjawab argumen ini, hal yang perlu kita lakukan adalah melihat kebenaran al Quran dari aspek lain yang terkandung di dalamnya. Contohnya adalah dengan mencari premis-premis yang saling bertentangan dalam al Quran, seperti yang Allah jelaskan di ayat berikut.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al Quran? Kalau kiranya al Quran itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an Nisaa’ 82)

Mengingat pembuktian mengenai an Nisaa’ 82 ini memerlukan pembahasan yang cukup panjang, untuk artikel ini, mari kita cukupkan saja dengan asumsi bahwa informasi mengenai hal yang gaib yang tertulis dalam al Quran dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

Sementara itu, mengenai para rasul, Allah berfirman,

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan padamu dari rabbmu dan jika kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanatNya. Allah akan memeliharamu dari manusia, sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk pada orang kafir. (QS al Maidah 67)

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ma’shum dan berbagai derivat kata ini terkait dengan makna keterjagaan. Tapi ini tidak lantas membuat beliau terjaga dari rasa sakit atau kematian. Allah berfirman,

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat pada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan pada orang-orang yang bersyukur. (QS Ali Imran 144)

Mengkaji ayat lain yang bicara tentang hal serupa, kita mendapati bahwa keterjagaan itu terkait dengan masalah risalah.

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan padamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau begitu, tentulah merkea mengambil kamu jadi sahabat setia. Dan kalau Kami tidak memperkuatmu, niscaya kamu nyaris condong sedikit pada mereka. (Al Israa’ 73-74)

Maka tuntas sudah jawaban Allah mengenai jaminanNya terhadap risalah kenabian. Allah sendiri yang menguatkan sang rasul hingga apa yang sampai pada kita sudah terjamin otentisitasnya.

Tapi, di suatu ketika, Rasul ternyata pernah melakukan kesalahan terkait pelaksanaan syariat yang beliau kabarkan. Seperti ketika beliau bermasam muka saat menghadapi Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu atau saat beliau bersikap pada sebagian istrinya. Lantas bagaimana sikap kita? Apakah ini berdampak pada kebenaran risalah lain yang juga sampai pada kita melalui perantara Rasul?

Yang harus dipahami adalah pertama, kesalahan seperti yang saya sebutkan di atas itu sama sekali tidak terkait pada otentisitas risalah. Ia hanya terkait pada pengamalan rasul terhadap syariat tertentu. Dalam hal ini, Rasul melakukan kesalahan yang kemudian segera dikoreksi dengan turunnya wahyu untuk mengingatkan beliau. Dan kesalahan ini—apalagi ia sudah dikoreksi oleh turunnya wahyu—tidak menggeser standar kebenaran yang telah baku: al Quran dan as Sunnah.

Kedua, bila ternyata pengamalan rasul terhadap syariat tertentu itu salah, bagaimana sikap kita? Hal yang kemudian harus dipahami adalah bahwa sebagaimana para shahabat saat Rasul masih ada di sisi mereka, tiap kesalahan Rasul selalu mendapatkan teguran dari Allah. Contohnya bisa diambil melalui surat Abasa dan at Tahrim.

Wahai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah maha pengampun, maha penyayang. (QS at Tahrim 1)

Maka, dengan premis tersebut, kita akan sampai pada pernyataan bahwa tanpa ada peringatan dari Allah, kita bisa menyebut apa yang dilakukan oleh rasul itu sudah mendapat persetujuan dari Allah—mengingat bahwa Rasul adalah “wakil” Allah dalam menjelaskan syariatNya, tentu hal yang wajar bila jaminan atas kebenaran risalah itu Allah nyatakan dalam penjagaan nyatanya terhadap orang-orang yang Ia pilih untuk menjelaskan risalahNya.

Nah, sekarang saatnya kita bertanya pada diri sendiri, berdasarkan pertimbangan dan pengetahuan kita tentang sejarah, adakah kesalahan Rasul yang tidak dikoreksi oleh Allah? Kalau memang ada, dalam hal apa, dan Rasul melanggar syariat yang mana? Tolong beritahu saya, sebab saya hingga kini belum menemukan hal yang demikian.

Jadi demikianlah secuil penjelasan mengenai kema’shuman sang rasul. Intinya barangkali begini: berdasarkan informasi al Quran, kesalahan rasul yang berkaitan dengan wahyu sudah dijamin nihil dengan adanya jaminan ma’shum dari Allah. Sementara kesalahan yang terkait kelalaian dan sifat-sifat kemanusiaannya masih mungkin terjadi yang diikuti dengan turunnya beberapa ayat untuk memperingatkan Rasul atas kesalahannya itu.

-RSP-

Iklan
2 comments
  1. Nice blog, Mas. I will surely learn a lot here. Keep writing, no matter what 🙂

    • reza said:

      innalhamda lillaah. iya, insya Allah. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: