Bikin Buku

Tahun kemarin, ada beberapa anjuran buat saya untuk menulis buku. Beberapa berbentuk ajakan untuk menjadi co-author sebuah buku. Yang lainnya biasanya berupa pertanyaan, “Kapan nulis buku?”

ilustrasi: lacrosselibrary.org

Anjuran pertama datang dari beberapa teman di kampus. Ada yang menyarankan mengumpulkan tulisan saya dan dipublikasikan dalam ebook. Berikutnya datang dari akh Iqbal. Beliau beberapa kali mengajak saya menulis buku. Tema bukunya jelas: Islam. Tak lain karena saya sudah sekitar tiga tahun cukup rutin menulis dengan tema ini.

Mendengar pertanyaan ini, saya biasanya tersenyum dan bilang, “Nggak tau. Belum waktunya,” atau kata-kata sejenis.

Ah ya. Ada lagi ajakan untuk menulis kumpulan cerpen bertema tertentu (saya rahasiakan ya temanya J) dari beberapa anggota komunitas baca di sekitar Bintaro. Tapi karena koneksi internet saya yang buruk, komunikasi di saat penting itu terputus. Tahu-tahu, saya sudah lihat sampul buku beserta rencana terbitnya di akun twitter orang yang mengajak saya itu.

Sebenarnya, saya sudah punya rancangan tulisan sebanyak dua ratusan halaman yang saya tulis sejak SMA dulu. Struktur tulisannya juga sudah jelas. Sumbernya juga kira-kira valid. Tapi setelah dibaca-baca lagi, saya merasa belum punya kecukupan literasi untuk bikin sebuah kumpulan tulisan yang bermanfaat.

Terasa perfeksionis? Mungkin. Tapi bagi saya, menulis dengan tema keislaman punya dua tanggung jawab yang harus dipenuhi bersamaan: tanggung jawab ilmiah dan tanggung jawab pada pemilik diin ini. Yang pertama mengharuskan saya menulis buku yang membuat pembacanya berpikir kritis, tak hanya menerima—atau sebaliknya, menolak mentah-mentah—semua yang saya tuliskan.

Sementara yang kedua mewajibkan saya berhati-hati terhadap apa yang saya tulis. Jangan sampai yang tertulis di situ bertentangan dengan apa yang terdapat dalam al Quran dan as Sunnah. Lha wong para shahabat saja ringan berkata, “Allahu wa Rasuluhu a’lam,” atas hal-hal yang tidak mereka ketahui. Siapakah saya yang menulis semena-mena terhadap apa yang saya jahil tentangnya?

Kalau begitu masalahnya, bukankah solusinya tinggal memperbanyak bahan bacaan?

Yap. Harusnya begitu. Tapi entah kenapa, hingga kini saya merasa belum menemukan waktu yang cukup luang untuk menelaah beberapa referensi penting yang ingin saya baca. Siklus hidup saya di STAN memang terasa cepat. Pekan ini ujian, rehat sejenak, kemudian disibukkan dengan kegiatan sebagai pemimpin redaksi di pers kampus plus kegiatan-luar-kampus yang harus saya penuhi. Diiringi dengan daftar bacaan yang saya wajibkan diri saya untuk penuhi.

Dan tiba-tiba saja, ujian sudah ada di depan mata lagi.

Masalah kesulitan mengatur waktu dan fokus ini juga yang membuat saya merasa kurang dalam mengembangkan diri. Contoh mudahnya bisa dilihat melalui jumlah post di blog ini. Tahun 2011, hanya ada 25 blogpost baru di sini. Artinya, kira-kira hanya dua tulisan perbulan. Itu juga sudah termasuk artikel yang saya copy-paste dari sumber yang saya baca.

Ini ironis kalau mengingat penghargaan Penulis Paling Produktif yang diberikan Masjid Baitul Maal pada saya tahun lalu. Mirip dengan Fernando Torres yang baru mencetak lima gol sejak didatangkan ke Chelsea dengan harga 50 juta Poundsterling—rekor transfer termahal Premier League.

Saking parahnya saya dalam mengatur waktu, sampai-sampai saya melewatkan beberapa kompetisi menulis yang saya rasa saya punya potensi di dalamnya. Padahal, semasa SMA, tiap ada pengumuman yang saya temui di papan pengumuman sekolah atau di internet, sesegera mungkin saya buka-buka buku dan buru-buru menyelesaikan tulisan.

Tapi, seperti kata bapak saya, itulah risiko punya kesibukan di kampus. Akan selalu ada hal lain yang tertinggal. Pokoknya, selama kita tetap sibuk mengerjakan sesuatu dan fokus di sana, akan ada hasil yang terasa meski itu sama sekali tak terkait dengan pendidikan mayor atau profesi kita. Berikutnya, setelah bicara hal semisal itu, biasanya bapak akan bercerita tentang kawan-kawan sekampusnya dulu; dari Ifdhal Kasim sampai Mahfud MD. Yang ini tak terlalu saya perhatikan.

Nah, kalau dipikir-pikir, saya memang mendapatkan sesuatu yang penting di Media Center, meski mungkin tak banyak. Paling tidak, ada skeptisisme dalam melihat berita. Apalagi di masa ketika akun twitter anonim bermunculan ini.

Mungkin sikap ini berguna bila saya bekerja sebagai auditor kelak. Atau sebagai kolumnis. Atau sebagai profesi-yang-saya-tak-cukup-punya-nyali-untuk-menuliskannya-di-blog-ini-meski-saya-benar-benar-berharap-keinginan-itu-bisa-saya-raih.

Jadi, bagi mereka yang ajakan untuk menyusun sebuah bukunya saya tolak, saya mohon maaf. Sekaligus menyampaikan terima kasih atas kepercayaan kalian atas ilmu yang Allah berikan pada saya. Kira-kira, dua alasan itu yang hingga kini belum mampu saya selesaikan. Mungkin ini buruknya saya: kurang mampu mengatur waktu. Tapi bila memang Allah mengizinkan saya menulis buku, saya akan menulis. Dan untuk sementara, silakan ambil yang bermanfaat dari blog ini saja.

-RSP-

6 comments
  1. faraziyya said:

    selalu ada yang dikorbankan,
    dan selalu ada terselip kelegaan meski mengorbankan beberapa hal yang mungkin sebelumnya begitu kita sayangkan.
    well, inilah bertumbuh🙂

    • reza said:

      iya. semoga itu salah satu bentuk kita semakin maju.

  2. tkharisma said:

    Jadi…ini intinya keluhan gitu Za?
    Ditunggu bukunya.

    • reza said:

      mungkin begitu. iya, insya Allah.

  3. Ping-balik: muslim peduli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: