Ada Sihir di antara Kata-katamu!

Ada satu hal penting yang lupa saya sampaikan pada mereka yang bertanya tentang bagaimana menulis yang baik; tentang bagaimana cara menyusun aksara dengan memikat. Hal itu adalah: hanya menyampaikan premis yang benar-benar teruji validitasnya atas segala hal, apalagi bila kita bicara tentang masalah keislaman.

Keahlian tinggi selalu diikuti dengan tanggung jawab yang tak ringkas tunainya. Sebab makin tinggi keahlian seseorang, makin tinggi pula kemungkinan ia mampu mempengaruhi orang lain, baik ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya.

Yang perlu dicatat adalah, kata-kata indah kadang melenakan. Kadang, ia malah mengaburkan pesan inti yang hendak disampaikan, hingga seseorang kesulitan bersikap sebagaimana layaknya ia harus bersikap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya di antara kata dan keterangan adalah sihir. (HR Bukhari)

Allah juga telah menggariskan dalam kitabNya,

Dan demikianlah untuk tiap nabi, Kami jadikan musuh yang terdiri dari syaithan-syaithan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan pada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama apa yang mereka ada-adakan. (QS al An’aam 112)

Ayat ini baru saja disampaikan oleh seorang ustadz di hadapan saya. Membacanya, saya jadi ingat kaum sophis di Yunani ketika ilmu retorika sedang berkembang cukup pesat di sana. Kaum sophis ini di kemudian hari dikritik oleh Isocrates dan murid-muridnya. Sebab, ringkasnya, mereka berfokus pada manipulasi emosi pendengarnya melalui kata-kata dan aksi panggung yang menawan. Logika dan data dengan akurasi tinggi sedikit terpinggirkan. Maka, yang menang tetap saja yang pandai bicara. Bukan yang secara faktual berada di sisi yang lebih dekat dengan kebenaran.

retorika versi sederhana. gambar oleh mmcelhaney

Ditambah lagi, kaum sophis ini juga mengkomersilkan ilmunya. Lengkaplah sudah keburukan sebagian insan yang dikaruniai pengetahuan: sudah manipulatif, mata duitan pula.

Seperti yang saya sampaikan di sini [artikel rendah hati], bersikap gegabah dalam menyimpulkan sesuatu, apalagi simpulan itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyebaran gagasan, harus dihindari sejauh mungkin. Saya tak anti pada kebebasan berpendapat. Hanya, kalau hendak menyuarakan suatu ide, tolonglah tahu diri. Kalau memang belum punya dasar kuat untuk bicara tentang sesuatu, jalan terbaik memang hanya diam dan mendengarkan.

Saya sudah ungkapkan beberapa dalil dan contoh dari pendahulu kita yang shalih tentang diam terhadap sesuatu yang kita tak punya ilmu memadai tentangnya. Lengkapnya, silakan baca artikel tersebut.

Akhirnya, maafkan bila saya hendak menutup keterangan singkat ini dengan kata-kata yang keras. Tak ada gunanya, dan tak akan pernah ada kemuliaan—di mata saya, paling tidak—yang hinggap di sisi seseorang yang meletakkan keahlian yang Allah anugerahkan padanya pada jalan yang mengingkari tujuan terciptanya ia—dan segenap perangkat yang ada dalam dirinya—di muka bumi.

Ini sekaligus jadi peringatan bagi saya, yang menulis dengan frekuensi yang cukup rutin, agar tetap berhati-hati dalam menulis berbagai hal yang terkait dengan kepentingan orang lain. Semoga yang membaca tulisan ringkas ini bersedia mengingatkan saya ketika saya sedang condong pada hal-hal yang jauh dari manfaat seperti itu.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: