Keseimbangan Informasi: Tentang Arrahmah

Malam tadi saya baca sebuah berita di facebook yang katanya di-post oleh administrator situs Arrahmah.com. Berita itu menyebut bahwa sejak Selasa (10/1) siang, situs Arrahmah.com diretas oleh pihak yang disebut memusuhi da’wah Islam yang dibawa oleh situs itu.

Meski tak bertahan 24 jam (dini hari tadi, 11/1, situs ini sudah dapat diakses lagi), ada beberapa hal yang perlu saya tulis terkait media di Indonesia secara umum.

Ini terkait tuduhan yang sejak beberapa tahun lalu hinggap di tim redaksi Arrahmah. Saya memang tak sempat mencatat data pastinya, tapi umumnya orang yang saya temui memberikan catatan negatif atas situs ini. Biasanya ya terkait kedekatan tim redaksi dengan asatidz semisal ustadz Abu Bakar Ba’asyir atau ustadz Aman Abdurrahman.

Yang paling punya kesan, seingat saya, adalah sebuah bincang-bincang di TV One yang saya lupa kapan tepatnya. Entah setelah terjadi baku tembak sekian jam di Temanggung, paskameledaknya bom di JW Marriott, ataukah terkait surat pernyataan di sebuah blog yang rumornya berasal dari Noordin M. Top. Salah satu narasumber—yang lagi-lagi saya lupa namanya; ingatan saya cukup parah rupanya terkait hal ini—berkata bahwa teror bom ini juga terkait dengan konten internet yang menyajikan berita dan ideologi radikal semacam Arrahmah.

Iya, narasumber acara itu menyebut nama Arrahmah dengan jelas.

Narasumber itu kemudian memberi saran pada pemerintah untuk memperketat aturan dalam penggunaan internet. Jangan sampai, katanya, ideologi radikal mudah menyebar melalui internet.

Ah, maksudnya jelas bagi saya: ujung-ujungnya ini adalah tekanan halus pada pemerintah untuk memblokir situs ini.

Mari melihatnya dari kacamata media; dari sudut pandang keseimbangan informasi. Dan mari ambil dari contoh yang sangat sederhana, yang mungkin tidak terduga: Harry Potter and the Order of the Phoenix.

Jujur saja, ide ini saya ambil dari Ikram Putra, yang bertahun lalu pernah juga menulis tentang hal ini di sini. Tulisan itu dimulai dengan “kritik” Ikram tentang minimnya konflik media antara The Quibbler dengan The Daily Prophet di film Harry Potter and the Order of the Phoenix.

Padahal, di bukunya, konflik keduanya cukup panas. Terkait isu kembalinya Voldemort, Prophet menyajikan berita mainstream yang di-back up penuh oleh orang-orang Ministry of Magic. Isinya ya sesuai dengan keinginan Kementerian. Sementara The Quibbler punya pandangan berseberangan. Sejak awal, Xenophilius Lovegood, editor majalah nyentrik ini, memang sudah punya kecenderungan untuk mempercayai hal-hal irrasional.

Belakangan, melalui Rita Skeeter—yang menulis atas tekanan Hermione, The Quibbler menurunkan laporan yang mendukung kesaksian Harry, Dumbledore, dan Orde Phoenix-nya.

Singkat cerita, informasi tandingan dari media konspiratif itulah ternyata yang benar. Kementerian sudah terlalu banyak disusupi Death Eater—loyalis Voldemort—dan Cornelius Fudge—Menteri Sihir saat itu—terlalu takut untuk mengakui kembalinya Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut.

Inilah hal yang ingin saya tuliskan: menutup Arrahmah, atau situs lain yang punya argumen dan ideologi khusus di dalamnya bukan sesuatu yang layak dilakukan. Ini membuat kita tak lagi mampu belajar pendapat pihak lain. Ini membuat kita sulit memahami mengapa pembaca Arrahmah punya pandangan radikal tentang Islam.

Yang parah, ini bisa jadi menutup pintu perbaikan dalam diri kita.

Kok bisa? Kita gunakan logika konflik The QuibblerThe Daily Prophet itu saja. Asumsikan The Daily Prophet serupa media mainstream yang ada di Indonesia, sementara The Quibbler adalah media semisal Arrahmah.

Menutup telinga terhadap apa yang tertulis di Arrahmah akan membuat kita semakin kehilangan arah. Kita tak tahu apa yang jadi tuntutan kaum islamis, sementara kita dengan sok tahu berkata bahwa mereka “sudah dicuci otak”, “mikir pakai dengkul (lutut)”, atau “berorientasi kekerasan karena kecewa pada kehidupan”.

Padahal, saya yakin betul, mereka yang membaca Arrahmah harus berkerut-kerut dahi dan berkali-kali buka berbagai referensi dalam memahami berbagai tulisan terkait tauhid. Tentu hal ini tak layak disebut sebagai “cuci otak”. Apalagi “mikir pakai dengkul”. Dan jawaban atas orientasi kekerasan yang timbul karena kekecewaan terhadap kehidupan akan didapati ketika kita sudah mempelajari apa yang ada di sana dengan tenang.

Oya, satu lagi tambahan dari sisi media. Menghadapi kemungkinan terjadinya bias informasi, Tom Rosenstiel dan Bill Kovach menawarkan solusi dengan cara memperbanyak ragam latar belakang wartawannya. Ini dilakukan supaya sebuah isu yang sedang diliput mendapatkan banyak masukan dari beragam sudut pandang. Dengan cara ini, akhirnya, bias informasi yang muncul dari interest wartawan tersebut bisa dihindari.

Jadi begitulah; karena tak suka mendengar dan memperhatikan, terjadilah misinterpretasi.

Saya tak hendak menjadikan diri sendiri sebagai dalil, sebagai standar kebenaran. Tapi saya selalu, sebisa mungkin, bersikap sebebas mungkin dalam membaca hal-hal yang masuk pada saya. Bila ia termasuk argumen tentang kebenaran filosofis, sesuaikah ia dengan al Quran dan as Sunnah? Bila ia tergolong berita tentang kebenaran fungsional, sesuaikah ia dengan kaidah pemberitaan yang masuk akal?

Maka dengan “filter” inilah kita layak untuk mendengar pihak lain, selama mereka punya argumen untuk disimak. Sebab selama seseorang punya argumen yang rapi dan terstruktur, selama itu pula ia punya kapasitas untuk didengarkan.

Saya ingin bicara hal yang sama dengan Ikram. Bayangkanlah bila masyarakat Indonesia hanya punya media semisal Kompas atau Tempo. Bayangkanlah bila masyarakat Indonesia hanya punya media semisal MetroTV atau TV One. Dari mana kita akan memahami orang-orang yang dituduh teroris itu? Sementara wartawan media yang saya sebut tadi umumnya tak memahami betul latar belakang dan argumen-argumen para tertuduh teroris itu.

Atau, bagaimana kita bisa tahu bahwa ada seorang pimpinan organisasi muslim besar di Indonesia yang gemar melempar tuduhan dusta pada beberapa pesantren dan yayasan, khususnya di kota asalnya, Cirebon?

Ketika kita mengandalkan berita dari The New York Times, The New Yorker, The Guardian, Times, atau Newsweek saja, bagaimana caranya kita kenal siapa Syaikh Anwar al Awlaki, Syaikh Abu Muhammad al Maqdisy, atau Mullah Muhammad Omar dari sumber pertama? Bagaimana bisa kita memahami tujuan perjuangan mereka dengan sumber yang terpercaya?

Pegiat pers tentu tahu, semakin panjang jalur periwayatan sebuah informasi, semakin besar pula kemungkinan terjadi biasnya.

Jadi memang, banyak media itu baik. Tentu, selama mereka punya standar jurnalistik yang tinggi. Selama mereka tidak menyusupkan kebohongan dalam artikel-artikelnya. Selama kepentingan tertinggi yang ingin dicapai adalah meningkatkan kapasitas keilmuan pembacanya.

Terakhir, dengan segala hormat, saya tak hendak menyamakan bulat-bulat The Daily Prophet dengan media mainstream Indonesia maupun The Quibbler dengan Arrahmah dan sebagainya. Saya hanya ingin bilang bahwa ketika kita menutup mata atas sumber yang berasal dari pihak lain, bisa dipastikan kita akan kehilangan arah dalam memahami pihak lain itu.

Dan bisa jadi pula, kita akan melewatkan kebenaran di momen-momen yang sebenarnya sangat penting, di hidup kita yang hanya sekali ini.

-RSP-

Ngomong-ngomong, menurut situs fimadani, Arrahmah menduduki peringkat kelima dalam daftar situs islami yang paling sering dikunjungi di pergantian tahun kemarin.

Meski bertema media, tulisan ini tak ada kaitannya dengan jabatan saya sebagai Pemimpin Redaksi Media Center STAN dan bukan sikap tim redaksi Media Center STAN.

Iklan
2 comments
  1. Saya masih bingung mas dengan beberapa berita di Ar Rahmah yang mengatakan bahwa peristiwa penghancuran gedung WTC itu memang hasil perjuangan Al Qaidah, dan bukan rekayasa orang dalam pemerintah AS sendiri. Tanggapan mas Reza bagaimana?

    http://arrahmah.com/read/2011/09/11/15148-mengenang-10-tahun-serangan-11-september-amerika-kalah-perang.html

    http://arrahmah.com/read/2011/09/12/15179-mengenang-pesawat-gedung-dalam-serangan-9-11.html

    • reza said:

      afwan, saya juga kurang paham mengenai hal itu. sebetulnya nggak cuma arrahmah yang menampilkan berita itu. majalah inspire, yang dirilis oleh al qaidah sendiri, pun juga menyatakan hal serupa. kalau nggak mau cari jauh2, bisa dilihat di edisi #7. tapi, kalau lihat kondisi di lapangan, kok rasanya mustahil ya gedung seperti WTC ditabrak di tengah gedung, kemudian gedung itu runtuh dengan rapi. ini juga dibahas di Zeitgeist.

      kemungkinan paling rasional buat saya adalah operasi itu memang dilakukan oleh al qaidah, tapi intelijen AS berhasil menyadap informasi ini. diikutilah skenario penabrakan pesawat itu, terus tuduhan langsung diarahkan ke al qaidah.

      tapi sekali lagi, ini baru sebatas kemungkinan berdasarkan dugaan saya. saya nggak punya data pendukung lain selain yang saya sebutkan di atas. afwan, belum bisa banyak membantu dalam hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: