Gerakan Menutup Aurat

Gerakan ini mulai saya kenal dari pengumuman di akun facebook koordinator gerakan ini, ustadz Herry Nurdi. Intinya, gerakan yang diprakarsai oleh Teachers Working Group ini berupaya mengkampanyekan jilbab sebagai busana yang akrab dan lazim digunakan para muslimah. Melihat momennya, tentu tak bisa kita pisahkan dari usaha melawan isu valentine yang tiap tahun seolah tak surut dirayakan masyarakat, termasuk yang berstatus muslimah.

Saking besarnya kampanye yang saya lihat, baik di lingkungan media sosial maupun di tempat lain, saya sampai melanggar janji saya pada diri sendiri untuk absen terlebih dahulu dari kegiatan blogging. Bahkan rencananya, bila tak ada halangan berarti, gerakan ini juga akan dikampanyekan di beberapa negara. Malaysia, misalnya.

Kampanye ini dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah ajakan terbuka yang dilakukan oleh sekelompok orang, baik pribadi maupun atas nama organisasi, untuk mengenakan jilbab, pengumpulan jilbab, dan sebagainya; tepat di tanggal 14 Februari.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mungkin ada yang merasa berat. Maka bila merasa tak mampu melakukan hal-hal itu, tetaplah berpartisipasi. Bagi pembaca yang punya jaringan di dunia maya, baik berupa blog, milis, media sosial, dan sebagainya, bolehlah kiranya turut menghidup-hidupkan kampanye ini agar makin akrab di lingkungan masyarakat.

Fattaqullaaha maastatha’tum. Maka mari sebarkan semangat ini ke lingkungan terdekat, dengan cara apa pun yang berada dalam jangkauan kita.

Ini sejalan dengan misi gerakan ini yang, kata ustadz Herry, bertujuan menyeru muslimah untuk menutup aurat dan membendung perzinahan. Publisitas gerakan yang makin besar akan membuat pesan yang akan disampaikan juga semakin luas.

Oke, empat paragraf di atas ini memberikan kesan bahwa saya terlibat aktif di Teachers Working Group. Sebenarnya tidak. Saya hanya melihat ada hal positif yang perlu didukung dari gerakan ini. Tiap gerakan untuk mengkampanyekan penegakan syariat, sekecil apa pun kita menganggapnya, se-tak-bermakna apa pun itu bagi kita, menurut saya perlu didukung.

Memang, gerakan ini mungkin tak akan menjadikan seseorang menjadi paham akan tauhid; dan sedikit tak sejalan dengan tata cara da’wah nabi yang memberikan prioritas tertinggi bagi pengajaran tauhid bagi para sahabatnya. Memang da’wah para nabi tak dimulai dari mengurusi pakaian ummatnya.

Tapi toh mengakrabkan masyarakat terhadap syariatNya juga bukan hal yang buruk. Kita berdoa semoga ini adalah salah satu dari sekian banyak ketukan hidayah bagi mereka yang kini kurang peduli terhadap syariat ini. Dan semoga kebaikan dilipatgandakan bagi mereka yang menginisiasi dan terlibat aktif dalam kampanye ini.

Hal lain yang kadang muncul di antara kita di antaranya; pentingkah mengenakan jilbab? Bukankah lebih penting lagi menghijabi hati?

Ada banyak syadz (kelemahan, penyakit) dalam pernyataan ini. Misal, tentu kita sulit mendefinisikan kata “menghijabi hati”. Sebab sepanjang sejarah Islam, kata ini tak pernah diriwayatkan oleh para ulama, baik dari kalangan salaf maupun khalaf. Apalagi oleh nabi dan para shahabat. Frase ini baru populer sepuluh tahun belakangan.

Yang parah adalah bila kita sampai menafikan amal shalih berupa berjilbab hanya karena satu-dua akhlak kurang terpuji yang mungkin tak kita setujui. Pernah dengar ungkapan, “Percuma berjilbab kalau hati tak juga dijilbabi,” atau ungkap, “Percuma..,” lainnya yang senada kan?

Ma’shiyat tetaplah ma’shiyat. Tindakan yang kurang pantas tak bisa kita maklumi kecuali dengan adanya udzur syar’i. Masalahnya, jilbab tak ada kaitannya dengan ma’shiyat-ma’shiyat itu (kecuali yang terkait dengan aturan berbusana dan derivasinya, tentu). Apalagi dengan shalat, zakat, shaum, haji, atau amal shalih lainnya. Mereka adalah amal yang terpisah, yang sulit dikait-kaitkan satu dengan lainnya. Meskipun tak bisa kita pungkiri bahwa mereka yang mengenakan jilbab sudah dianggap representasi muslimah ideal di mata masyarakat.

Sama seperti mereka yang menyandang status “haji” yang secara halus dituntut masyarakat untuk bersikap sesuai dengan standar ideal mereka. Uniknya, hal yang sama tak dituntut pada mereka yang lulus menunaikan shaum Ramadhan, shalat lima waktu, atau yang sudah rutin berzakat tiap tahun.

Jadi, mulai sekarang, bila kita menjumpai wanita berjilbab di sekitar kita yang berperilaku kurang pantas, cukuplah ia diingatkan. Tak usah lagi mengaitkan sikapnya dengan pakaian yang sudah rapat menutup tubuhnya.

***

Jilbab punya banyak cerita di Indonesia—negara yang katanya punya penduduk muslim terbanyak di dunia. Ini juga termasuk cerita tentang identitas keislaman pada umumnya.

Dahulu, tahun 1980-an, orang sangat sensitif terhadap isu jilbab; dan karenanya, sedikit di antara muslimah yang tahan dengan tekanan ini. Bahkan di tahun 1995, kata seorang ustadz di Jember, wanita yang mengenakan jilbab yang memenuhi syarat (bukan sekadar kerudung atau bahkan selendang) di Universitas Jember hanya ada tiga orang. Salah satunya kini berstatus jadi isteri beliau.

Tak jarang kita jumpai kisah mereka yang harus keluar dari lingkungannya, baik itu institusi tempat ia belajar maupun tempat bekerja, karena kegigihannya mempertahankan jilbab. Ceritanya mudah dicari dari kalangan aktivis tahun 80-an.

Titik baliknya saya kira ada pada gerakan Tarbiyah. Majalah Time pun konon pernah mengangkat fenomena ini dengan tajuk Why Indonesia Matters. Artikel ini bercerita tentang berubahnya mahasiswa Universitas Indonesia, yang jadi representasi mahasiswa Indonesia di dunia internasional, ke arah yang lebih religius.

Di masa kini, prasangka menimpa mereka yang menampilkan simbol keislaman secara umum. Ini sudah berulang kali saya singgung. Beberapa waktu belakangan ini, jenggot, cadar, dan sebagainya sering dijadikan bahan olok-olok. Tak perlu disebutkan bagaimana olok-oloknya. Yang jelas, ini menjadi bahan renungan bagi kaum muslimin, bahwa kini, nilai keislaman dalam diri sebagian masyarakat mulai tercabut.

Lama berselang, saat semangat untuk menutup aurat itu sudah mulai luntur; plus saat jilbab yang syar’i mulai asing di tengah masyarakat, muncullah Ayat-ayat Cinta. Novel dan filmnya, dengan segala catatan yang perlu kita berikan atas keduanya, saya pikir mampu mengakrabkan kembali masyarakat terhadap jilbab dan beberapa syariat dalam Islam. Meski tak menyeluruh jangkauannya, meski bersifat sangat sementara, dan meski dalam beberapa hal, kisah yang diangkat belum mampu menggugah kesadaran untuk menutup aurat.

Tapi paling tidak, masyarakat sudah lebih akrab dan maklum dengan mereka yang berjilbab lebar plus bercadar, serta dengan mereka yang menolak disentuh oleh yang bukan mahramnya.

***

Jadi, bagi pembaca yang tertarik pada gerakan ini, segeralah mengambil peran! Bagi muslimah yang sudah sukses menjaga auratnya hingga kini, bersyukurlah! Dan sebarkan semangat ini pada orang-orang terdekat kalian!

Ini barangkali tak akan selalu berjalan mulus, tanpa rintangan. Nanti, akan kita temui kata-kata semisal, “Wanita berjilbab itu tak selalu baik,” atau ungkap skeptis lainnya dengan berbagai alasan. Memang, wanita berjilbab tak selalu taat pada perintah Allah. Kadang, seperti halnya kita, ia juga bersikap berkebalikan dari syariatNya.

Tapi semoga kita yang pernah berkata demikian turut mengingat bahwa mereka yang tak berjilbab dan bersikap skeptis terhadap jilbab pun ternyata juga tengah mangkir dari sebagian syariatNya.

-RSP-

Iklan
8 comments
  1. nice articles jazakumullah dan terima kasih telah melanggar janjinya untuk #GerakanMenutupAurat ini,

  2. umbah said:

    jazkumullah khoir telah ikut berdakwah bersama lewat tulisannya.

  3. erensdh said:

    Ngeri juga bila semuanya dianggap aurat. Dibanyak tempat orang tidak melihat itu sebagai suatu yg menimbulkan rasa ingin ngseks. Namun di tempat lain, sekalipun sudah ditutup dari ujung rambut hingga mata kaki pun selalu jadi mangsa pemerkosa -banyak cerita menyedihkan soal ini di Arab Saudi yg dibawa oleh para tkw Indonesia. Mendingan kita contohkan negara2 Barat yang mampu berpikir positif hingga hasilnya kita pun ikut nikmati. Perangkat didepan anda serta internet adalah contohnya. Sekarang rubahlah konsep berpikir anda soal ini.

    • reza said:

      1. perintah menutup aurat adalah perintah mutlak dalam al quran, tanpa qarinah yg menyertainya yg menunjukkan hukumnya bisa berpaling karena sebab tertentu (kecuali penyebab syar’i yg sudah banyak kita ketahui bersama). secara umum, perintah dan larangan dalam al quran pun sifatnya juga demikian. sudah pernah saya tulis di artikel lain berjudul “malas berpikir filosofis”. silakan dibaca.

      jadi illat hukumnya (silakan baca artikel yg saya sarankan itu kalau anda belum paham mengenai illat) bukanlah ada atau tidaknya pemerkosaan, seperti yg anda sebutkan. tapi berkurangnya jumlah perzinahan (baik berupa perkosaan atau yg dilakukan secara sukarela) adalah hikmah dari turunnya perintah ttg jilbab ini.

      makanya, saya setuju untuk memanfaatkan salah 1 hikmah berjilbab ini sebagai sarana kampanye yg dilakukan oleh ustadz Herry dan kawan2.

      2. kelihatan sekali anda terpengaruh stigma “arab lebih islami dibanding Indonesia” dengan membanding-bandingkan masalah jilbab ini dengan Arab. itu nggak relevan untuk kita bahas di sini. standar kebenaran dalam Islam adalah al quran dan as sunnah. bukan Arab atau ajam. demikian.

      3. cerita menyedihkan yg terekspos itu ya yg bentuknya pemerkosaan. zina dalam bentuk lain mudah kita temui di tempat lain. di Indonesia, misalnya. jadi nggak ada kaitannya juga dengan Arab atau tidak.

      oya, zina tidak selalu sama dengan perkosaan. yg dilakukan dengan sukarela pun juga disebut zina. dan itu sama2 buruknya.

      4. kalau mau mengaitkan dengan internet yg merupakan produk orang di luar Islam, mari kita ingat hadis ini, “antum a’lamu bi umurid dunyaakum”

      Rasul membebaskan kita utk berkembang di bidang keduniaan. yg dimaksud bidang keduniaan adalah segala yg tidak diatur atau disebutkan di dalam nash2 syar’i. misalnya, naik pesawat, menggunakan internet & handphone, dsb itu termasuk perkara keduniaan. dan Rasul membebaskan kita untuk mengembangkan dan memanfaatkan hal2 ini.

      sementara itu, ini sama sekali berbeda dengan masalah jilbab yg merupakan masalah diin. jadi, mengaitkan antara jilbab dengan modernisasi (anda mencontohkan dengan internet), ya itu nggak relevan juga. 🙂

      tapi, kalau yg anda maksud adalah kita perlu mencontoh pola pembangunan mereka, mungkin saya setuju. sambil kita tetap perlu mengingat ar Razi, Ibn Rusyd, atau Ibn Sina. kaum muslimin saat ini lemah karena mereka sudah jauh dari ajaran diin-nya, mas..

  4. akhwat_revolusioner said:

    abang, saya ijin untuk dijadikan tulisan buat pamflet ya.. Insya Allah namanya disertakan

    • reza said:

      silakan. semoga bermanfaat.

  5. Ilham said:

    Subhanallah semoga gerakan/kampanye ini berjalan lancar ya mas… 🙂 pasti makin adem kalo cewek2 muslim di indonesia makin banyak yang berhijab.

    • reza said:

      aamiin.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: