Satu Kemiripan Tak Membuat Seluruh Bagian Menjadi Sama

Lama tak rutin berkunjung ke blog Ustadz Waskito—karena setahun yang lalu beliau sempat mengumumkan rencana pembekuan blognya—baru beberapa waktu belakangan ini saya kembali buka-buka blog tersebut. Ternyata sudah banyak artikel baru yang muncul, kali ini yang menarik terutama tulisan-tulisan terkait Syiah dan kedustaan beberapa oknum kaum muslimin dalam kutip-kutip kitab karya ulama’.

Ada satu artikel yang ditulis untuk menjawab komentar yang masuk di artikel sebelumnya. Bisa di baca di sini. Intinya, beliau membantah komentator yang menyamakan iman Kristen dengan aqidah “Wahhabi”, yang meyakini bahwa Allah istiwa’ di atas ‘arsy plus menolak takwil atas sifat-sifat Allah yang tertera dalam al Quran.

Dalilnya bermacam-macam, tapi berujung pada satu argumen yang sama. Di antara kesamaan itu, ada perbedaan-perbedaan yang menjadi pembatas, dan beda itu punya intensitas lebih besar daripada persamaannya.

Contohnya, meski sama-sama mengklaim bahwa Allah bersemayam di “atas”, tapi persepsi antara aqidah Islam dengan Kristen berbeda tentang hal ini. Pemeluk Kristen menyebut bahwa Allah bertahta di surga, sementara kaum muslimin meyakini bahwa Allah bersemayam di atas ‘arsy. ‘Arsy dan jannah jelas merupakan dua entitas yang berbeda.

Dalam al Quran, ‘arsy selalu diidentikkan dengan “singgasana” Allah. Sementara jannah adalah tempat yang Allah sediakan bagi hambaNya yang beriman kelak. Tidak ada informasi apa pun, dalam al Quran, yang menunjukkan bahwa keduanya adalah entitas yang sama.

Kemudian, keyakinan Kristiani mengajarkan bahwa dari tiga-dalam-satu oknum ketuhanan itu, Allah Bapa-lah yang berada di langit. Sementara Islam jelas tidak mengajarkan demikian. Bahkan, al Quran menafikan sisa keimanan orang-orang yang mengklaim bahwa ada tiga oknum ketuhanan itu (QS 5:17)

Masih banyak bantahan yang ditulis Ustadz Waskito dalam artikel tersebut. Silakan baca artikelnya bila ingin memahami lebih lengkap sebab yang ingin saya tulis di sini memang bukan mengenai masalah perbandingan khusus antara aqidah Islam dengan doktrin Kristen. Di samping itu, penjelasan Ustadz Waskito di situ menurut saya sudah sangat lengkap dan mudah dipahami.

Artikel ini secara kebetulan mengingatkan saya pada berbagai diskusi yang saya ikuti di facebook—di mana saya juga cukup sering jadi bagian aktif dalam diskusi tersebut—beberapa bulan lalu. Di salah satu forum, waktu itu, dilemparlah sebuah gagasan bahwa Islam tak ada bedanya, atau minimal serupa walau beda sedikit, dengan diin yang hari ini dianut oleh banyak orang: demokrasi. Argumennya biasanya juga seragam; bahwa demokrasi menyediakan kebebasan berpendapat, membuka ruang musyawarah, dan pokok penyusunnya (Pancasila dan sebagainya) tidak bertentangan dengan satu pun dalil dalam al Quran maupun as Sunnah.

Pertanyaannya, apakah benar Islam menyediakan kebebasan berpendapat dan membuka ruang musyawarah seperti halnya demokrasi? Bisa iya, bisa tidak. Benar bila dibilang Islam menyediakan kebebasan berpendapat bila kita mencermati kisah seorang wanita yang memprotes amirul mu’minin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dalam hal mahar. Benar bila dibilang Islam membuka ruang musyawarah bila kita melihat perundingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para shahabatnya menjelang Perang Uhud.

Tapi sebatas bingkai inikah kita menilai Islam, menggeneralisasinya, kemudian membandingkannya dengan diin lain?

Mari cermati argumen Ustadz Waskito di atas dan gunakan logika dasarnya untuk menilai sehat atau tidaknya pola pikir kita. Di artikel tersebut, beliau menjawab argumen bahwa di antara kesamaan yang ditemukan, terdapat perbedaan yang punya penekanan lebih. Contohnya seperti yang sudah saya sebutkan. Islam menolak mentah-mentah klaim kaum Nashrani atas Isa ‘alaihissalam ketika ia dinobatkan sebagai salah satu oknum ketuhanan; bahkan menganggap mereka yang berpendapat seperti itu sebagai orang kafir, orang yang keluar dari keimanan.

Jadi meski terdapat kemiripan dalam pernyataan ketuhanan antara Islam dengan Kristen, keduanya tetap memiliki klaim kebenaran absolut masing-masing. Al Quran menafikan segala diin selain Islam (QS 3:85), sementara ummat Katolik abad pertengahan memiliki idiom, “extra ecclesian nulla sallus”. Al Quran menyebut Allah bersemayam di atas ‘arsy, sementara Injil mengajarkan bahwa Ia bertempat di surga. Daftar perbedaan ini akan semakin panjang bila kita memang berkehendak meneruskan.

Begitu halnya dengan cara berpikir kita saat membandingkan Islam dengan demokrasi. Tak setiap kemiripan membuat seluruh bagian dari objek penelitian jadi bersifat serupa. Memang ada beberapa kemiripan antara ajaran Islam dengan poin-poin demokrasi. Tapi bedanya juga banyak dan substansial.

Beda yang bersifat substansial itu misalnya begini. Demokrasi menempatkan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat. Akibatnya, tiap hukum yang hendak diberlakukan harus mendapat persetujuan dari wakil rakyat di parlemen. Jadilah wakil-wakil rakyat ini sebagai musyari’ atau pembuat hukum.

Masalahnya, al Quran tak sejalan dengan pola kedaulatan seperti ini. Al Quran menyebut bahwa kewenangan menetapkan hukum hanyalah milik Allah (QS 6:57). Bila mau berfokus pada penelaahan tema ini (rencananya saya tuliskan di artikel lain yang sudah saya siapkan draft-nya), kita akan bertemu dengan pembahasan mengenai kandungan syahadatain yang bisa dinukil, misalnya, dari al Islam-nya Said Hawwa atau Ma’alim fit Thariq plus Fii Zhilalil Quran-nya Sayyid Quthb.

Mengapa saya sebut substansial? Ini karena masalah kedaulatan adalah salah satu bagian dari makna syahadat yang dijelaskan oleh para ulama’ yang baru saja saya sebutkan itu. Bila aturan dalam masalah syahadat itu terlanggar, bisa jadi syahadat seseorang jadi batal. Syahadat yang batal otomatis mengeluarkan pelakunya dari keislaman.

Singkatnya, para ulama itu berargumen bahwa karena definisi “ibadah” menurut bahasa Arab kira-kira berarti penyembahan, ketundukan total, dan kecintaan, maka menyembah dengan cara tunduk dan cinta pada syariat lain selain syariat Allah bisa disebut sebagai salah satu perbuatan kekufuran. Penegas berupa nash yang terdapat dalam al Quran pun bertebaran. Salah satunya, yang cukup sering dikutip, bisa kita jumpai di QS 5:47.

Pemikiran gothak-gathuk (mencari-cari kesesuaian; biasanya cenderung memaksa) seperti ini akan membawa kita menyamakan hal-hal yang digariskan dalam Islam dengan kemaksiatan yang bercampur-baur dengan maslahat, apalagi yang punya kedekatan dengan sebagian ajaran Islam.

Misalnya, revolusi nabawiyah, melalui hijrah dan jihad, yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam demi menegakkan hukum Allah kemudian disamakan dengan revolusi Prancis atau semaraknya Musim Semi Arab yang ditandai dengan penggulingan kuasa diktator yang telah bersemayam sejak puluhan tahun lalu. Atau pembandingan amaliyah isytisyhadiyah yang dilakukan di medan peperangan oleh para mujahidin dengan mereka yang putus asa mengakhiri hidupnya.

Tapi untuk yang terakhir ini, tak perlu dipikir dalam-dalam. Mereka yang belajar fiqh jihad jelas akan menganggap ini benar-benar lucu.

Memang benar, mereka meruntuhkan rezim yang zhalim lagi korup. Tapi penegakan diin lain selain diin Islam pun tak dibenarkan. Penegakan syariat lain selain syariat Allah juga bukan hal yang selaras dengan semangat Islam. Ini seperti meruntuhkan kandang babi untuk mendirikan rumah judi. Sebab memakan babi adalah haram—dan makanan haram menyebabkan berbagai dampak negatif seperti terbukanya peluang tiap daging yang tumbuh darinya terjilat api neraka serta terhalangnya doa-doa—dan nilai manfaatnya bagi kemashlahatan ummat dinilai kecil, maka didirikanlah rumah judi dengan alasan, misalnya, judi punya peran penting dalam mempercepat pertumbuhan perekonomian nasional.

Kalau konsisten dengan pola pikir seperti ini, sebenarnya akan lebih banyak lagi kita temui kemiripan ajaran Islam dengan diin yang lain. Dengan sosialisme, fasisme, atau bahkan ajaran-ajaran Yahudi.

Mereka yang vokal menyuarakan perjuangan kelas buruh, misalnya, tentu melihat adanya kesamaan dengan kisah Bilal, bekas budak yang dibebaskan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma. Mereka yang punya kebanggaan berlebih terhadap golongannya—negara, suku, apa pun itu—mungkin akan melihat kemiripan dengan QS 3:139, serta sikap Rub’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu di hadapan Rustum saat Perang Qadisiya. Dan akan ada sangat banyak kemiripan antara Islam dengan Yahudi; mulai dari bahasa kitab sucinya sampai syariat dari beberapa kaifiyat ibadah.

Lho? Bukankah yang tak bisa mensyukuri nikmat yang kecil, tak mampu mensyukuri yang besar? Bukankah di antara nikmat yang kecil itu adalah terbukanya ruang untuk musyawarah—baik itu melalui institusi formal semisal dewan syuro atau majelis permusyawaratan maupun kebebasan untuk berpendapat, seperti yang di antaranya dicontohkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu saat menjabat sebagai amirul mu’minin?

Saya kira ini bukan masalah bersyukur atau tidak. Tapi lebih pada validitas pernyataan kawan-kawan diskusi saya bahwa Islam serupa dengan demokrasi, dan karenanya (menurut kawan saya itu) kita perlu menerimanya bulat-bulat dan memutlakkan klaim urgensinya..

Saya ingin menunjukkan bahwa adanya kesamaan di beberapa hal itu tak lantas membuat kita bisa menggeneralisasinya. Ada hal-hal ushul (pokok) yang unik dalam tiap diin, khususnya Islam, yang tak ditemui pada diin lain. Maka, usaha-usaha untuk menganggapnya sama akan lebih terlihat sebagai wujud dari pola pikir yang rancu.

-RSP-

5 comments
  1. abisyakir said:

    Assalamu’alikum…

    Alhamdulillah syukur, semoga Antum senantiasa dalam kebaikan, rahmat, dan pertolongan Allah. Amin.

    Saya hanya ingin sedikit komentar soal “bahasa tulisan” Antum, bukan masalah substansinya…

    Membaca tulisan seperti ini rasanya lembut sekali, penuh sopan santun, kita seperti dibawa “keliling-keliling” tamasya intelektual kemana-mana. Inilah bahasa khas kaum intelektual, runut, dialektis, memiliki value tertentu; tetapi tetap dalam koridor “fatsoen” penulisan. Dulu orang-orang liberal di ICMI menggagas jurnal “Ulumul Qur’an”. Rasa bahasanya persis seperti tulisan Antum ini. Kemudian kawan-kawan ustadz Tarbiyah, seperti Dr. Hidayat Nur Wahid, membuat jurnal tandingan. Bahasanya mirip, tetapi esensinya berbeda.

    Andai dianggap capaian, apa yang Antum tulis sudah mendekati “standar bahasa intelek Muslim”. Tinggal banyak membaca dan memasukkan referensi. Itu saja. Ibarat teknik beladiri, Antum sudah memiliki banyak jurus. Tinggal memperkuat jurus itu dengan tenaga dan kecepatan.

    Kalau saya, sudah habitatnya menulis dengan standar seperti yang Antum lihat selama ini. Ada kelebihan dan kekurangan. Semoga Allah memberikan manfaat atas jerih-payah kita di dunia penulisan. Amin.

    AMW.

    • reza said:

      wa’alaikumussalam.

      innalhamda lillaah. saya termasuk di antara orang yang dapat manfaat dari tulisan-tulisan antum. semoga Allah juga menganugerahkan antum kemudahan dalam da’wah. aamiin.

  2. Rien said:

    Assalamu’alaikum, izin share di fesbuk, boleh ya🙂

    • reza said:

      wa’alaikumussalam. silakan, bu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: