Absence of Evidence is not Evidence of Absence

Frase ini biasa digolongkan sebagai argumentum ad ignorantiam. Secara umum, argumentum ad ignorantiam itu didefinisikan sebagai kekacauan logika terkait anggapan bahwa sebuah ide adalah benar karena ide itu belum terbukti salah. Mudahnya begini: bila sebuah pernyataan belum dikatakan salah, maka ia harus dianggap benar. Sebaliknya, bila sebuah pernyataan belum dikatakan benar, maka ia harus dianggap salah.

ilustrasi: logical-critical-thinking.com

Wikipedia menyebut, argumen jenis ini digunakan bagi mereka yang kesulitan menunjukkan bukti penguat atas hal-hal yang mereka yakini.

Nah, untuk membantah argumen seperti itu, digunakanlah bantahan ringkas menggunakan kalimat dalam judul itu. Ketiadaan bukti bukanlah bukti dari ketiadaan. Ini terkait keterbatasan manusia untuk menemukan bukti untuk membenarkan atau menyalahkan sebuah tindakan. Contohnya ada di laman wikipedia yang saya tautkan tadi.

Mengingat hal tersebut, perlu dicatat, bantahan ini tak berlaku bagi setiap hal. Jadi, untuk beberapa kasus, saya kira kalimat “absence of evidence is not evidence of absence” tak bisa digunakan sebagai pembantah atas argument of ignorance itu. Sebab kadang ketiadaan bukti itu hampir-hampir jadi bukti bahwa seseorang atau sesuatu sudah berada di pihak yang benar—kecuali kalau seseorang menghendaki proses pembuktian terbalik; itu hal yang lain lagi.

Yang ingin saya bahas bukan filosofi kata-kata ini. Tapi kalimat itu terkait erat dengan apa yang terjadi di sekitar saya akhir-akhir ini. Beberapa waktu lalu, seorang kolega punya masalah keluarga; dan ia tak bercerita pada siapa pun. Tak satu pun dari kami, rekan kerjanya (termasuk saya), yang mengetahui perubahan perilaku maupun tanda-tanda bahwa ia punya masalah.

Parahnya, saya sendiri malah baru tahu dari laman web pribadinya, saat semua masalah dianggapnya sudah selesai. Ketika saya mengetahui hal ini, yang terpikir dalam benak saya adalah, betapa insensitifnya saya yang bahkan tak pernah mengira ada masalah begitu berat yang diemban kawan saya ini.

Ini belum cukup. Beberapa hari yang lalu, nikmat kesehatan salah satu kawan dekat saya sedikit tercabut. Kakinya terkilir. Di dua hari terakhir ujian semester kemarin, ia harus berangkat ke kampus dengan bantuan kruk yang diapit kedua lengannya. Saya susah membayangkan betapa susahnya berkonsentrasi belajar dengan kondisi seperti itu. Apalagi mengingat kebiasaan belajar kami berdua yang cukup mirip. Kabar mengenai sakitnya kawan saya ini juga tak saya terima langsung dari kawan saya itu.

Nah, di sinilah tanda-tanda ukhuwah perlu dipertanyakan. Memang, tak harus di semua hal seorang muslim perlu ikut campur ikut campur urusan saudaranya. Apalagi kalau sampai melakukan tajassus (tindakan memata-matai) pada saudara kita itu. Tapi bukankah kalau kita sudah jadi orang yang cukup reliable bagi saudara kita, kalau kita punya bahu yang cukup kuat untuk ikut menanggung bebannya, paling tidak ia akan sedikit cerita tentang hal-hal yang sedang ditanggungnya?

Kta tahu bahwa Rasulullah juga mewasiatkan tiga pusaka kebajikan itu: merahasiakan keluhan, musibah, dan shadaqah (HR Thabrani). Tapi saya ingin melihat diri saya dari sebagai saudara mereka yang sedang menerima ujian itu. Tak menangkap tanda-tanda kegelisahan muslim lainnya juga kiranya bukan hal yang cukup baik.

Tentang persaudaraan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan hadis dari Nu’man bin Basyir yang sudah banyak kita kenal ini,

Perumpamaan muslim dalam berkasih sayang itu seperti satu tubuh: bila satu anggota badan kesakitan, maka sekujur badan akan merasa panas dan demam. (HR Muslim)

Ada banyak contoh yang bisa kita ambil dari hidup Rasulullah dan para sahabatnya. Begitu besar perhatian para sahabat pada junjungannya ini, sampai-sampai pertanda bahwa Rasul sedang ridho atau tak suka pada sesuatu pun tampak dari raut wajahnya saja (HR Bukhari).

Atau seperti saat seorang sahabat menanyakan kabar orang tuanya, di surga atau di nerakakah ia? Setelah sang sahabat pergi setelah mendengar kabar pedih yang ia terima, Rasul mengejar dan berkata pada orang itu bahwa ibu-bapaknya pun berada di neraka.

Sedikit kisah hidup dari Rasul itu bisa membuahkan satu lagi pelajaran bagi kita. Bahwa tak setiap masalah terkatakan oleh mereka yang menanggung beban itu. Entah karena ia lebih memilih bersabar dan mengamalkan pusaka kebajikan itu, atau karena ia segan menjadi beban pikiran kita.

Ini juga sekaligus jadi pengingat dalam interaksi kita dengan orang lain. Sudahkah mereka aman dari lisan dan amal kita? Dan sudahkah mereka merasa termuliakan jadi teman dekat kita? Jangan sampai kita—termasuk saya, tentu—berubah jadi orang yang luar biasa menyebalkan karena beberapa sikap buruk yang sesungguhnya sangat mungkin untuk diperbaiki.

Untuk itu, seperti yang sudah berkali-kali saya sampaikan dalam kesempatan lain, bila ada masalah, ceritakanlah. Atau, paling tidak, biarkan saya membantu kalian dalam hal apa pun yang dapat meringankan beban tanpa harus bercerita tentang musibah itu. Bantu saya untuk jadi muslim yang baik bagi kalian dengan mengetahui posisi yang kalian inginkan di mata saya.

Maka, saya juga sangat berterima kasih pada mereka yang mengutarakan koreksi secara jelas dan memberikan masukan untuk hal-hal itu. Sebab saya bukan orang yang pandai membaca sarkasme. Sebab saya tak terbiasa repot-repot menerjemahkan kata-kata yang bisa jadi tak ditujukan pada saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: