Sedikit tentang Ashobiyah

Di artikel sebelumnya, saya bercerita tentang rencana saya menulis buku (yang qadarullah, hingga kini belum terlaksana). Salah satu fokus bahasan di buku itu adalah tentang persatuan ummat. Nah, sore-menjelang-malam tadi saya menjumpai sebuah tulisan yang bertema ashobiyah—fanatisme golongan. Dan tulisan itu mengingatkan saya pada draft buku saya itu.

liwa: salah satu bendera khilafah Islam

Tiba-tiba saja saya ingin sedikit menulis hal ini. Meski mungkin sudah tak lagi aktual—sebab di lingkungan saya, topik ini sepertinya hangat beberapa bulan yang lalu—, semoga bermanfaat.

***

Tulisan yang saya temui itu, katanya mengutip Muqaddimah karya Ibnu Khaldun. Saya tak mengecek kebenarannya. Pertama, saya tak punya bukunya. Maka saya akan sangat berterima kasih bila ada di antara pembaca yang mau memberikan buku itu baik berupa ebook maupun buku cetak. Kedua, andaikan punya pun, saya ragu bisa dengan cepat menemukan letak referensi itu mengingat penulis artikel tersebut tidak menyebutkan letaknya secara tepat.

Dalam hal saya tak ingin mengkritiknya lebih lanjut; mengingat hingga kini pun hal kedua yang saya tuliskan itu juga masih sering saya lakukan.

Penulis artikel itu menyebut, bagi Ibnu Khaldun, ashobiyah merupakan inti dari sebuah organisasi sosial. Ashobiyah, lanjutnya, mengikat kelompok-kelompok menjadi satu melalui sebuah bahasa, budaya, dan peraturan yang disepakati secara berangsur-angsur oleh segenap anggota politik.

Berikutnya adalah bagian yang menarik. Pengampu blog tersebut menulis bahwa Ibnu Khaldun menyebut faktor ashobiyah sebagai kunci bagi lahirnya suatu peradaban dan juga kekuasaan politik. Kehancuran ashobiyah dengan sendirinya menjadi titik balik kehancuran peradaban dan kekuatan politik tersebut.

Kehancuran ashobiyah kemudian dikaitkan dengan “ambruknya ide tradisional mengenai keadilan, kebajikan, kebaikan, dan keseimbangan.”

Kali ini saya hanya ingin mengomentari bagian yang saya tulis di atas. Bukan bagian yang menyebut bahwa hilangnya nilai tradisional Islam menimbulkan generasi muslim yang mudah goyah, gampang tersinggung, dan bersikap defensif—sebagai bagian dari dampak adanya sifat ashobiyah dalam diri muslim tersebut.

Sebelumnya, menurut saya kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang disebut dengan ashobiyah. Memang kita bisa menggunakan pendekatan bahasa dalam memahami istilah syariat. Tapi ternyata para sahabat yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab pun terkadang meminta penjelasan lanjutan mengenai terminologi Islam yang disampaikan Rasul dengan bahasa Arab. Seperti ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan penjelasan tentang definisi ihsan, misalnya.

Maka, karena ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan penjelasan tentang hal tersebut, saya kira langkah terbaik adalah mengembalikannya pada pengertian yang diberikan oleh pembawa risalah itu.

Tentang ashobiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Yaa Rasulallah, apakah ashobiyah itu?” Rasul menjawab, “Engkau menolong kaummu dalam kezhaliman.” (HR Abu Dawud)

Karena saya hanya menyelesaikan mata kuliah Pengantar Mushthalah Hadis di ma’had tempat saya belajar dulu—dan hingga kini belum menemukan semangat untuk belajar ulang tentang hadis, maka izinkan saya mengambil penjelasan mengenai derajat keshahihan hadis ini dari ustadz Abul Jauzaa’. Saya tak bisa bicara banyak mengenai hal ini.

Ringkasnya, karena hadis tersebut dinyatkaan sebagai hadis hasan li ghairihi, ada kebolehan untuk menjadikannya referensi—meski tidak untuk semua keperluan, seperti untuk masalah ahkam (hukum-hukum).

Dari pengamatan singkat saja, kita sudah bisa memahami bahwa definisi yang diungkapkan pengampu blog yang saya kutip dengan definisi yang diberikan Rasul cukup jauh berbeda. Definisi versi Rasul sepertinya lebih dekat bila dikaitkan dengan kisah Kumbakarna daripada penjelasan penulis artikel tersebut yang katanya diambil dari kutipan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah.

Entahlah, mengingat saya juga tak punya referensi langsung untuk merujuk pernyataan ini pada Ibnu Khaldun secara langsung.

Mungkin benar bila ashobiyah bisa membangun sebuah peradaban. Sebagaimana Aus dan Khazraj membangun pertahanan dirinya selama Perang Bu’ats, atau seperti mereka yang bangga menyatakan, “benar atau salah, ini tetap negaraku!”

Tapi benarkah runtuhnya ashobiyah menyebabkan runtuhnya sebuah peradaban?

Menurut saya, ini simpulan yang terlalu dini. Mari ambil contoh daulah Utsmani yang berpusat di Turki. Saya yakin ada faktor tingginya utang Turki Utsmani di masa itu. Hal yang jadi poin tambahan ketika komplotan Theodore Herzl datang pada Sultan Abdul Hamid II dengan iming-iming pelunasan utang jika dan hanya jika Turki mau melepas Palestina pada mereka. Belum lagi faktor berpecahnya dunia Islam ketika itu, khususnya di jazirah Arab. Dan yang jelas masuk hitungan adalah ulah Mushthafa Kemal Pasha meniupkan slogan-slogan nasionalisme Turki sambil memimpin revolusi Turki yang mengakhiri pemerintahan Islam di tahun 1924.

Kalau dibilang tegak atau runtuhnya keadilan dan sistem sosial itu berbanding lurus dengan sikap ashobiyah, tentu tak masuk akal sama sekali. Bukankah ketika ta’ashub—sikap ashobiyah—itu hancur, harusnya muncullah keadilan (bila kita mengacu pada definisi versi Rasul)?

Saya tak hendak menihilkan kebenaran dalam artikel itu. Tapi, bisakah istilah “ashobiyah” itu diganti saja menjadi “identitas keislaman” atau kalau mau lebih umum, “identitas komunal” saja? Ini lebih aman, menurut saya, untuk menghindari rancunya pemahaman masyarakat terhadap istilah-istilah syariat.

Berikutnya, seberapa parah inhiraf (penyimpangan) mereka yang punya sifat ini dalam dirinya? Saya tak akan menjelaskan dengan rinci. Saya kira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menjelaskannya dengan cukup gamblang.

Pertama adalah hadis yang sangat masyhur untuk tema ini.

Barangsiapa berperang karena ashobiyah, barangsiapa marah karena ashobiyah, atau menyeru pada ashobiyah, atau menolong berdasarkan ashobiyah, maka matinya mati jahiliyah. (HR Muslim)

Ada hadis lain yang serupa dengan beberapa perbedaan redaksional.

Bukan bagian dari kami barangsiapa yang menyeru pada ashobiyah, bukan bagian dari kami barangsiapa yang berperang karena ashobiyah, bukan bagian dari kami barangsiapa yang mati karena ashobiyah. (saya lupa hadis ini di-takhrij oleh siapa)

Celakanya, berperang atas nama ashobiyah ini termasuk ciri perbuatan orang-orang musyrik.

Dan janganlah kamu termasuk orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS ar Ruum 31-32)

Lantas, apakah pelakunya bisa dihukumi sebagai kafir?

Bisa jadi. Melihat dalil yang tersebut di atas, perbuatan ini bisa jadi membatalkan keislaman. Tapi takfir mu’ayyan selalu tergantung pada kondisi yang kasuistik. Saya tidak bisa memberikan jawaban yang bernada generalisasi di sini. Sebab ada kaidah takfir yang harus dicermati sebelum menjatuhkan vonis kafir.

Jadi demikian catatan ringkas saya terkait ashobiyah. Semoga bermanfaat.

-RSP-

4 comments
  1. Ini salah satu penyakit yang kadang tidak disadari oleh setiap individu muslim.

    • reza said:

      betul. semoga Allah mudahkan kita untuk menjauh dari sikap-sikap seperti ini. aamiin..

  2. habibialisyahbana said:

    subhanallah.. jadi tercerahkan.. jzakallaah..🙂

  3. Reblogged this on Natanedan's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: