Lepas Jabatan

Kubuka catatan tentangmu pelan-pelan
Semoga sempat membersamaimu bukan suatu kesalahan*

Sepertinya, secara de jure, sejak Ahad, 3 Juni 2012 kemarin, saya sudah tidak lagi menjabat sebagai Pemimpin Redaksi LPM Media Center 2011/2012; juga, dalam waktu dekat, status sebagai anggota biasa LPM ini juga akan berganti jadi “anggota luar biasa”.

Menjadi anggota luar biasa berarti menghentikan segenap aktivitas rutin sebagai jurnalis mahasiswa. Ada rasa syukur sekaligus sedikit penyesalan atas momen ini. Saya bersyukur sebab ini berarti saya tak lagi sulit membagi agenda antara jadwal Media Center yang nyaris selalu penuh dengan kegiatan ekstrakampus saya yang juga cukup padat. Saya juga sudah punya “kebebasan” dalam bicara di dunia maya. Sebelumnya, saya sangat hati-hati dalam bicara sebab khawatir omongan saya itu akan dianggap sebagai sikap redaksi. Bicara atas nama orang banyak itu selalu sulit. Sebab bisa jadi, ada beberapa bagian dari orang tersebut yang merasa tak terwakili dengan apa yang saya sampaikan.

Penyesalan muncul sebab ada hal-hal yang harusnya bisa saya kerjakan lebih baik. Mungkin ini adalah opportunity cost; ini adalah harga yang harus dibayar ketika saya memilih condong pada amanah ilmiah saya di tempat lain. Anggota angkatan 14 bahkan menyebut saya sebagai Pemred yang “jarang keliatan di bengkel”. Maka, untuk kinerja yang tak maksimal ini, saya minta maaf. Semoga Pemred berikut tak se-invisible saya; dan jadi sepopuler Mas Findo atau Mas Ardhi dalam bidang yang mereka kehendaki.

salah satu bingkisan angkatan 14-15 buat 13. digambar oleh Icha. 🙂

 Di tengah bertambahnya keraguan atas going concern salah satu badan kelengkapan Keluarga Mahasiswa STAN ini, mereka, mabeng angkatan 14-15 yang diwakili oleh Tri Hadi Putra sebagai Pemimpin Umum, mengambil alih pos-pos penting dalam operasional Media Center. Pada mereka, saya hanya punya harapan yang luar biasa klise: semoga jejak keberhasilan mampu meninggalkan bekas dalam perjalanan mereka selanjutnya.

***

Cerita saya sebagai anggota organisasi ini dimulai dari sebuah rumah kontrakan di Gang Romeo, Kalimongso. Setelah dinyatakan lulus dalam uji wawancara, kami, calon anggota baru Media Center dikumpulkan di “malam inaugurasi”. Intinya, di sana, kami ditanya mengenai komitmen. Saya tak begitu ingat akhir acaranya. Seingat saya, ketika sampai di bengkel pagi harinya, ada yang tidur, ada yang memilih langsung pulang, ada yang gelisah kelaparan menunggu jadwal sarapan, dan ada yang sedang coba-coba main Plant vs Zombie.

Mbak Iza lah yang mewawancara saya selepas acara “berburu harta karun”—kami diminta mengumpulkan bendera dan mengikuti rute yang telah ditetapkan—malam itu. Nah, salah satu yang ditanyakan Mbak Iza waktu itu, seingat saya, adalah, “Apa yang akan kamu berikan buat Media Center selanjutnya?”

Jawaban saya kira-kira begini, “Tujuan saya di sini ya pengen belajar, mbak. Jadi saya nggak bisa menjanjikan apa pun selain hal-hal seputar itu.”

Jadi begitulah. Ketika mendaftar sebagai anggota magang Media Center, saya belum tahu apa pun tentang dunia jurnalistik. Semua digerakkan oleh keinginan untuk belajar—plus provokasi Mas Medi yang menggebu-gebu di masa pendaftaran magang.

Sebelum malam inaugurasi itu, kami sebenarnya sudah dibekali dengan hand-out berisi materi jurnalistik. Tapi, karena terlalu teoritis, jadilah saya tak terlalu memperhatikan materi-materi itu. Pengalaman paling berharga selama masa itu adalah ketika kami, anggota magang, harus turun ke lapangan, meliput, dan dilibatkan langsung dalam produksi Tabloid Civitas edisi 10, atau “tabloid magang” bagi angkatan 13.

Artikel berita saya di sana berjudul “Dinamika Spesialisasi Minim Partisipasi” di rubrik Ragam Mahasiswa. Artikel itu ditulis bareng Rezo, kawan magang saya (kebetulan juga sekelas di tingkat 1) yang memilih mundur sebelum dilantik.

Artikel itu adalah tulisan pertama saya yang dimuat di media massa “serius”, meski baru setingkat kampus. Biasanya, semasa SMA, saya hanya mengirimkan karya tulis ilmiah saat ada lomba, plus mempublikasi materi kajian remaja masjid SMA. Rasanya? Ternyata biasa saja. Tak seheboh yang dibilang orang.

Yang membuat saya harus sibuk menahan diri untuk tidak nyengir lebar-lebar adalah ketika seseorang-di-angkatan-atas itu bilang bahwa artikel saya termasuk artikel yang layak naik cetak tanpa proses editing yang signifikan.

Paskatabloid 10, kerja kami terus berjalan. Isu-isu semisal terbitnya PP Nomor 14 tahun 2010 dan keberlangsungan sekolah kedinasan, debat-debat tentang status LPM bagi Media Center, sampai lengsernya Sri Mulyani dari posisi Menteri Keuangan (saat meliput berita ini, untuk pertama kalinya saya berdiri mengambil gambar hanya lima meter dari orang beken—oke, ini norak) bergantian mengisi fokus kami di ruang redaksi.

Tak lama kemudian, pengurus berganti. Saat itu, saya terpilih jadi Koordinator Liputan. Tugasnya agak absurd, sebenarnya. Ia hanya cocok untuk kerja kewartaan yang ruang lingkupnya luas dan arus informasinya besar—yang tak cocok dengan karakter berita di Media Center. Karena alasan ini (salah satunya), ketika saya memangku jabatan Redaktur Pelaksana Tabloid, posisi ini dihapus. Segala hal terkait proses produksi tabloid langsung dikomunikasikan dengan Redpel atau sekretarisnya.

Ketika saya mulai menerima amanah ini, mulailah saya dipercaya untuk mengisi kolom di rubrik-rubrik anonim, seperti Suara Bengkel, Editorial, atau Lentera. The Butterfly Effect adalah judul kolom pertama saya di rubrik Lentera. Dan sampai saya tak lagi menjabat sebagai Pemimpin Redaksi, ini jadi seperti kolom khusus Redpel atau Pemred. Sulit disalahkan sih, mengingat dulunya rubrik ini sering diisi oleh Mbak Dian, Redaktur Pelaksana Tabloid saat saya baru masuk Media Center.

Di masa-masa ini, saya baru benar-benar belajar berbagai hal mengenai pers mahasiswa. Harus diakui, kedatangan Andreas Harsono di kegiatan Media Camp tahun 2011 kemarin cukup mempengaruhi. Saya jadi terpancing membaca beberapa buku terkait media jurnalistik. Lumayan juga jumlah kritik yang masuk ke Media Center, melalui saya sebagai Redaktur Pelaksana, saat itu. Ini juga yang ikut membangun saya. Baik dari sisi liputan maupun dari sisi manajemen isu. Disiplin verifikasi kemudian lebih ditekankan. Saya juga makin mampu bersikap dingin dan argumentatif menghadapi orang yang tak terima dengan hasil liputan.

Di masa ini pulalah, Media Center kehilangan salah satu elemen pentingnya. Pemimpin Perusahaan angkatan saya mengundurkan diri sebab perselisihan dengan beberapa mabeng. Saya bilang itu salah paham. Sebab, saya yakin, dengan pembicaraan baik-baik pun hal itu bisa diselesaikan. Meski pada akhirnya, orang-orang yang beda pendapat itu tak menemukan satu titik temu.

Berikutnya adalah fase ketika saya diserahi posisi Pemimpin Redaksi. Saya tidak ingat kapan tepatnya saya resmi diangkat sebagai Pemimpin Redaksi. Mungkin saat saya menganggukkan kepala dengan enggan dalam rapat di kamar belakang bengkel pers mahasiswa itu. Tak banyak yang bisa saya tulis di bagian ini selain ucapan terima kasih pada seluruh staf redaksi yang sudah menyisihkan waktunya di tengah kesibukan mereka untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

***

Salah satu kritik yang masuk ke saya saat masih jadi anggota aktif kira-kira isinya begini, “Kami ini sudah bekerja tiga bulan penuh. Kenapa masih saja dicap negatif? Tidak bisakah Media Center menghargai sedikit dari hasil kerja kami?”

Pertama, saya berulang kali bilang bahwa bila ukuran keberhasilan sebuah organisasi adalah lama kerja anggotanya, tentu Media Center adalah organisasi pertama yang harus diberi penghargaan untuk itu. Tabloid pertama di masa saya mulai terlibat di Media Center terbit pada Desember 2009. Saya mulai masuk kampus STAN akhir Agustus tahun itu. Bahkan, saya masih terhitung gundul—di masa orientasi kampus, seluruh mahasiswa wajib mencukur plontos rambutnya—saat masa pengerjaan tabloid itu. Dan saya secara formal melepas jabatan ini belum genap sepekan yang lalu. Total, saya terlibat langsung di sepuluh edisi tabloid, satu edisi Oven News, dan satu edisi majalah.

Ringkasnya, usia saya sebagai mahasiswa di kampus ini hampir sama dengan masa kerja saya di Media Center.

Siklus kerjanya pun padat. Pekan kedua kuliah, kami sudah harus brainstorming isu potensial di kampus. Pengerjaannya pun cukup makan waktu. Waktu normalnya sebenarnya cukup sebulan. Tapi, biasanya ini molor-molor terus sampai menjelang jadwal ujian—dengan alasan yang bervariasi. Bahkan, saya pernah sekali menemani layouter mendesain tabloid ketika esok hari harus ujian. Untungnya, ujian semester itu dilakukan siang hari. Saya akhirnya kapok mengulur deadline terlalu lama.

Kedua, ini terkait fungsi media sebagai watch dog. Ah, ini nggak usahlah saya bahas panjang-panjang. Silakan ditanyakan pada Pemimpin Redaksi yang baru saja.

Jadi, bergiat di satu lingkungan kerja yang sama selama tiga tahun berturut-turut, apa nggak bosan?

Benar-benar bosan. Saya sudah ingin mundur dari keanggotaan Media Center sejak masuk semester 4 lalu. Saya merasa butuh lingkungan baru. Saya menganggap kemampuan saya di sini sudah tak bisa lebih tinggi lagi dari ini. Saya sudah paham poin-poinnya, dan saya merasa tak ada lagi sesuatu yang baru yang bisa saya temui di sini. Saat itu, saya mencoba membohongi diri sendiri dengan argumen ini, “Dulu, pada Mbak Iza, aku bilang aku cuma pengen belajar. Kalau memang jadi keluar, aku nggak melanggar janji ke siapa pun kan?”

Tapi akhirnya saya memilih bertahan, dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya ingat bahwa jabatan yang saya pangku itu adalah amanah; bahwa ia adalah kepercayaan orang lain yang dibebankan ke bahu saya. Ngeri rasanya membayangkan pertanyaan-pertanyaan terkait hal ini di hari kemudian. Toh, saya juga masih melihat adanya peluang mengamalkan kebaikan melalui posisi itu. Lagipula, Media Center sudah kehilangan satu orang; dan kondisi akan lebih buruk jika anggota lainnya ikut memisahkan diri.

Inilah salah satu hal yang jadi pengikat saya di organisasi ini. Iya, bukan passion atau “cinta-tak-perlu-alasan”—seperti yang diucap oleh beberapa senior saya secara hiperbolis.

Terus, setelah itu semua, apa masih merasa bergabung di Media Center adalah keputusan yang salah?

Saya tak tahu jawabannya saat ini.

Tapi tentu, bertahannya saya di Media Center tak melulu terkait “pengorbanan” atau hal-hal heroik lainnya. Saya lupa-lupa-ingat pernah menulis ini di suatu tempat: Yang paling menyakitkan bagi orang yang hatinya saling berkaitan adalah perasaan yang tak terkatakan. Maka, saya ingin bilang bahwa saya sungguh bersyukur pernah jadi bagian dari organisasi ini—terlepas dari mudharat yang saya tak bangga tentangnya.

Bergiat di organisasi ini memahamkan saya akan arus informasi di media yang ideal, dan bukan di media konvensional. Ia juga memahamkan saya tentang manajemen waktu dan stres, cara bersikap, dan cara menampilkan tulisan yang argumentatif. Saya juga berlatih bersikap lapang terhadap masalah yang muncul dari orang-orang di sekitar saya. Saya juga bisa memelihara kemampuan menulis saya. Dan setelah ngobrol panjang dengan bapak saya, saya kemudian sadar bahwa kemampuan-kemampuan ini adalah salah satu yang harus sangat disyukuri. Tak banyak orang, katanya, yang Allah beri apa yang saya punya hari ini.

Ungkap syukur ini mungkin belum mewakili banyak hal yang saya rasakan saat jadi anggota aktif Media Center. Semoga kelak saya mampu dan punya waktu untuk memerantarai sedikit manfaat atas hal-hal yang tak terkatakan itu

***

“Pensiun” dari Media Center berarti tak lagi memendam geram melayani narasumber yang suka gonta-ganti jadwal wawancara. Atau ikut stres saat reporter—karena berbagai hal—sulit melakukan tugasnya. Saya sudah tak lagi kebingungan menentukan alternatif untuk hal-hal yang perlu wawasan dan kreativitas lebih. Saya sudah tak lagi menyisihkan waktu belajar untuk menanggapi hal-hal terkait organisasi, menyelesaikan artikel, konfirmasi sana-sini, atau membaca ulang seluruh artikel yang masuk ke akun email saya.

Tapi saya yakin, saya akan kangen suasana penuh kesibukan yang “sangat mahasiswa” itu. Suatu saat, mungkin saya akan merasa sangat kehilangan SMS yang mengabarkan perkembangan berita, ajakan untuk ngobrol di warung jengkol, atau suasana bengkel di luar rapat redaksi. Dan tak menutup kemungkinan, saya akan terlibat di organisasi serupa kelak, meski di ruang lingkup yang berbeda.

Reza Syam Pratama
(Mantan) Pemimpin Redaksi Media Center STAN

*) Oya, kalau memang bersama Media Center ini adalah suatu kesalahan, semoga ia serupa dengan yang dialami Mas Findo di sini.

Buat yang belum tahu:
*Media Center adalah nama LPM di kampus STAN. Bukan jenis organisasi media tertentu.
*Bengkel adalah sebutan bagi sekretariat Media Center
*Mabeng adalah singkatan dari “makhluk bengkel”; anggota aktif Media Center

Iklan
3 comments
  1. tkharisma said:

    *ketawa*
    Nah, itu maksudnya “tanpa alasan” Za.
    Makin lama makin enggak ada alasan signifikan untuk tetap tinggal, toh akhirnya sampai garis akhir juga.
    Sindrom cinta (pret) yg makan korban minimal empat di #12. Istilahnya saja yang beda *ketawa lagi*

    Bagaimanapun juga: terima kasih, #13.

    ps: “semoga serupa dengan yang dialami mas Findo”?

    • reza said:

      iya, sama-sama. Makasih atas transfer ilmunya.

      Itu ada link ke blog mas findo. Hyperlink di tema ini emang kurang jelas.

  2. faraziyya said:

    Kok aku baru kesini sekarang ya? ‘.’a
    Welldone, za 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: