Sony PRS-600

Itu adalah merk ebook reader yang baru saja saya beli. Siang ini, barangnya baru saja sampai di kos saya. Spesifikasinya? Tak terlalu mentereng, cukup daftar kompatibilitas dengan bentuk-bentuk ebook, touch screen 6 inchi, dan mp3 player. Alat ini memang diproduksi hanya untuk kepentingan baca buku elektronik saja, bukan yang lain.

penampakan ebook reader saya. gambar dari google

Saya sudah lama ingin gadget seperti ini. Selama ini, kalau mau baca buku, sarananya ya hanya laptop. Buku fisik memang saya beli. Tapi tentu frekuensinya tak sesering mengunduh ebook dari internet. Lagi-lagi, alasannya adalah biaya. Mahasiswa memang perlu membuat perhitungan masak-masak bila harus beli sesuatu di luar anggaran bulanan.🙂

Tapi membaca dengan laptop pun membawa masalah tersendiri. Itu membuat cepat lelah karena meja baca saya berkaki rendah (kos saya tak menyediakan kursi di kamar) dan salah satu sarana primer saya dalam membaca adalah laptop yang layarnya kurang bersahabat dengan mata.

Keakraban mata saya dengan layar komputer dan laptop sudah terjalin sejak lama. Kalau dihitung-hitung, laptop dan komputer saya itu lebih banyak saya gunakan untuk baca buku, main Pro Evolution Soccer, atau mengerjakan tugas—kegiatan-kegiatan yang menyita banyak waktu di depan layar. Ini ditambah lagi dengan kebiasaan buruk saya saat membaca buku cetak: baca sambil tiduran. Jadi wajarlah bila minus di mata saya bertambah dengan kecepatan mengkhawatirkan.

Nah, karena alasan-alasan inilah, saya mulai memasukkan ebook reader sebagai daftar barang yang perlu dibeli. Kenapa tak sekalian beli tablet saja? Well, selain harganya mahal, saya juga masih belum terlalu butuh. Fitur-fitur yang ada di tablet masih bisa didapatkan dengan performa lebih baik dengan laptop. Saya pun selama ini merasa tak terlalu perlu sewaktu-waktu buka laptop di tempat-tempat umum. Dus, faktor mobilitas yang jadi salah satu keunggulan tablet jadi kurang berarti di sini.

Selain itu, setahu saya, kebanyakan tablet saat ini menggunakan layar backlight. Ini sih, sama saja dengan laptop, tak ramah dengan mata. Dengan fitur e-ink yang dimiliki mayoritas ebook reader, tentu gadget satu ini jadi alternatif yang perlu diperhitungkan.

Lantas kenapa beli merk Sony? Kenapa bukan merk yang lebih terkenal semisal Kindle keluaran Amazon atau Nook-nya Barnes & Noble?

Pertama, untuk Kindle, dengan spesifikasi yang hampir sama, harganya relatif lebih mahal. Selisihnya sekitar $20-$30 US dollar. Sementara Barnes & Noble tak merilis ebook reader versi “sederhana”. Maka meski fiturnya cukup lengkap, harganya pun kurang cocok bagi kantong saya.

Kedua, ada beberapa rekomendasi dari rekan-rekan di goodreads untuk memilih Sony PRS-600 atau PRS-900. Alasannya macam-macam. Yang paling saya pertimbangkan adalah masalah kenyamanan membaca dan kompatibilitasnya dengan berbagai bentuk ebook (ebook reader keluaran Sony bekerja paling baik untuk ebook berekstensi .epub). Kenyamanan membaca terutama dipengaruhi oleh jenis dan ukuran font plus ukuran layar. Yang ini, PRS-900 sepertinya lebih baik (tapi harganya pun lebih mahal). Sementara kompatibilitas dengan bentuk ebook itu bisa dijembatani dengan calibre.

Maka jadilah dari siang sampai malam ini—sebelum diinterupsi dengan agenda lainnya—saya nongkrong di dalam kamar sambil melanjutkan baca al I’tishom-nya Imam Asy Syathibi yang dulu sempat tertunda.

***

Mungkin ada di antara pembaca blog ini yang bertanya heran, kok tumben sih, nulis hal seperti ini di blog?

Sebenarnya, saya mau ikut-ikut beberapa teman yang rajin mengingat “3 gratitudes” yang didapat sekitar hari ini. Saya belakangan sadar bahwa saya masih susah mengingat (apalagi mensyukuri) nikmat-nikmat “kecil” yang secara rutin Allah curahkan pada saya. Memang sulit mensyukuri hal yang sudah biasa Allah berikan. Tapi toh itu bukan alasan untuk menganggap rendah nilainya (seperti pemahaman kita akan barang ekonomi) dan melalaikan diri dari bersyukur. Maka semoga cerita-cerita tentang 3 gratitudes ini bisa jadi kebiasaan. Syukur-syukur bila nikmat itu bisa semakin banyak diberdayakan untuk amal shalih.

Itu tadi baru satu hal. Terus dua lainnya apa?

Yang kedua adalah rapat Forum Ketua Kelas malam ini. Kebetulan, sejak beberapa bulan yang lalu, saya diberi amanah untuk menjabat sebagai salah satu dewan pimpinan FKK. Beberapa hari terakhir, agenda FKK yang sangat krusial adalah rekonsiliasi lokasi studi lapangan. Ringkasnya, agenda ini—yang dilaksanakan bersama Tim Peduli Pajak dan Tim Optimalisasi Penilai (benarkah namanya begini? cmiiw)—bertujuan menata mahasiswa yang hendak melakukan studi lapangan di lokasi yang memungkinkan.

Tak seperti biasanya, rapat kali ini diisi dengan kegiatan yang cukup informal: makan bareng. Sambil makan, kami diskusi tentang berbagai hal. Mulai dari kritik yang masuk ke FKK sampai beberapa hal terkait rencana kenaikan harga BBM di Indonesia. Ini perlu disyukuri, sebab saya dapat beberapa hal baru; di antaranya adalah kesempatan mengungkapkan opini tentang harga BBM yang sedikit di luar mainstream mahasiswa kampus kami. Sebagai “anak-anak Kementerian Keuangan”, wajar dipahami bila mahasiswa kampus kami dinilai sulit bersikap independen, baik independen dalam penampilan maupun independen secara faktual.

Hal lain yang saya dapat adalah kesempatan memikirkan kembali argumen untuk tugas tertentu saya dalam kapasitas sebagai anggota dewan pimpinan FKK dalam beberapa waktu ke depan. Semoga hal-hal yang sudah saya rencanakan ini bisa berjalan dengan lancar.

Saking asyiknya, saya sampai kaget sebab baru sampai di kos lewat tengah malam. Saya juga baru sadar bahwa kenikmatan berdiskusi panjang-lebar ini sedikit menghilang saat saya jadi mahasiswa. Dulu, sparring partner-nya adalah bapak saya sendiri. Tapi mungkin minimnya komunikasi setelah saya masuk di kampus ini menyebabkan hal semisal sudah jarang saya dapati, bahkan saat saya pulang ke rumah orang tua.

Yang ketiga adalah rejeki tak terduga yang datang dari kegiatan kampus. Talk show hari Kamis (29/3) ini—yang diselenggarakan oleh organisasi kemahasiswaan di kampus—akan menghadirkan Agus M. Irkham, salah satu sosok yang pendapatnya saya incar untuk memperkaya materi untuk liputan utama majalah yang sedang saya dan teman-teman di pers mahasiswa garap. Dengan kegiatan ini, otomatis waktu—mengingat jadwal kuliah dan kegiatan luar kampus saya semester ini lumayan padat—dan ongkos transportasi dapat dihemat.

Yak, setelah bersyukur, hal yang perlu saya lakukan kali ini adalah meningkatkan nilai kemungkinan agar tugas-tugas yang sudah saya targetkan itu terlaksana dengan baik; sesuai jadwal.

-RSP-

8 comments
  1. blograsacola said:

    Kunjugan balik bro.. hehe.😀 Wah, anak FKK ya? Semangat dalam menjalankan tugasnya.

    Btw saya juga pengen e-book reader dari dulu, inceran saya sih kindle, soalnya mupeng sama layarnya yang *katanya* mirip kertas. Tapi belum terlaksana sampai sekarang.. Semoga beberapa waktu ke depan.. saat ini kindle touch harganya cuma $75, mudah2an bisa turun.. hehe

    • reza said:

      yap. tadi baca beberapa review buku di rezkyalif. penasaran sama buku2nya. kapan2 boleh nih ketemuan tukeran buku.🙂

      yg $75 itu bukan kindle touch deh kayaknya. itu kindle basic, rilis pertamanya amazon, kalo nggak salah. belum pakai touch screen (walaupun di seri ebook reader mana pun, kualitas touch screen-nya jelas kalah dg tablet). kalo pake e-ink, tampilan layarnya ya kayak gitu sih.

  2. Nugroho said:

    Foto bentuk e-book readernya Za, kali aja aku ketularan pengen beli😀

    • reza said:

      cari di google aja mas. aku nggak punya kamera.🙂

      • Nugroho said:

        Owh, iya2, baru kepikiran, dodol😀

  3. Kalau baca ebook pakai ebook reader lebih nyaman ya mas, saya selama ini baca ebook di monitor PC cepat lelah, jadi baca ebook-nya gak selesai-selesai ..😦

    • reza said:

      iya. pakai tablet sebenarnya juga lumayan nyaman pak. asal nggak dibaca di ruangan gelap aja.

  4. LCH said:

    Thanks atas reviewnya. Akhirnya ikut beli juga, yg terkini, Sony PRS-T1, beli di TokoEbookReader.com Mangga Dua Mal.
    udah mirip banget dengan kertas. Mata benar2 nggak lelah.
    Thanks yah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: