Sikapmu Membentuk Sikap Anak-anakmu

Tidaklah setiap anak lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani, atau Majusi. (HR Bukhari)

Proses produksi majalah edisi ini mengajarkan saya beberapa hal baik: manajemen stres, pengelolaan prioritas kesibukan, sampai, yang tak kalah penting, wawasan baru yang didapat dari narasumber.

Karena tema utama majalah kali ini adalah budaya literasi, narasumbernya tentu orang-orang yang bergerak di bidang tulis-menulis; atau pemberdayaan masyarakat melalui program baca. Pada beberapa narasumber yang punya latar belakang sedikit berbeda itu, saya selalu mengajukan satu pertanyaan reflektif yang sama: bagaimana lingkungan membentuk Anda jadi suka membaca?

Yang (agak) mengejutkan, tiga narasumber itu menjawab dengan subyek seragam: keluarga. Murni Ramli, Peneliti Pusat Studi Asia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mengaku semasa kecil tak punya dana cukup untuk beli banyak buku. Meski begitu, ayahnya tetap menjadikan buku harian sebagai hadiah. Dengannya, Bu Murni meluangkan waktunya untuk berkunjung ke perpustakaan dan menghabiskan karya sastra populer yang ada di sana.

Agus M. Irkham, penulis senior, bercerita bahwa ibunya, yang hanya sempat menempuh pendidikan setingkat SD itu, secara demonstratif mengajarkan anak-anaknya untuk membaca dengan resep ampuh: memberi contoh. Tiap sore, katanya, ibunya selalu duduk di dekat jendela, dan membaca bacaan apa pun yang tersedia di hadapannya, sesibuk apa pun beliau dengan tugas domestiknya hari itu. Sang ayah tak ketinggalan. Tiap pulang kantor, ia selalu membawa hadiah rupa-rupa majalah bagi anak-anak di rumah itu. Maka, seperti kata Mas Agus, “Kami nggak punya pilihan hiburan lain selain membaca.”

Sementara Intan Savitri, Ketua FLP Pusat yang bernama pena Izzatul Jannah, bercerita tentang ibunya yang seorang jurnalis. Karena profesinya, sang ibu seolah tak punya “kreativitas” dalam memberikan hadiah selain bacaan. Seperti ayah Mas Agus, ibu Bu Intan juga rajin memasok stok bacaan buat anak-anaknya tiap hari. Akhirnya, ia tentu tak punya sarana mengisi waktu luang selain membaca. “Mau nonton TV, saat itu kan hanya ada TVRI, yang acaranya boring banget,” katanya. “Maka, jadilah kami lebih banyak membaca saat itu.”

***

Saya melihat dua hal penting di sini. Pertama, menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Kedua, menumbuhkan minat baca sejak dini melalui pembiasaan yang diterapkan dalam keluarga.

Untuk poin pertama, saya ingat resep Gola Gong dalam mendidik anak-anaknya cinta baca, seperti yang tertulis dalam Gempa Literasi, dengan menjadikan kegiatan membaca itu lebih menyenangkan dibanding kegiatan lain yang punya ekses negatif dominan. Atau, dengan cara membuat kegiatan lain yang kurang baik itu, seperti menonton televisi, jadi tampak membosankan.

Bagaimana caranya? Beragam; tergantung kreativitas orang tua. Contoh yang diberikan Gola Gong: mendeklamasikan buku cerita di depan anak-anak mereka. Atau, diselingi dengan aktivitas “aneh” yang menuntut orang tuanya bertingkah luar biasa aktif di depan anak-anaknya. Intinya, “pertunjukan” membaca dilakukan seatraktif mungkin.

Mungkin, Gola Gong sedang mencoba membangun imunitas bagi anak-anaknya. Ia tak mengisolasi anak-anaknya dari barang adiktif semisal televisi. Ia masih tetap membeli TV. Tapi, konsekuensinya, pengawasan yang harus diberikan pada anak-anak cukup ketat. Ia—atau istrinya—mendampingi anak-anak mereka dalam menonton TV. Program yang dipilih pun terseleksi. Jadi, anak-anaknya tak diberi kebebasan mutlak untuk menonton acara yang seringnya merusak kepribadian mereka.

Mengapa saya sebut ia “sedang mencoba membangun imunitas”? Sebab yang ia lakukan adalah membuat anaknya menumbuhkan kesadaran pribadi bahwa membaca adalah kegiatan yang lebih menyenangkan dibanding menonton TV, atau melakukan hal-hal kurang berguna lainnya. Anak-anak tak dihindarkan dari televisi. Tapi mereka dibentuk untuk lebih mencintai bacaan ketimbang hiburan visual. Sehingga, pada saatnya nanti, secara otomatis anak-anak itu bisa memilih sendiri apa yang baik buat mereka, dan apa yang tidak.

Oh, saya tak anti pada televisi. Tapi toh acara televisi yang saya anggap berdampak buruk pada kepribadian anak-anak sudah mendominasi; baik berbentuk iklan maupun program televisi. Ada kajian akademis (yang menurut saya) penting yang dibilang oleh Bu Intan saat wawancara. Ia, yang mengambil Psikologi di kuliah masternya, menyebut, “Saat menonton TV, fungsi kognitif kita nggak jalan. Jadi, saat menonton televisi, otak kita hanya menerima apa yang muncul di layar TV itu, tanpa proses seleksi.”

Poin kedua yang saya lihat dari berbagai pernyataan itu adalah penumbuhan minat baca yang berasal dari keluarga. Salah satu hikmah yang dapat kita ambil dari cerita narasumber saya itu adalah bagaimana orang tua perlu mengkondisikan rumahnya supaya anak-anaknya lebih tertarik pada bacaan dibanding hiburan.

Simak lagi hadis di atas. Tiap diri lahir di atas fithrah. Orang tuanya yang mengubahnya jadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi. Memang, menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, kata “fithrah” itu merujuk pada makna “Islam”. Artinya, tiap diri dilahirkan dalam bertauhid pada Allah. Orang tuanyalah yang mengubahnya dan memilih diin yang lain; baik dengan cara pengajaran maupun dorongan orang tua padanya.

Dari sini kita belajar bahwa diri kita saat ini sebagiannya ditentukan oleh karakter orang tua dan bagaimana cara mereka mendidik kita. Maka, beruntunglah mereka yang lahir dan besar di lingkungan baca. Wajib bersyukurlah mereka yang bebas dari pengaruh media visual yang melenakan.

Pembentukan kepribadian keluarga itu mungkin tidak hanya terbatas pada minat baca. Ini mengingatkan saya pada salah satu kawan (cukup) akrab saya asal Surabaya. Dia bercerita tentang temannya yang dilarang mengenakan jilbab oleh ibunya. Entah apa yang ada di pikiran sang ibu. Ia sampai bersumpah akan minggat dari rumah bila mendapati anaknya benar-benar mengenakan jilbab. Negosiasi dilakukan. Sejauh ini, sang ibu hanya mengizinkan anaknya mengenakan jilbab di kampus. Tidak di tempat lain.

Setelah memberikan tanggapan dan alternatif solusi seadanya, saya berpikir. Betapa beruntungnya saya ditakdirkan Allah tumbuh di lingkungan yang baik. Meski kami—saya dan adik-adik saya—tak dididik dengan cara islami, keluarga saya termasuk terbuka. Segala pemikiran boleh masuk dan didiskusikan. Asal, tentu, ada argumen kuat yang mendasari. Nggak asbun. Maka mungkin mereka yang terbiasa dengan unggah-ungguh ala Jawa tentu agak risih melihat kami saling berdebat satu dengan lainnya secara egaliter terkait sebuah masalah. Mereka yang “kolot” beragama juga mungkin heran saat saya ber-idul fitri sehari lebih awal dibanding bapak saya sebab masalah hisab hakiki wujudul hilal yang masih memperhitungkan wilayatul hukmi.

Saya kemudian berkaca pada keluarga saya. Benar yang dibilang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabad lalu itu. Dalam hal diin, misalnya, hampir seluruh keluarga besar saya berafiliasi—secara formal maupun informal—pada Muhammadiyah. Mungkin hanya saya dan beberapa anggota keluarga lainnya yang tidak. Dalam hal sifat juga begitu. Anak pertama dan ketiga cenderung lebih pendiam dan tidak suka jadi pusat perhatian, mirip ibu saya. Anak kedua suka protes dan berargumen, mirip bapak saya.

Saya membayangkan saya berada di posisi teman-kawan-saya itu. Bagaimana rasanya hidup di sebuah keluarga yang mengekang kebebasan untuk menegakkan syariat, paling tidak untuk diri sendiri? Tentu tak mudah. Apalagi, penentang terbesarnya adalah ibu sendiri. Ini mirip dengan cerita seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Sa’ad, yang ibunya menyatakan mogok makan sebab mendengar berita masuk Islamnya Sa’ad.

Perlu ada keberanian besar dalam mempertahankan prinsip, apalagi kalau itu berkaitan dengan diin, di hadapan orang tua. Saya merasakan betul itu ketika berargumen dengan bapak saya saat kami berselisih pendapat. Nah, kalau di lingkungan yang relatif bebas bicara saja sudah seperti itu tekanannya, tentu ada tantangan lebih besar yang dihadapi bila orang tua bersikap keras terhadap semua argumen anak-anaknya. Kalau dia (teman-kawan-saya ini) tak teguh pada pendiriannya, mungkin ceritanya akan berbeda.

Saya lihat, tak banyak orang serupa dengan dia. Seberapa sering sih kita melihat ada anak yang tak berperangai mirip dengan orang tuanya? Berapa banyak orang yang kita temui yang memilih jalan berbeda dengan orang tuanya terakit hal-hal prinsip seperti ini?

Ini, saya pikir, perlu dijadikan pelajaran. Baik bagi mereka yang sudah berkeluarga maupun yang masih merencanakannya. Keluarga macam apa yang akan (atau sedang) dibina? Visi macam apa yang hendak (atau sedang) diajarkan dan diterapkan pada anggota keluarganya—berorientasi akhirat atau duniawi? Tujuan besar apa—dan pembagian tugas seperti apa—yang diterapkan dalam keluarga tersebut?

Bila kita belum mendapat jawaban layak atas pertanyaan ini, bukan tak mungkin di tengah jalan akan muncul peristiwa semisal teman-kawan-saya itu. Kalau begini kasusnya, tentu yang paling terpapar dampak buruk adalah anak-anaknya.

Semoga, dengan semakin mudah dan terbukanya akses informasi ke banyak orang, semakin mudah pula kita berpikiran lebih terbuka. Atau makin ringan mendidik mereka yang berada di bawah tanggung jawab kita. Kalau tidak, tentu kasihan sekali mereka yang berkepribadian buruk sebab lingkungan atau binaan orang tuanya yang bermasalah.

-RSP-

PS: sebenarnya, saya ingin bahas hal-hal terkait hadis yang saya sebutkan di awal. tapi sepertinya kurang begitu penting, sebab saya lihat pemahaman orang tentang ini masih baik-baik saja. selain karena saya sedang malas buka-buka buku

2 comments
  1. aku baru beli Gempa Literasi, baru akan dibaca😀
    apa cp flp yg waktu itu aku kasih, berguna?

    kesukaanku pada baca dan buku, justru tertular temanku -yang memang punya perpustakaan keluarga dirumahnya-
    tiap anak bahkan bisa punya koleksinya

    ngomong2, itu, kamu anak ke berapa? yg mirip ibumu atau ayahmu? ^^v

    • reza said:

      iya. kemarin sudah diwawancara sebelum aku ke Pulogadung.

      anak pertama; mirip ibu, kata orang2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: