Tentang Kutipan dan Hal-hal yang Tak Selesai

Saya selalu heran pada mereka yang menempelkan sakralitas pada kata-kata orang tertentu, sementara menganggap semua yang berasal dari selainnya adalah profan. Yang lebih mengherankan (mohon untuk tidak mengasosiasikan saya dengan kata “heran” seperti kalian mengasosiasikan kata “prihatin” dengan “SBY”) adalah cara kita bersikap terhadap sumber kalimat tersebut. Seolah, kali ini, salah satu cara kita dalam menilai validitas kata-kata, yaitu tingkat kepercayaan sang narasumber, tidak digunakan lagi.

Saya harap saya tidak bersikap tak adil. Tapi toh, penilaian terhadap reliabilitas narasumber, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, jadi salah satu prasyarat sebelum kita mengangkat sumber anonim dalam sebuah berita. Dalam hal audit pun, penilaian terhadap sumber yang kredibel perlu dilakukan saat melakukan wawancara. Apalagi, bukti audit berupa wawancara menempati posisi yang tak begitu dianggap obyektif sebagai dasar penyusunan opini audit.

Tapi mari tidak berkutat pada hal-hal di dua paragraf awal itu. Saya berasumsi kita sudah bersepakat mengenai hal demikian.

Maka coba simak contoh peristiwa ini: ada seseorang yang sedemikian terpercaya, hingga ketika ia mengabarkan hal yang nyaris mustahil pun, ia akan dibenarkan. Ada lagi orang lain yang sepanjang hidupnya tak pernah diriwayatkan berbohong (atau paling tidak, saya belum pernah dengar kisah kebohongannya itu; dan orang-orang yang bertugas sebagai “perawi-watch” juga belum mengungkapkan cacat dalam akhlaqnya) yang kemudian diberi tugas membawa berita tentang orang pertama.

Sementara, di tempat dan masa lainnya, ada seseorang yang menganjurkan peniadaan kelas, termasuk dalam keluarga. Tiap manusia harus bebas dalam memberikan peran bagi kehidupan. Seorang suami pun tak mutlak langsung jadi pemimpin keluarga hanya karena gendernya. Masalahnya, keluarganya sendiri cukup awut-awutan.

Suatu hari, datang panduan mengelola rumah tangga dari dua kelompok orang ini. Yang pertama mengaku panduan itu adalah wahyu. Sementara yang kedua menawarkan gagasan semanis madu. Kalau kita diminta memilih, mana yang lebih kredibel dari keduanya? Yang tak pernah berdusta atau yang keluarganya acak-acakan?

Retoris, eh?

Oya, mungkin pengandaiannya kurang tepat. Nggak apple-to-apple. Maaf. Intinya begini: saya ingin menyampaikan bahwa harus ada penilaian yang kita lakukan terhadap pembawa berita atau penggagas wacana. Apakah ia kredibel di bidang itu? Kalau ia memang merupakan produk pemikiran, sudahkah ia teruji reliabel?

Saya tak menganggap semua yang berasal dari orang-orang-yang-saya-“cela” itu tak layak diterima. Tentu, ada kebenaran, atau dalam term kaum muslimin, “hikmah”, yang tersimpan dalam kata-kata itu. Tapi layakkah ia dijadikan sumber pemahaman—tanpa reserve(*)? Bisakah ia menyangga permasalahan hidup dengan cara menawarkan solusi? Atau ia hanya akan terus memproduksi pertanyaan dan menambah panjang daftar “hal-hal yang tak selesai” itu?

Jadi, yang harus digarisbawahi, hikmah yang kita dapat dari sumber-sumber itu tak bersifat mutlak. Akal dibentuk dengan masukannya: pengalaman, khazanah intelektual, dan kecenderungan seseorang dalam hal karakteristik pribadi. Konsekuensinya, ia terbatas pada seberapa luas masukan pemikiran manusia tersebut. Ini pula yang menjelaskan pasase kawan saya: yang kita sebut “kebenaran relatif” adalah hal-hal yang kita tak kita ketahui (atau belum kita sepakati) tentang kebenaran suatu hal.

Dengan kata lain, ketika kita mengetahui apa yang secara faktual terjadi, saat itulah kita akan secara berbarengan menyepakati apa yang dianggap benar.

Sementara, wahyu berangkat dari Yang Mahatahu. Prasangka logisnya, Yang Mahatahu tentu punya cara untuk mengatur ummatNya dengan variabel tertentu yang tidak diketahui ummat tersebut. Premis ini tentu berpijak pada asumsi bahwa manusia mampu mengimplementasikan isyarat langit itu dengan lebih membumi.

Akal dibentuk dengan masukannya: pengalaman, khazanah intelektual, dan kecenderungan seseorang dalam hal karakteristik pribadi. Maka, ia dengan sendirinya akan bersifat terbatas. Di sinilah letak sakralitas wahyu. Ia dipercaya berasal dari penguasa jagat raya. Yang menciptakan semesta, termasuk bumi dan manusia di atasnya. Maka apalagi yang tidak diketahui oleh Dia Yang Mahatahu?

Tapi bagaimana bisa kita percaya begitu saja? Bagaimana kita yakin bahwa petunjuk yang berasal dari wahyu itu sungguh bisa dipercaya? Bagaimana kita bisa tahu bahwa informasi itu benar-benar datang dari tuhan?

Pertanyaan ini kita jawab dengan argumen kredibilitas sumber itu tadi. Setelah sekilas mempelajari ilmu jarh dan ta’dil yang digeluti ulama’ tertentu, saya belum melihat adanya cacat dalam metodologi tersebut. Secara sepintas, saya lihat sulit kita temukan ada seorang yang pernah berdusta tapi kata-katanya digunakan sebagai perantara berita. Satu cacat—bahkan ketika ia pernah kehilangan hafalan—sudah mampu menurunkan derajat periwayatan yang melalui dirinya.

Nah, bandingkan dengan Irshad Manji yang mengutip tentang Rasulullah (apa kutipannya?**) Bisakah dipercaya? Dari mana saja sumbernya? Igauan orientalis belaka ataukah bersambung jalur periwayatannya sampai ke Rasul?

Tapi memang masalahnya tak sesederhana itu. Setiap periwayatan shahih yang bersambung hingga ke sang utusan tentu akan dicurigai dengan tuduhan-tuduhan partisan. Tak lain karena persyaratan seorang perawi sungguh berat. Salah satunya, tentu beriman. Mereka yang tak mengimani syariat ini tak layak dimasukkan sebagai orang terpercaya yang membawa titah nabi. Dan mereka yang berstatus beriman tentu punya tendensi khusus saat berhadapan dengan nabi dan para pengikutnya.

Tapi kalau sudah tak percaya dengan mereka, bagaimana lagi kita mau menggali informasi tentang nabi? Tuduhan orientalis yang kadang terdengar seperti cerminan dirinya sendiri itu menurut saya kurang bisa dipercaya dibanding periwayatan orang-orang shalih di atas.

Mungkin ada yang bilang bahwa paragraf barusan ini adalah bagian dari sikap fatalis. Untuk itu, mari mencermati bagaimana seorang perawi itu bisa dipercaya. Izinkan saya menyederhanakannya dengan menyarankan baca History of the Qur’anic Text karya Muhammad Musthafa Azami.

Buku itu secara umum menjelaskan bagaimana wahyu itu sampai pada Rasul, bagaimana ia dibukukan, bagaimana ia diriwayatkan dari generasi ke generasi, serta bagaimana cara Allah menjaga otentisitas wahyuNya itu.

Yang ingin saya berikan penekanan di sini tentu karakteristik pembawa berita. Orang-orang ini benar-benar terseleksi dan shalih (salah satu karakteristik orang yang shalih itu adalah tak pernah berdusta—ingat sabda nabi bahwa orang muslim bisa takut, tapi tak bisa berdusta kan?).

Bukankah persyaratan ini terasa utopis di masa kini? Lagi-lagi, jawabannya: mungkin. Kita nantinya akan membawa argumentasi tentang Ziyaul Haq, orang Pakistan itu, yang membawa perubahan berupa syariat sebagai hukum positif di Pakistan. Toh, ujung-ujungnya, hukum Inggris juga yang diadopsi. Untuk yang ini, kita perlu memperbaiki sudut pandang. Bukankah, ketika sebuah sistem pernah terbukti kredibel dalam mengerjakan tugasnya, dan di satu waktu ia dianggap gagal, yang pertama kali diperiksa adalah penyebab kegagalannya—bukan sistemnya?

Tapi lain dulu lain sekarang. Pertimbangkan pula kata-kata Rasul tentang ummat terbaik (yang dimulai dari masanya, masa setelahnya, kemudian masa setelahnya lagi). Atau, isyarat Rasul mengenai generasi ghurabaa’. Maka wajar bila kita kesulitan menjumpai orang-orang dengan kriteria pembawa berita nabi. Tapi tentu bukan mustahil orang-orang seperti itu kita temui di masa lalu.

Kenapa saya cenderung tidak kritis saat bicara tentang kredibilitas pembawa wahyu? Atau ketika membahas apakah sebuah syariat wajib dilakukan atau tidak?

Saya menganggap ini bagian dari kehati-hatian dalam bicara tentang hal yang ghaib. Lebih-lebih, yang sedang dibicarakan adalah wahyu Penggenggam-Jiwa saya. Konsekuensi bicara sembarangan tentang Allah tak main-main. Bila berdusta atas nabi saja kita sudah harus bersiap menghuni tempat duduk di neraka, tentu yang kita dapat saat bicara tentangNya dengan asal-asalan juga nyaris serupa.

Karena sedang bicara tentang tuhan, Karen Armstrong, seperti yang ia bilang dalam bagian pembuka The Case for God, selalu berhati-hati dengan mengambil referensi sebanyak dan sekompleks mungkin. Saya, yang kapasitas wawasannya cuma secuil dalam memahami al Quran dan as Sunnah, lebih memilih waspada terhadap syubhat yang, seringnya, juga terdorong oleh syahwat memperoleh pujian atau ketenaran.

***

Ada yang memendam jengkel saat saya banyak mengutip Sayyid Quthb, Ibn Katsir, Nashiruddin al Albani. Tapi, di saat bersamaan, ia fasih mendaras kata-kata Nietzche, Derrida, sampai Samuel Huntington.

Dalam waktu lain, barangkali sudah ada orang yang bangga mengutip Irshad Manji yang mengajak pembacanya untuk “beriman tanpa rasa takut”, tanpa memperhitungkan bagaimana proses berpikir Manji sehingga ia mendapatkan premis tersebut. Tanpa memperhitungkan juga kredibilitasnya dalam ber-“ijtihad” sementara bahasa Arab pun ia tak paham.

Kebebasan, menurut saya, selalu harus diimbangi dengan tanggung jawab. Maka saya setuju dengan ungkapan simbolis seorang-yang-saya-lupa-namanya (mungkin Amien Rais; cmiiw) bilang bahwa setelah patung Liberty di pantai timur Amerika, perlu dibangun patung Responsibility di pantai baratnya. Tanggung jawab ini bisa berupa kapabilitas ilmiah, pengambilan data yang akurat dan tidak tendensius, sampai penarikan simpulan dengan proses berpikir yang sehat.

Di sinilah letak keheranan saya, yang juga sudah saya sebutkan di awal. Bagaimana bisa kita menerima informasi yang digunakan sebagai dasar penyusun argumentasi dan simpulan bila informasi itu kurang dapat dipercaya? Karena adanya kesamaan simpulan—meski beda paradigma? Atau karena sejak awal kita sudah punya tendensi untuk mengkritisi hal-hal yang dianggap suci (sebab kata teman saya, mengkritisi hal yang suci itu lebih menarik dibanding mengkritisi hal yang “najis”)? Bila memang begitu, tentu akan sulit bersikap “adil sejak dalam pikiran”.

Atau jangan-jangan, ini bagian dari snobisme kita.

Yah, begitulah. Bila ada yang paham jawaban atas keheranan saya itu, tolong bantu saya.

-RSP-

PS: entah kenapa, saya selalu produktif bikin tulisan di masa ujian.

*errata: harusnya reverse (kebalikan), dan bukan reserve (cadangan)

**errata: saya lupa menuliskan kutipannya. kutipan berikut ini adalah salah satu yang saya maksudkan akan saya tulis.

Ketika Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu dari tuhan yang esa, ia tahu bahwa ia akan menghadapi masa-masa berbahaya dari sesama orang Arab. Sejarawan muslim di masa-masa awal, at Tabari, meriwayatkan Nabi pernah berniat bunuh diri dengan menghempaskan diri dari gunung ketimbang menyebar pesan yang akan membuatnya terdengar gila. Khadija, istri Nabi, menenangkan suaminya dan meyakinkannya untuk menerima status barunya sebagai utusan terpilih ilahi, meski sesosok manusia. –Allah, Liberty, Love, p.88

mungkin ini terlewat bagi Manji. tapi bukankah satu-satunya perintah yang turun saat itu adalah perintah untuk membaca? Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan belum diangkat sebagai Rasul saat itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: