Review Buku Aidz Haraki

Buku yang ditulis oleh ustadz Fathi Yakan ini berjudul asli Ihdzaru al Aidz al Haraki. Diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Era Intermedia dengan judul Hati-hatilah terhadap Aids Gerakan. Buku ini, secara singkat, mengupas beberapa fenomena kemunduran gerakan organisasi massa muslim beserta penyebabnya.

Buku ini menjadi penting untuk dibahas agar senatiasa bisa jadi pengingat buat kita—baik yang beriltizam pada jama’ah tertentu, maupun yang memilih tak terikat pada organisasi mana pun, seperti saya—dalam usaha-usaha menegakkan Islam. Sebagian di antaranya sudah pernah sedikit saya singgung di akun twitter saya. Tapi, mengingat pentingnya tadzkirah ini buat kita, saya memilih untuk menuliskannya ulang dalam bentuk esai seperti ini.

Review ini ditulis dengan menceritakan kembali isi buku ini dari sudut pandang saya. Jadi, mereka yang sudah membaca bukunya nanti akan menemui beberapa hal yang tidak tertulis dalam buku tersebut. Itu tambahan dari saya.

Buku ini dibuka dengan pengungkapan singkat mengenai beberapa tanda kemunduran gerakan muslim di Libanon sejak tahun 1975 M. Dari situ, ustadz Fathi Yakan menarik beberapa kesimpulan terkait faktor penyebab munculnya berbagai konflik yang beliau sebutkan sebelumnya.

Pertama, hilangnya mana’ah iqtishadiyah atau imunitas keimanan, dan tidak tegaknya pondasi organisasi di atas pemikiran dan prinsip yang kukuh. Maksudnya, kader da’wah kehilangan tumpuan keilmuan dalam gerakannya. Ini secara langsung maupun tidak akan berkorelasi dengan masalah wala’ (loyalitas) dan bara’ (disloyalitas). Mereka yang punya landasan keilmuan yang kuat tentu mendasarkan tindakannya pada nash al Quran dan as Sunnah. Mereka hanya akan taat pada pemimpinnya selama sang pemimpin itu masih berada di atas kebenaran. Sikap cari-cari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan oleh pemimpin gerakan sangat jauh dari orang semacam ini.

Hal sebaliknya terjadi pada mereka yang kurang punya kafa’ah ilmiyah yang memadai. Tertutupnya ilmu akan menjatuhkan seseorang pada mitologisasi. Eep Saefulloh Fatah menjelaskan dengan sederhana tentang mitologisasi dengan contoh Nelson Mandela.

Dalam kumpulan artikel yang berjudul Mencintai Indonesia dengan Amal itu, ia berkisah tentang Nelson Mandela yang begitu dielu-elukan masyarakat sedunia. Ia termitologisasi sebagai sosok tahan banting, tabah, sabar, peduli, dan perhatian terhadap masalah keadilan. Mandela terbungkus jubah mitologis yang mungkin tak sengaja ia pasang sendiri.

Tapi makin lama, semakin seseorang mengenal Mandela, terbukalah jubah mitologis itu, dan diganti dengan sisi “historis”-nya. Bahkan, dikisahkan bahwa istrinya sendiri pun tak tahan dengan perilaku Mandela yang dinilai sensitif dan cepat marah. Gambaran Winnie Mandela, sang istri, tentang suaminya yang penuh simbol-simbol kepahlawanan perlahan pudar. Mereka akhirnya bercerai tak lama setelah Mandela keluar dari penjara.

Mari belajar dari hal-hal seperti ini. Kita tentu tak ingin sebuah jama’ah da’wah yang berisi orang-orang penuh keikhlasan runtuh begitu saja, misalnya karena tercerai berainya jama’ah da’wah akibat terungkapnya sedikit keburukan sang pemimpin.

Ketaatan junuud pada qiyadah dalam Islam bukan ketaatan absolut. Teladan sang pemimpin juga bukan teladan yang absolut. Ia dibatasi oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “laa tha’aata li makhluqin fii ma’shiyatil khaliq.

Sebab Islam tak memperkenankan tajassus (tindakan memata-matai) pada sesama muslim, maka cukuplah kita dengan hanya memberikan loyalitas pada apa yang secara zhahir selaras dengan al Quran dan as Sunnah. Tak perlu seseorang mengamati perilaku pemimpin 24 jam hanya untuk memastikan bahwa ia adalah manusia tanpa cela yang segenap perilakunya bisa dijadikan rujukan atau yurisprudensi terkait seluruh masalah yang dihadapi.

Hilangnya mana’ah iqtishadiyah yang mendorong seseorang untuk menjadikan seseorang lainnya sebagai panutan secara berlebihan ini berpotensi memunculkan fanatisme. Dua hari lalu saya mendengarkan rekaman ceramah seorang kyai yang cukup tenar di Malang, Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, sayangnya, sang kyai cenderung menjelek-jelekkan golongan tertentu yang cukup keras bersikap terhadap bid’ah dengan penjelasan yang kering akan dalil. Kalaupun ada, tentulah itu adalah dalil yang mujmal, tanpa memperhatikan muqayyad-nya; tanpa memperhatikan proses istidlal yang lazim digunakan dalam kerangka ilmu ushul fiqh.

Dalam ceramahnya, terbetiklah satu metode pengambilan hukum hanya dengan cara melihat wajah kyai, habaib, dan ulama yang ia anggap berilmu. Ketika wajah para kyai, habaib, atau ulama itu dipandang teduh, maka mereka itulah yang perlu diikuti. Bukan mereka yang berwajah masam dan menolak duduk bersama ahli bid’ah. Seingat saya, ia berdalil dengan QS 75:22.

Di akhir ceramah, ia berkata pada jama’ah yang kira-kira begini, “Sudahlah, kita yang awam ngikut kata mereka yang alim saja. Masak Kyai Fulan (dia menyebut nama), Habib Fulan, nggak paham dalil. Kita ngikut mereka sajalah.”

Nah, kira-kira, argumen seperti ini mencerdaskan, nggak? Atau malah memperkeruh konflik antara mereka yang benci bid’ah dengan mereka yang terbiasa dengannya?

Saya selalu yakin setiap perbedaan harus berusaha dipertemukan dengan dalil, dengan proses keilmuan yang baik. Bukan dengan cara mengejek, atau menganjurkan orang untuk taqlid (membebek) pada orang-orang tertentu. Kalaupun pada akhirnya perbedaan itu tak bisa dipertemukan, paling tidak kita sudah bisa berusaha memahami dengan adanya dasar yang kokoh bagi masing-masing pendapat itu. Toh, mereka yang sadar betul bagaimana susahnya mengambil hukum dari dalil yang tersedia akan memaklumi perbedaan fatwa yang disebabkan perbedaan pandangan atau keterbatasan pengetahuan akan dalil.

Lemahnya aspek pendidikan ini, kata Ustadz Fathi Yakan, akan menyebabkan runtuhnya nilai-nilai ketakwaan dan wara’ dalam diri seorang aktivis muslim. Padahal, modal terbesar kita untuk memenangkan Islam adalah takwa. Bukan jumlah pejuang maupun besarnya sumber daya yang dimiliki. Kurangnya ilmu akan menyebabkan sebuah gerakan terjerumus pada perangkap syaithan dan nafsu yang akhirnya merusak individu dan jama’ah sekaligus.

Saya jadi teringat nasihat Syaikh Abdullah Azzam dalam Washiyyatul Mushthafa li Ahlid Da’wah. Dalam salah satu bab, beliau mengingatkan kita bahwa ma’shiyat individu akan berdampak pada eksistensi jama’ah. Salah satu butir tadzkirahnya adalah ayat berikut,

Takutlah kalian pada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim di antara kalian saja. (QS al Anfaal 25)

Maka sudah cukuplah kiranya kita mengambil pelajaran dari Perang Uhud, saat empat puluh pemanah yang meninggalkan posnya sebelum perang usai demi ghanimah yang tercecer melemahkan kekuatan kaum muslimin hingga berguguranlah syuhada di antara perbukitan Uhud itu. Agar kita senatiasa menjaga diri dari perbuatan dosa—perbuatan yang hingga kini masih berusaha konsisten saya amalkan—serta senatiasa membersihkan diri dari berbagai penyakit hati.

Inti dari ulasan bagian ini ada satu: cukupkan diri kita dengan standar perilaku berupa al Quran dan as Sunnah. Dan yang demikian itu tak akan didapat melainkan melalui proses belajar. Semakin kita menjauh dari al Quran dan as Sunnah dan beralih pada mitologisasi—apalagi hingga sampapi pada derajat pemujaan—seorang pemimpin, semakin besar pula peluang terulangnya hal yang diingatkan oleh ustadz Fathi Yakan pada kita.

Faktor kedua menurut ustadz Fathi Yakan adalah rekruitmen yang hanya memperhatikan aspek kuantitas. Logisnya, untuk membuat keputusan-keputusan penting, satu saja “penggembala” yang terampil jauh lebih baik daripada seribu “bebek”, bukan? Yang satu bisa bersikap terkait apa yang jadi spesialisasinya, sementara yang lain hanya bisa mengekor tanpa pertimbangan.

Terlebih lagi, penjelasan Allah terkait perang Hunain sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kita.

Dan ingatlah Perang Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikit pun kepadamu; dan bumi yang luas ini terasa sempit bagimu, kemudian kamu lari ke belakang dengan tercerai-berai. (QS at Taubah 25)

Penempatan prioritas pada aspek kuantitas ini, di lapangan, berbagai macam bentuknya. Ada kader da’wah yang menolak memberikan materi tertentu agar jama’ahnya tak lari. Sementara yang lain berkompromi dengan bentuk ma’shiyat tertentu. Tanpa bermaksud menihilkan amal mereka, kalau motivasinya hanyalah supaya dirinya punya banyak pengikut, sebaiknya kita perlu merenung dengan perantara ayat itu.

Faktor ketiga adalah tergadainya organisasi atau jama’ah oleh basis kekuatan tertentu. Alat penggadainya bisa jadi kekuatan militer, politik ekonomi, atau gabungan dari berbagai elemen tersebut. Ini, kata ustadz Fathi Yakan, banyak terjadi di Lebanon.

Tekanan militer yang dialami oleh gerakan da’wah di Lebanon mengajarkan pada kita bahwa pembentukan askar-askar yang siap diterjunkan di lapangan adalah penting. Dan pembentukan itu mustahil dilakukan tanpa adanya i’dad atau persiapan. Maka, i’dad inilah yang saat ini perlu dilakukan, bergantung pada kesiapan dan kemampuan aktivis muslim tersebut.

Dan siapkanlah untuk mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang, (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh-musuh Allah, musuhmu, dan orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sementara Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup padamu dan kamu tak akan dianiaya. (QS al Anfaal 60)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengingatkan kita tentang fitnah yang disebabkan oleh harta ini.

Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah, dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak, ia tidak rela. (HR Bukhari)

Saya juga ingat kata-kata Hasan al Banna saat ditanya mengenai sikapnya yang teguh menolak pemberian pemerintah kolonial Inggris pada organisasi da’wah al Ikhwan al Muslimun. Beliau berkata, “Tangan yang sudah terbuka sulit untuk mengatup lagi.”

Faktor keempat adalah sikap isti’jal, atau ketergesaan meraih kemenangan tanpa persiapan memadai. Yang ini, bentuknya macam-macam. Ada yang terkesan tidak memperhitungkan kapasitas diri, tapi sudah berani melakukan hal-hal di luar perkiraan. Ada yang tak mengindahkan rambu-rambu keislaman dalam meraih tujuan, meski itu diniatkan untuk Allah.

Syaikh Ayman Zhawahiri, dalam sebuah buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Dari Rahim Ikhwanul Muslimin ke Pangkuan al Qaeda, menyebut bahwa hal semacam ini juga terjadi di kalangan ikhwah mujahidin. Di tahun-tahun pertama pergerakan menuju syariah Islam di Mesir, misalnya, banyak di antara pemuda muslim yang begitu bersemangat menumbangkan rezim yang tengah menguasai Mesir, tanpa merencanakan hal yang dilakukan berikutnya setelah rezim tersebut tumbang. Meluapnya semangat ini, kata beliau, juga tercermin dalam sebuah amaliyah yang akhirnya membunuh Anwar Sadat, yang kemudian digantikan oleh Husni Mubarak.

Tanpa bermaksud merendahkan, apalagi menihilkan, amal mereka, saya memandang ini juga merupakan sikap isti’jal, terburu-buru. Ini sesuai seperti yang dibilang Syaikh Ayman. Paskaterbunuhnya Anwar Sadat, toh yang muncul kemudian adalah Husni Mubarak—yang sikapnya terhadap kaum muslimin sebelas-dua belas dengan pendahulunya—, bukan pemimpin dari kalangan mujahidin itu sendiri.

Faktor kelima adalah budaya ghibah dan namimah. Ghibah, kata Rasul, adalah bahwa seseorang menceritakan sesuatu tentang saudaranya, yang saudaranya itu tak suka bila hal itu dibicarakan di muka umum. Sementara namimah, secara ringkas, maksudnya adalah adu domba.

Dua hal ini dapat mengguncangkan bangunan organisasi da’wah. Bila berita-berita buruk yang tidak kredibel tersebar dengan mudah di kalangan aktivis da’wah, bukan tak mungkin kepercayaan mereka terhadap pemimpin dan sesama ikhwah di jalan da’wah akan luntur. Bukan tak mungkin kabar dusta yang malah beredar dan dipercaya oleh masyarakat.

Sudah sangat banyak peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai bahaya lidah—yang saya yakin pembaca blog ini pun sangat paham tentangnya. Dan karenanya, saya menganggap hal itu kurang perlu ditulis di sini.

Lantas apa yang harus dilakukan?

Secara umum, solusi yang ditawarkan oleh ustadz Fathi Yakan merupakan jawaban dari faktor pendorong runtuhnya gerakan da’wah. Solusi pertama adalah meletakkan bangunan organisasi di atas pondasi ketakwaan pada Allah. Ini merupakan jawaban yang mengingatkan kita dari bahaya ta’ashub pada pemimpin atau golongan tertentu.

Kedua, kukuhkan ukhuwah karena Allah. Karena tiap mu’min itu bersaudara, maka ghibah, namimah, dan hal lain yang dapat melukai perasaan dan kepercayaan masyarakat terhadap para da’i perlu diminimalisasi. Budaya tabayyun juga perlu ditumbuhkan. Bila merasa sang pembawa berita adalah orang fasiq, maka tabayyun menjadi wajib untuk dilakukan.

Ketiga, meningkatkan kafa’ah ilmiah masing-masing kader da’wah. Ini diperinci menjadi; membiasakan diri dengan argumen-argumen yang berdasar pada dalil al Quran dan as Sunnah, membangun budaya saling berwasiat dalam kebenaran, dan menegakkan tradisi syura.

Peningkatan kemampuan ilmiah kader ini juga terkait dengan hal-hal terkait pendidikan yang dianggap sebagai faktor kemunduran gerakan da’wah. Masing-masing kader da’wah idealnya harus menjadi penunjuk jalan bagi ummat tentang apa yang tertulis dalam al Quran dan as Sunnah. Maka, mau tak mau, kecakapan intelektual perlu dimiliki di sini.

Oya, berbagai masalah dan solusi di sini memang bukan hal yang mutlak. Namun, perlu kita perhatikan sebab argumen Qur’ani yang diangkat oleh ustadz Fathi Yakan. Maka pilihan ada pada pembaca, saat ini. Bisakah kita menegakkan tradisi ilimiah dalam lingkungan kita, sambil mengukuhkan ukhuwah dan hanya loyal pada apa yang selaras dengan rambu-rambu yang telah digariskan oleh Allah dan RasulNya?

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: