Mati

Artikel ini dimuat di rubrik Lentera Tabloid Civitas edisi 19.

Everyone knows they’re going to die, but nobody believes it. If we did, we would do things differently. –Morrie Schwartz

Yang tak bisa belajar dari pengalaman orang lain harus membayar mahal sebuah pelajaran dengan mengalaminya sendiri. Sebab kadang, perlu harga mahal untuk memahami premis sederhana bila seseorang tak bisa belajar dari situasi di sekitarnya. Ada sebuah pelajaran penting yang datang dari Morrie Schwartz, seperti dituliskan oleh Mitch Albom dalam Tuesdays with Morrie.

Mati barangkali adalah salah satu misteri terbesar dalam sejarah manusia. Dan itu, pada waktu tertentu, membawa manusia pada pertanyaan tentang makna hidup; apa hal terpenting dalam hidup: uang, kuasa, atau karier? Saat itu semua lenyap, apa hal yang bisa berperan sebagai subtitusinya? Dan setelah itu semua, seberapa dalam hubungan kita dengan manusia—yang tak sebatas basa-basi dengan motif profit atau rutinitas belaka?

Jawaban atas pertanyaan itu tentu kita dapati di berbagai macam ideologi. Tiap ideologi selalu menyediakan konsepsi mengenai gagasan atau cita-cita tertinggi bagi pemeluknya. Sebab barangkali hanya dengan hal itulah hidup manusia jadi punya arti. Morrie menjawabnya dengan caranya sendiri. Hal serupa dilakukan pula oleh mereka yang punya nilai-nilai spesifik yang mereka yakini.

Morrie, yang di usia senjanya masih terlihat enerjik, tiba-tiba ambruk tanpa sebab. Tubuhnya bugar, ototnya jauh dari kata lelah, tapi kakinya tak mau menuruti perintah tuannya. Maka, perlahan, tercabutlah kebebasan Morrie atas hal-hal yang ia cintai: mengajar, mendengar, dan menari. Ia, yang sebelumnya sangat optimis terhadap kesehatannya, akhirnya harus berdamai dengan vonis medis: ALS.

Amyotrophic lateral sclerosis, ringkasnya, adalah penyakit yang menyerang pusat syaraf yang mengontrol pergerakan otot. Mereka yang mengidap penyakit ini perlahan, dari kaki dan menjalar terus ke bagian atas tubuh, kehilangan kontrol dan terperangkap dalam tubuhnya sendiri. Penyebabnya tak diketahui. Obat yang ditemukan kini pun hanya berfungsi memperlambat laju pengaruhnya, bukan menyembuhkan secara total. Dan cara meninggalnya pun terasa menyakitkan: kegagalan bernafas sebab otot diafragma tak mampu mendorong paru-paru melakukan mekanisme aspirasi dengan normal.

Tapi dari tubuh Morrie yang kian lemah itu, saya belajar banyak hal. Tentang kesadaran akan kematian, tentang apa yang paling berarti bagi hidup kita.

Why is it so hard to think about dying?
“Because,” Morrie continued, “most of us all walk around as if we’re sleepwalking. We really don’t experience the world fully, because we’re half-asleep, doing things we automatically think we have to do.”
And facing death changes all that?
“Oh, yes. You strip away all that stuff and you focus on the essentials. When you realize you are going to die, you see everything much differently.”

Saya berhenti dan berpikir dalam-dalam. Kematian memang mengejutkan. Tapi umumnya, ia tak meninggalkan cukup bekas untuk mengubah orientasi hidup kita. Biasanya, kita hanya tercenung sebentar, mengucapkan kalimat istirja’, dan sesaat kemudian menjalani hidup seperti biasa—seperti tak pernah mendengar tentang berita kematian.

Itu karena, ternyata, gambaran kematian tak begitu nyata terpeta dalam benak kita.

Kita, seperti kata Morrie, melalui hidup “as if we’re sleepwalking”. Tak ada kesadaran tentang kematian. Kita tahu, tapi tak percaya. Sebab bila kita percaya tentang mati, selalu ada kesadaran penuh bahwa kematian itu datang tanpa peringatan.

Lain halnya bila kita berada di sisi Morrie. Tahu bahwa akhir hidupnya akan menyakitkan—dan yang terpenting, tahu bahwa ia akan menghadapi kematian tak lama lagi—Morrie mengubah persepsinya tentang hidup. Saking dekatnya persepsi Morrie akan kematian, ia sampai meniru penganut Buddha untuk mengingat mati: bertanya pada burung imajiner di pundaknya, apakah hari ini adalah hari kematiannya?

Di posisi Morrie, kematian adalah kalkulasi medis. Kematian tak lagi jadi misteri; ia jadi semakin eksak, semakin nyata. Tapi, toh, kapan pun tanggal pastinya, hukum kepastian akan kematian itu tak hanya berlaku bagi Morrie. Bila kita menipu diri sendiri dengan alasan ketiadaan peringatan tentang kematian, di sinilah kita barangkali harus membayar mahal pelajaran yang harusnya bisa kita dapati dari Morrie.

Berada di posisi Morrie ternyata mampu membuat seseorang berfokus pada kehidupan yang lebih kekal. Maka, mereka yang sudah punya pengetahuan tentang akhirat tentu segera mengalihkan fokus hidup pada sesuatu yang lebih kekal itu.

Morrie dan orang-orang semisalnya mendapat peringatan yang begitu nyata tentang kematian; penyakit ganas yang menyerang tubuhnya sendiri. Sementara mereka yang berada dalam kondisi fisik prima harus jeli mengamati kematian orang-orang di sekitarnya. Padahal, seharusnya tak perlu harga mahal berupa kesehatan yang tercerabut dari tubuh untuk sadar akan kematian, seperti yang dilakukan pendahulu kita yang shalih itu—yang secara sadar menempatkan dunia tak ubahnya bangkai domba dibandingkan dengan kehidupan akhirat kelak.

Saya sangat khawatir saya hanya fasih berucap, “Kita semua pasti akan mati,” saat melihat iring-iringan menuju liang lahat. Atau berujar, “Kematian datang pada kita tanpa peringatan,” tanpa melakukan tindakan nyata. Ziarah kubur dan tampaknya kematian di depan mata kita harusnya jadi peringatan yang zhahir, bahwa suatu saat nanti, giliran kita akan tiba.

Bahwa suatu saat nanti, kita akan mati.

Dari Morrie, saya belajar banyak hal. Tentang syukur, tentang melihat sesuatu dari sudut pandang lain, dan tentang berdamai dengan diri sendiri atas segala hal yang tak dapat kita ubah lagi.

It’s horrible to watch my body slowly wilt away to nothing. But it’s also wonderful because of all the time I get to say good bye. Not everyone is so lucky.

Saya tidak melihat Morrie sebagai fatalis yang pandai menipu diri. Ada perbedaan mendasar antara mereka yang menyerah begitu saja dengan mereka yang menerima keadaan. Dalam ruang pikir saya, lema “menerima keadaan” itu dalam hal ini bisa kita sandingkan dengan kata syukur.

Mereka yang bersikap fatalis dengan mudah bersikap pesimis akan sebuah kesempatan. Mereka bisa, tapi enggan mencoba. Sementara Morrie dan orang-orang semisalnya, mau tak mau, perlu mengubah sudut pandang. Ikhtiar tak lagi hanya diartikan berusaha setengah mati mencari kesembuhan, tapi melihat hidup dari perspektif berbeda; atau mengalirkan manfaat sebanyak-banyaknya.

Mungkin yang perlu dilakukan seseorang saat segala hal berada di luar jangkauan pengaruhnya adalah bersyukur. Melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Bersyukur atas tercurahnya rizki, tercabutnya nikmat, atau belum terkabulnya doa-doa. Sebab kadang, apa yang kita harapkan ternyata membawa mudharat lebih besar dibanding manfaat yang diperkirakan.

Maka tersebutlah hikayat seorang serdadu yang akhirnya bersyukur saat mengetahui ia bisa bertahan hidup setelah sang komandan membuat kakinya cacat seumur hidup. Sepanjang sisa hidupnya, hampir tak bosan ia menimpakan segenap kegagalan dalam hidup pada kaki pincangnya itu.

Tapi belakangan ia tahu, bahwa sang komandan menyarangkan sebuah peluru di lututnya untuk menyelamatkan hidupnya. Di tengah kobaran api dan gudang senjata yang hampir meledak, sang komandan merasa tak punya pilihan lain selain melumpuhkan serdadu yang keras kepala itu dan menyeretnya menjauh dari medan pertempuran.

Hal mendetail dalam hidup—tapi mempengaruhi jalan hidup seseorang—ini tiba-tiba mengingatkan saya pada Hamka, seperti dikutip seorang kerabatnya suatu waktu, “Kalau saya tak masuk penjara, saya tak mampu menulis buku seperti ini!”

Mungkin, tanpa peringatan tentang kematian, Morrie juga tak berpikir tentang hal-hal yang direkam Mitch Albom.

Dari Morrie saya belajar bahwa salah satu muara dari kebajikan adalah ingat mati. Bahwa ternyata kematian punya paradoks tersendiri: gambaran kematian mampu membawa energi berlebih untuk menghadapi hidup. Maka beruntunglah kawan saya yang pernah digerakkan oleh ketakutan ini. Ketakutan bahwa ia tak tahu kapan ajal akan menjemputnya. Dan itu mendorongnya bergerak, merangsek dengan cepat dan radikal.

Mengingat Morrie, saya belajar untuk menghargai hidup. Untuk menghargai sungguh-sungguh apa yang telah dianugerahkan pada saya hingga hari ini, kemudian meletakkan ikhtiar segiat mungkin atas hal-hal yang saya yakini. Bersyukur jadi salah satu jalan. Sebab kebaikan macam apa yang bisa didapat dari pribadi yang selalu meratapi diri?

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: