Jawaban untuk Zuhairi: Bebaskah Manusia untuk Ingkar atau Beriman?

Saya tahu artikel ini sangat terlambat di-post di blog ini. Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan selepas ujian semester beberapa pekan lalu. Tapi saya pikir, ini perlu ditulis mengingat hal semacam yang akan saya bahas ini beberapa kali saya temui di percakapan sehari-hari saya. Tak hanya terkait dengan satu peristiwa yang akan dibahas ini saja.

Beberapa waktu lalu, Zuhairi Misrawi, di akun twitternya, mengkritik MUI Sumbar atas kasus Aan—orang yang, katanya, menuliskan beberapa ungkapan yang mengandung kemungkinan terjatuhnya orang tersebut pada ateisme.

Saya tak ingin mengomentari kasus itu. Saya tak paham kasus itu dan, karena itu, saya tak ingin menghabiskan waktu dengan mencoba sok tahu dan mengoceh ke sana kemari. Saya hanya ingin mengomentari kritik Zuhairi Misrawi di akun twitternya itu.

Screenshot ini diambil tanggal 21 Januari 2011. Sayangnya, beberapa hari kemudian, setelah saya lihat lagi screenshot ini, ternyata gambarnya kurang jelas. Terpaksa saya cari-cari lagi di akun twitter Zuhairi. Ternyata twit tersebut belum dihapus. Maka, mengingat belum dihapusnya twit tersebut, saya berasumsi bahwa belum ada perubahan pendapat dari Zuhairi dalam hal ini.

Intinya begini: seperti yang sudah dituliskan oleh Zuhairi di akun twitternya, MUI Sumbar melangkahi wewenang tuhan. Tuhan saja, katanya, mempersilakan manusia untuk kafir atau beriman.  Dalilnya QS al Kahfi 29. Sementara MUI Sumbar ia anggap turut campur dalam masalah keyakinan seseorang yang katanya menjurus pada kekafiran itu.

Saya juga sudah mencari twit lain yang berkaitan dengan twit tersebut, in case ada hal lain yang disampaikan oleh Zuhairi yang juga terkait hal ini dan itu mempengaruhi simpulan saya. Ternyata tidak ketemu. Jadi saya menyimpulkan bahwa twit ini dimaksudkan sebagaimana ia tertulis.

Membacanya, saya merasa geli juga. Sebab suatu ketika Zuhairi tampak begitu kontekstualis, sementara kali ini ia mencoba untuk luar biasa literalis. Mungkin begitu ya cara berpikir muslim moderat. Tapi sikap letterlijk semacam ini kok kelihatannya serupa ya dengan proses istinbath hukum yang dilakukan oleh kaum khawarij, yang saya tuliskan di sini?

Ada beberapa hal yang cacat dalam pernyataan Zuhairi itu, baik dari sudut pandang akal sehat manusia maupun dari sudut pandang dalil al Quran dan as Sunnah.

Ini menyalahi akal sehat dengan logika sederhana. Bila memang tuhan membebaskan hambaNya untuk ingkar atau beriman, buat apa ada kitab suci? Buat apa ada jannah dan neraka? Buat apa Rasul menyebutkan hadis tentang targhib dan tarhib? Atau, bila memang Allah membiarkan hambaNya untuk kafir begitu saja, tanpa konsekuensi khusus, mau kita letakkan di mana ayat-ayat tentang perintah untuk taat dan larangan untuk ingkar padaNya?

Dan tentu tak akan ada gunanya para rasul mengingatkan ummatnya tentang keimanan dan kekafiran, kebenaran dan kebatilan, dan sebagainya. Bila iman sama saja dengan ingkar (karena katanya tuhan tak butuh ibadah kita dan tak punya tuntutan tertentu pada kita mengenai hal itu), ya sudah, lebih baik manusia menggunakan waktunya untuk hal-hal yang disenangi nafsunya. Tak perlulah berpikir tentang pertimbangan baik-buruk di mata Allah. Toh, iman dan ingkar ternyata sama saja.

Ini bukan retorika yang tak perlu dijawab. Sebelum melanjutkan bahasan ke topik lain, mereka yang memahami hal ini seperti Zuhairi memahaminya perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas agar jelas tujuan Allah dalam menurunkan wahyu, menciptakan manusia, mengabarkan jannah dan neraka, dan sebagainya.

Sementara bila ditinjau dari al Quran dan as Sunnah—apalagi Zuhairi mengutip ayat al Quran di twit-nya—ini lebih mudah lagi untuk dibantah. Mari kita mulai dari ayat yang disebutkan oleh Zuhairi di atas. Zuhairi mengutip sepenggal ayat. Berikut ini kutipan lengkapnya.

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari rabbmu. Maka barangsiapa ingin, hendaklah ia beriman; dan barangsiapa ingin, hendaklah ia kafir.” Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling buruk. (QS al Kahfi 29)

Kita lihat bahwa ternyata Zuhairi melakukan pemenggalan ayat di sini. Masalahnya, pemenggalan ayat itu akan membawa kita pada pengertian yang berbeda dari ayat tersebut. Terasa ironis juga melihat orang yang berasal dari komunitas yang menyerukan untuk berpikiran terbuka dan luas tapi kesulitan melihat kalimat lanjutan yang masih berasal dari ayat yang sama.

Ibnu Katsir, seperti dikutip Muhammad Nasib ar Rifa’i, berkata bahwa penggalan ini justru merupakan penggalan ayat yang bernada keras. Sebab ia diikuti dengan ancaman bagi mereka yang ingkar, bagi mereka yang zhalim. Ini pun juga sudah berkali-kali dijelaskan dalam ayat lain yang bernada ancaman.

Mungkin Zuhairi lupa bahwa tiap pilihan mengandung konsekuensi. Allah memang mempersilakan kita untuk memilih antara keimanan dan kekafiran. Artinya, pilihan ada di tangan kita. Tapi jangan lupakan balasan bagi tiap perbuatan kita (QS 40:40). Bila memilih untuk taat, jelas balasannya jannah. Sebaliknya, bila memilih untuk ingkar, balasannya adzab Allah di neraka. Dalil mengenai hal ini banyak sekali tersebar dalam al Quran.

Masalah “kebebasan memilih” ini senada dengan penjelasan Sayyid Quthb tentang “laa ikraha fid diin” dalam Ma’alim fit Thariq. Ayat ini, oleh beliau, diletakkan pada konteks khilafah Islamiyah di mana hukum Islam tegak di dalamnya. Maka, kebebasan memilih ini pun dilakukan dengan adanya berbagai konsekuensi, bukan pilihan yang bebas begitu saja. Dalam kondisi demikian, barulah seseorang dibebaskan memilih beriman—berhukum dengan hukumNya dan mematuhi segala syariatNya—ataukah memilih ingkar—tak mengakui kuasaNya melalui ditegakkannya syariat di bumi tempat ia berpijak.

Namun, konsekuensi sebaliknya akan kita terima bila kita memilih kekafiran. Konsekuensi mengenai hal ini tertulis dalam ayat yang telah kita singgung tadi itu. Karena konsekuensi kekafiran yang berat itulah, berulang kali Allah menyebutkan larangan untuk kafir bagi hambaNya.

Sesungguhnya telah diwahyukan pada kami bahwa siksa itu ditimpakan atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling. (QS Thahaa 48)

Dan berimanlah kamu pada apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang pertama yang kafir padanya. (QS al Baqarah 41)

Apakah MUI dalam hal ini memenuhi wewenang Allah? Dalam rangka menda’wahkan ajaran Islam, tentu tidak. Mereka, sebagai pewaris para nabi, hanya meneruskan perjuangan para nabi tersebut setelah mereka menerima warisannya itu. Salah satu bentuknya adalah amar ma’ruf nahi munkar. Termasuk di antaranya adalah menunjukkan pada manusia mana yang menurut al Quran dan as Sunnah salah, dan mana yang benar; menjaga ummatnya agar tak terjerumus pada kemungkaran seperti yang dilakukan oleh orang lain.

Caranya pun beragam. Baik melalui debat terbuka, penggunaan kekuasaan yang mereka miliki—seperti yang dilakukan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu terhadap ahli dzimmah yang berada dalam kuasanya—, dan sebagainya.

Lho, apakah menyatakan orang lain keluar dari keislaman tidak menyalahi wewenang manusia sebagai makhluq Allah?

Tidak. Toh, yang mereka lakukan adalah melakukan istinbath hukum atas apa yang tertulis dalam al Quran dan as Sunnah, bukannya menghalalkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan (QS 9:31). Mereka hanya berperan sebagai penerjemah dan pelaksana sebagian hukum Allah. Bukan mengambil wewenang Allah dalam hal tasyri’. Nah, untuk yang terakhir ini, sesungguhnya lembaga pembuat hukum di negeri ini lebih pantas menerima sebutan tersebut.

Dalam hal MUI melakukan tindakan pencegahan kemungkaran di tengah masyarakat, saya kira hal itu juga perlu didukung—terlepas dari perbedaan pendapat kita atas beberapa fatwa MUI. Namun, yang jelas begini: selama ia ditegakkan berdasarkan firman Allah dan sunnah nabawiyah, bukankah tak ada lagi alasan guna menghentikan mereka dari amal-amal demikian?

Memang usaha seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar, tidaklah mudah. Akan selalu ada hambatan dari orang kafir maupun munafiq bagi setiap muslim yang mengamalkannya (QS 4:61). Untuk itu, mari saling menguatkan dengan firman Allah ini,

Dan janganlah kamu menuruti orang kafir dan munafiq itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah pada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung. (QS al Ahzab 48)

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: