Arsip

Monthly Archives: Mei 2012

Artikel ini telah dipindahkan ke blog baru.

Iklan

Ini adalah salah satu lema diskusi yang belum habis dibahas. Apalagi bila ia terkait dengan sebagian syariat. Jilbab, misalnya. Ia berulang kali dikaitkan dengan masalah budaya masyarakat Arab, dan beberapa orang malah dengan yakin bilang bahwa ia bukan bagian dari wahyu. Pernyataan ini membawa konsekuensi logis sederhana: muslimah yang bukan orang Arab tak wajib mengenakan jilbab.

Nah, biasanya, tuduhan akan mengarah pada sekelompok muslim—biasanya yang rajin berkampanye tentang wajibnya jilbab bagi muslimah. Bahwa mereka berusaha menjadikan masyarakat Indonesia berkiblat pada Arab; tak mengusung budaya domestik yang, katanya, luhur.

Anggapan bahwa syariat ini—seluruh atau sebagiannya—merupakan produk budaya menurut saya ahistoris. Premis mana yang tertulis dalam al Quran dan as Sunnah yang menyebut bahwa syariat keislaman adalah syariat kearab-araban? Di bagian sejarah mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan ummatnya mengikuti budaya Arab, sementara ia sendiri jadi bagian dari penghancur kebudayaan Arab yang penuh kesyirikan? Adakah ulama’ muslim yang mu’tabar, sejak zaman tabi’in hingga kini, yang menganggap Islam sama dengan Arab? Dalam hal apa?

Arab memang tak selalu Islam, dan Islam tak selalu Arab. Ini masalah logika sederhana. Kalau Islam memang selaras dan berasal dari budaya Arab, buat apa Abu Jahl bersipayah mengerahkan rakyatnya untuk memerangi utusan akhir zaman? Kalau memang Islam berakar dari budaya Arab, harusnya syariat ini juga didapati dalam kebudayaan masyarakat Arab jahiliyah. Nah, pertanyaannya, apakah aturan tentang jilbab, khamr, dan—yang terpenting—pengesaan terhadap Allah juga ditemui dalam kebudayaan tersebut?

Lho? Bukankah masyarakat Arab juga Read More

Artikel ini dimuat di rubrik Lentera Tabloid Civitas edisi 19.

Everyone knows they’re going to die, but nobody believes it. If we did, we would do things differently. –Morrie Schwartz

Yang tak bisa belajar dari pengalaman orang lain harus membayar mahal sebuah pelajaran dengan mengalaminya sendiri. Sebab kadang, perlu harga mahal untuk memahami premis sederhana bila seseorang tak bisa belajar dari situasi di sekitarnya. Ada sebuah pelajaran penting yang datang dari Morrie Schwartz, seperti dituliskan oleh Mitch Albom dalam Tuesdays with Morrie.

Mati barangkali adalah salah satu misteri terbesar dalam sejarah manusia. Dan itu, pada waktu tertentu, membawa manusia pada pertanyaan tentang makna hidup; apa hal terpenting dalam hidup: uang, kuasa, atau karier? Saat itu semua lenyap, apa hal yang bisa berperan sebagai subtitusinya? Dan setelah itu semua, seberapa dalam hubungan kita dengan manusia—yang tak sebatas basa-basi dengan motif profit atau rutinitas belaka?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu kita dapati di berbagai macam ideologi. Tiap ideologi selalu menyediakan konsepsi mengenai gagasan atau cita-cita tertinggi bagi pemeluknya. Sebab barangkali hanya dengan hal itulah hidup manusia jadi punya arti. Morrie menjawabnya dengan caranya sendiri. Hal serupa dilakukan pula oleh mereka yang punya nilai-nilai spesifik yang mereka yakini.

Morrie, yang di usia senjanya masih terlihat enerjik, tiba-tiba ambruk tanpa sebab. Tubuhnya bugar, ototnya jauh dari kata lelah, tapi kakinya tak mau menuruti perintah tuannya. Maka, perlahan, tercabutlah kebebasan Morrie atas hal-hal yang ia cintai: mengajar, mendengar, dan menari. Ia, yang sebelumnya sangat optimis terhadap kesehatannya, akhirnya harus berdamai dengan vonis medis: ALS.

Amyotrophic lateral sclerosis, ringkasnya, adalah penyakit yang menyerang pusat syaraf yang mengontrol pergerakan otot. Mereka yang mengidap penyakit ini perlahan, dari kaki dan menjalar terus ke bagian atas tubuh, kehilangan kontrol dan terperangkap dalam tubuhnya sendiri. Penyebabnya tak diketahui. Obat yang ditemukan kini pun hanya berfungsi memperlambat laju pengaruhnya, bukan menyembuhkan secara total. Dan cara meninggalnya pun terasa menyakitkan: kegagalan bernafas sebab otot diafragma tak mampu mendorong paru-paru melakukan mekanisme aspirasi dengan normal.

Tapi dari tubuh Morrie yang kian lemah itu, saya belajar banyak hal. Tentang Read More

Saya selalu heran pada mereka yang menempelkan sakralitas pada kata-kata orang tertentu, sementara menganggap semua yang berasal dari selainnya adalah profan. Yang lebih mengherankan (mohon untuk tidak mengasosiasikan saya dengan kata “heran” seperti kalian mengasosiasikan kata “prihatin” dengan “SBY”) adalah cara kita bersikap terhadap sumber kalimat tersebut. Seolah, kali ini, salah satu cara kita dalam menilai validitas kata-kata, yaitu tingkat kepercayaan sang narasumber, tidak digunakan lagi.

Saya harap saya tidak bersikap tak adil. Tapi toh, penilaian terhadap reliabilitas narasumber, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, jadi salah satu prasyarat sebelum kita mengangkat sumber anonim dalam sebuah berita. Dalam hal audit pun, penilaian terhadap sumber yang kredibel perlu dilakukan saat melakukan wawancara. Apalagi, bukti audit berupa wawancara menempati posisi yang tak begitu dianggap obyektif sebagai dasar penyusunan opini audit.

Tapi mari tidak berkutat pada hal-hal di dua paragraf awal itu. Saya berasumsi kita sudah bersepakat mengenai hal demikian.

Maka coba simak contoh peristiwa ini: ada seseorang yang sedemikian terpercaya, hingga ketika ia mengabarkan hal yang nyaris mustahil pun, ia akan dibenarkan. Ada lagi orang lain yang sepanjang hidupnya tak pernah diriwayatkan berbohong (atau paling tidak, saya belum pernah dengar kisah kebohongannya itu; dan orang-orang yang bertugas sebagai “perawi-watch” juga belum mengungkapkan cacat dalam akhlaqnya) yang kemudian diberi tugas membawa berita tentang orang pertama.

Sementara, di tempat dan masa lainnya, ada seseorang yang menganjurkan peniadaan kelas, termasuk dalam keluarga. Tiap manusia harus bebas dalam memberikan peran bagi kehidupan. Seorang suami pun tak mutlak langsung jadi pemimpin keluarga hanya karena gendernya. Masalahnya, keluarganya sendiri cukup awut-awutan.

Suatu hari, datang panduan mengelola rumah tangga dari dua kelompok orang ini. Yang pertama mengaku Read More

Tidaklah setiap anak lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani, atau Majusi. (HR Bukhari)

Proses produksi majalah edisi ini mengajarkan saya beberapa hal baik: manajemen stres, pengelolaan prioritas kesibukan, sampai, yang tak kalah penting, wawasan baru yang didapat dari narasumber.

Karena tema utama majalah kali ini adalah budaya literasi, narasumbernya tentu orang-orang yang bergerak di bidang tulis-menulis; atau pemberdayaan masyarakat melalui program baca. Pada beberapa narasumber yang punya latar belakang sedikit berbeda itu, saya selalu mengajukan satu pertanyaan reflektif yang sama: bagaimana lingkungan membentuk Anda jadi suka membaca?

Yang (agak) mengejutkan, tiga narasumber itu menjawab dengan subyek seragam: keluarga. Murni Ramli, Peneliti Pusat Studi Asia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mengaku semasa kecil tak punya dana cukup untuk beli banyak buku. Meski begitu, ayahnya tetap menjadikan buku harian sebagai hadiah. Dengannya, Bu Murni meluangkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan dan menghabiskan karya sastra populer yang ada di sana.

Agus M. Irkham, penulis senior, bercerita bahwa ibunya, yang hanya sempat menempuh pendidikan setingkat SD itu, secara demonstratif mengajarkan anak-anaknya untuk membaca dengan resep ampuh: memberi contoh. Tiap sore, katanya, ibunya selalu duduk di dekat jendela, dan membaca bacaan apa pun yang tersedia di hadapannya, sesibuk apa pun beliau dengan tugas domestiknya hari itu. Sang ayah tak ketinggalan. Tiap pulang kantor, ia selalu membawa hadiah rupa-rupa majalah bagi anak-anak di rumah itu. Maka, seperti kata Mas Agus, “Kami nggak punya pilihan hiburan lain selain membaca.”

Sementara Intan Savitri, Ketua FLP Pusat yang bernama pena Izzatul Jannah, bercerita tentang ibunya yang seorang jurnalis. Karena profesinya, sang ibu seolah tak punya “kreativitas” dalam memberikan hadiah selain bacaan. Seperti ayah Mas Agus, ibu Bu Intan juga rajin memasok stok bacaan buat anak-anaknya tiap hari. Akhirnya, ia tentu tak punya sarana mengisi waktu luang selain membaca. “Mau nonton TV, saat itu kan hanya ada TVRI, yang acaranya boring banget,” katanya. “Maka, jadilah kami lebih banyak membaca saat itu.”

***

Saya melihat dua hal penting di sini. Pertama, Read More