Solusi Kondom ala Menkes RI

Saya sebenarnya tak suka bersikap terlalu reaktif tentang isu yang sedang berkembang di twitter atau jejaring sosial lainnya. Saya memimpikan ada selebtwit dari aktivis muslim yang konsisten menyuarakan ide tertentu, khususnya advokasi mengenai syariat Islam, tanpa terbawa arus informasi yang bermacam bentuknya.

Tapi sudahlah, mungkin memang ada isu-isu yang harus ditanggapi saat itu juga. Contohnya (mungkin) apa yang akan tulis di sini.

Beberapa hari lalu, diberitakan bahwa Menkes RI punya rencana memudahkan akses kondom ke remaja mengingat tingginya tingkat aborsi di masyarakat. Alasannya, tingkat aborsi terhitung tinggi. Beritanya bisa dibaca melalui google. Saya sedang online lewat ponsel saya. Agak repot memberikan tautan ke situs berita online.

Selang beberapa waktu kemudian, ada seorang selebtwit, pak-tua-yang-tahu-segala, yang mengajukan beberapa argumen sebagai advokasi pada gagasan Menkes tersebut. Argumennya itu kira-kira berikut ini.

“Promosi terhadap kondom bukan promosi terhadap free sex, tapi menyelamatkan bayi-bayi yang dibuang oleh orang tuanya.”

Pertama, mari sepakati dulu ruang lingkupnya. Mengapa saya mengaitkan promosi penggunaan kondom pada remaja adalah promosi terhadap free sex?

Begini, selain ketakwaan kepada Allah, bukankah pertimbangan logis lain yang membuat seseorang terhalang dari free sex adalah kekhawatiran hubungan itu akan “hasilkan” anak—yang jadi tanggung jawab keduanya? Maka, lenyapnya kekhawatiran ini tentu akan meningkatkan probabilitas terjadinya zina.

Kedua, menurut Menkes, sasaran dari rencana program ini adalah remaja, dan bukan pasangan yang telah menikah. Ini makin memfokuskan argumen tuduhan bahwa kebijakan ini merupakan promosi terhadap seks bebas.

Oya, tentu, tiap orang punya pertimbangan logis lain yang bisa jadi berbeda dengan asumsi plus pertimbangan yang saya tuliskan di atas. Tapi, berdasarkan pemikiran pribadi dan hasil baca-baca saya di beberapa forum selama ini, begitulah pendapat saya.

Argumen derivasi bisa ditambahkan terkait dengan premis yang saya kutip sebelumnya. Tapi saya menangkap satu kejanggalan: bahwa poin utama dari argumen itu adalah kondom sebagai satu-satunya pembendung aborsi.

Betul, dorongan seksual memang tak bisa ditahan. Dengan ceramah terjenius sekali pun. Ia ada dalam darah manusia normal (oke, saya tak ingin berdebat tentang definisi “normal” saat ini. Asumsikan saja ini benar, bila memang ada yang tak sepakat), sehingga masalah seperti ini adalah hal yang niscaya terjadi.

Jadi, ketimbang menjadikan kondom sebagai satu-satunya solusi, bagaimana bila kita mengkampanyekan seks yang halal, yang sah, bukan sekedar yang aman?

Saya sependapat dengan orang-orang yang menganjurkan menikah segera setelah ba’ah sebagai pencegahan terjadinya aborsi maupun penularan penyakit kelamin. Mari ingat pernyataan di atas; bahwa dorongan seksual itu memang sulit dibendung. Mau tak mau, ia perlu disalurkan. Maka, Allah ciptakan sarananya: pernikahan. Bukan dengan zina, tak peduli dengan alat kontrasepsi jenis apa pun.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait solusi seperti ini, saya ingat kata-kata Sayyid Quthb: ambil Islam, atau tidak sama sekali! Sikap saya juga begitu. Saya pikir, bukan sikap yang adil bila kita menuntut Islam dan kaum muslimin menyelesaikan permasalahannya sementara Islam itu sendiri tak bisa sepenuhnya tegak dan dijadikan rujukan dalam menyelesaikan masalah di tubuh kaum muslimin.

Jadi, sebagai salah satu cara kita mewujudkan universalitas itu, mari lihat cara lain dalam menahan dorongan seksual yang sedang dibahas ini. Selain nikah, solusi lain yang ditawarkan Islam adalah menundukkan pandangan sekaligus shaum. Apalagi bagi pemuda yang sudah mampu ba’ah. Tapi, dua solusi ini tak kemudian menafikan keutamaan menikah. Bahkan, Nabi menyatakan bahwa menikah adalah sunnahnya, dan yang tidak suka pada sunnahnya bukan bagian dari (ummat)nya.

Tapi solusi menyeluruh tentu tak sesimpel itu. Metode pendidikan anak islami juga diperlukan. Untuk mempersiapkan mereka mengemban amanah da’wah tauhid saat mereka sudah dewasa. Untuk yang ini, saya merasa belum berhak menjawab. Saya belum punya pengalaman sama sekali terkait pendidikan anak.

Kita berpindah pada pertanyaan berikut. Bukankah yang melakukan aborsi nggak hanya remaja, tapi yang sudah menikah juga?

Lantas? Bukankah yang sedang kita bicarakan adalah kaitan antara promosi penggunaan kondom terhadap free sex? Aborsi yang dilakukan pasangan yang telah menikah barangkali terjadi karena masalah kemiskinan dan sebagainya. Dan ini, saya kira, bukan fokus dari apa yang diucapkan Menkes, dan juga bukan fokus tulisan saya saat ini.

Jadi, solusinya hanya sebatas kampanye, anjuran, dan ajakan saja?

Untuk saat ini, iya.

Tapi bukankah kampanye itu gagal? Sejak zaman Nabi Luth, atau bahkan sejak sebelum itu, perzinahan tetap terjadi, kan? Tak ada satu pun peradaban yang berhasil menghilangkan perzinahan itu sama sekali. Simpulan kasarnya, tak ada hukum yang mampu melenyapkan perbuatan dosa ini.

Terus, karena kampanye menikah segera setelah waktunya gagal karena tak dipatuhi, kita akan berpaling pada kampanye seks dengan kondom, begitu? Dan kalau kampanye seks dengan kondom itu juga gagal, mau beralih ke mana? Ringkasnya begini: karena ia juga berupa kampanye, ajakan, atau anjuran, peluang ditaatinya kira-kira samalah. Jadi, sesungguhnya, anjuran safe sex dan menikah ketika sudah ba’ah itu sama saja. Bedanya terletak pada masalah ke mana kita tujukan ketaatan kita.

Begini analoginya: penjara dan hukum positif manusia, sepanjang sejarah, ternyata tak bisa menekan tingkat korupsi maupun pencurian yang dilakukan manusia. Lantas mengapa sampai sekarang belum pernah ada suara-suara ganti hukum positif dan penjara itu, kecuali dari orang-orang yang sejak awal menyuarakan dukungan pada syariat Islam?

Saya menyarankan sebuah solusi sederhana: Islam. Tapi ia tak bisa dilaksanakan setengah-setengah. Zina tak bisa dihilangkan hanya dengan kampanye menikah segera setelah ba’ah. Ia juga disertai dengan kontrol terhadap konten hiburan (yang merupakan derivasi dari aturan menundukkan pandangan), dan dorongan untuk rajin shaum, terutama bagi para pemuda.

Tapi bukankah hukum seperti itu perlu kesadaran tiap orang? Memang. Hukum tegak, dosa-dosa lenyap, dan syariat dituruti memang tak sesederhana mengganti dasar negara. Dan itu normal; tiap hukum perlu kesadaran warganya. Itu sebabnya, Islam tak tegak kecuali di tengah kaum muslimin. Ini, menurut saya, merupakan hikmah tak masuknya Nabi di Daarin Nadwah meski ia punya peluang ke sana. Tegaknya Islam perlu kesadaran untuk bernegara yang dimiliki oleh masing-masing kaum muslimin. Ia perlu kesadaran untuk menegakkan syariat Allah yang berfungsi sebagai alat kontrolnya.

Betul bahwa tiap sistem selalu menyimpan borok-borok yang jumlahnya relatif: besar atau kecil. Misal, dalam sejarah kaum muslimin, tentang masalah pencurian, ada enam pelaku pencurian yang dipotong tangan sepanjang tiga puluh tahun kepemimpinan khulafa’ur rasyidin. Tentang perzinahan, ada Ma’iz. Tapi, dalam sejarah kaum sekuler, bukankah, maaf, negara-negara Barat sudah bisa jadi etalase?

Memang di situlah fungsi hukum, menurut saya: meminimalkan tindak kriminal, meski tak menghilangkannya secara keseluruhan. Pertanyaan relevannya saat ini, sekali lagi, bukanlah pada keuntungan apa yang kita dapat dengan menerapkan sistem hukum tertentu. Sebab, seperti yang sudah saya tulis di atas, tiap sistem, dalam sejarahnya, punya kelemahan (baik terletak di individu saja maupun individu plus sistem itu sendiri) dengan skala destruksi yang berbeda-beda.

Maka, pertanyaan relevannya sekarang adalah: kepada siapa kita serahkan ketaatan kita? Bersediakah kita diatur dengan aturan Allah, atau kita hanya mencukupkan diri dengan aturan produk manusia?

Inilah salah satu sebab mengapa saya tak pernah menjadikan hikmah sebagai sarana mengadvokasi syariat. Saya tak ingin terjebak pada pembahasan anjuran memperbanyak shalat atau shaum karena manfaat medis yang dibawanya. Saya tak ingin terjebak pada perdebatan tentang pusaran energi Ka’bah yang membuat kita perlu “cari energi” ke sana. Perintah Allah adalah perintah Allah. Ia ada untuk ditaati sebab status kita sebagai makhluk. Dan tujuan dasar diciptakannya makhluk tak lain adalah untuk beribadah padaNya. Itu saja.

Oya, ada satu pertanyaan lagi. Bila mekanisme reward and punishment ala agama sudah mencukupi, lantas mengapa ceramah para agamawan gagal memberantas aborsi?

Itu sih karena jama’ahnya bandel. Tak semua orang yang dida’wahi mau menerima ajakan itu. Contohnya? Ya para nabi itu. Sungguh, seumur hidup, selama semesta dicipta oleh Penguasa Jagat Raya ini, tak ada satu orang pun yang kata-katanya dituruti oleh ummat yang hidup semata, seratus persen. Jangankan manusia, tuhan pun tidak. Bagaimana mungkin tuhan memberikan sesuatu yang tak Ia berikan pada diriNya sendiri?

Jadi, bukan karena ceramah itu diisi oleh orang munafik. Sungguh, bukan karena itu.

Begitulah, kadang, kita perlu duduk dan diam merenungi segenap argumen kita. Benarkah klaim kita selama ini bahwa argumen kita ini adalah yang paling obyektif, dan paling bebas nilai? Atau, jangan-jangan, kita sendiri yang malah tak bisa bersikap obyektif sekaligus terpapar ideologi tertentu tapi mengaku sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: