Arsip

Setelah dua tahun terakhir menghuni Bengkel Setia, Sabtu malam kemarin kami—atau lebih tepatnya, pengurus aktif tahun ini—pindah ke suatu-tempat-di-Kalimongso. Karena diundang, jadilah saya ikut bantu beres-beres sekretariat pers mahasiswa yang tahun ini dihuni Kepala Litbang Media Center sendirian ini.

Tuntas angkat-angkat tabloid dan majalah yang akan dibawa ke bengkel baru, saya ambil beberapa kardus yang entah-isinya-apa. Setahun belakangan, saya jarang menampakkan diri di bengkel. Apalagi harus berdebu-debu membongkar arsip-arsip itu. Jadi, bukan barang aneh kalau saya tak tahu apa isi kardus-kardus itu, kecuali tumpukan produk yang belum diarsipkan, plus buku angkatan yang tak terjual di tahunnya.

Maka di sinilah ceritanya bermula. Tugasnya sederhana. Karena mereka menghendaki tak semua barang dibawa—dan tinggalkan yang tak lagi berguna—saya berinisiatif memilah arsip yang kira-kira masih dibutuhkan oleh kepengurusan sekarang. Apa saja yang penting? Dari omongan PU, saya menangkap yang ia butuhkan hanyalah apa yang diperkirakan masih dipergunakan di tahun tersebut. Apalagi, ada kemungkinan ini akan jadi tahun terakhir eksistensi Media Center. Jadi, buku inventaris Media Center, laporan keuangan, arsip Majalah Tempo, sisa-sisa lomba fotografi untuk Media Camp, dan sebagainya dipilah untuk dibawa ke bengkel baru.

Dalam tumpukan kertas itu, saya menemukan banyak  peninggalan awak litbang zaman dahulu. Misal, tumpukan tugas magang dan seleksi redaktur, cuplikan materi jurnalistik yang sebagian (besar?) bertuliskan nama BPPM Balairung, hingga kliping artikel kiriman mahasiswa buat dimuat di media kampus.

Membaca arsip-arsip itu, saya seperti dibawa ke masa lampau; masa ketika koneksi internet masih jadi barang mewah bagi mahasiswa. Saya tak yakin tiap mahasiswa punya alamat email pribadi masa itu—sekitar tahun 2002 sampai 2004. Sebagaimana saya juga tak yakin bengkel pun punya alamat email tetap. Tiap lembar surat yang masuk ke awak redaksi itu dikumpulkan dalam beberapa folder besar. Semua tersusun rapi. Kesan yang saya dapat dari sini: staf litbang zaman dahulu ternyata rajin sekali.

Kesan lain yang saya dapat adalah ternyata, mahasiswa zaman dahulu itu jauh lebih aspiratif, jauh lebih mau bicara dengan konkret, ketimbang mahasiswa angkatan berikutnya. Basisnya terdiri dari dua hal. Pertama, effort yang harus dikeluarkan untuk membuat suara mereka didengar, dulu, jauh lebih keras. Mereka yang mau namanya tampil di kolom surat pembaca atau opini Civitas harus mengetik, mencetak, dan mengirimkannya ke pihak redaksi. Tapi malam itu, saya juga seketika sadar bahwa komputer, termasuk laptop, belum jadi barang yang umum dijumpai tahun-tahun itu. Banyak juga surat pembaca yang masuk dengan tulisan tangan.

Sekarang? Di masa ketika tiap kamar kos sudah berlangganan internet tiap bulan, yang perlu dilakukan hanyalah buka laptop, ketik satu-dua lembar tulisan, kirim ke email redaksi. Dua jam, beres.

Oya, ini belum termasuk proses kreatifnya; proses berpikir susunan kalimat yang mencerminkan gagasan utuh mereka. Menata kalimat, sejak dulu hingga sekarang, adalah masalah serupa yang dialami mahasiswa dan orang lain yang mau menulis. Usaha ini pun perlu dihargai.

Kedua, jumlah surat masuknya sudah sangat banyak. Kalau jumlah mahasiswa di masa lampau lebih banyak dibanding sekarang, ini wajar. Tapi, kenyataannya terbalik. Beberapa tahun lalu, penerimaan mahasiswa baru tiap tahun tak lebih dari 1200 mahasiswa. Sementara mahasiswa angkatan saya saja, termasuk yang kuliah di Rawamangun, sudah berjumlah 1800 orang. Jumlah mahasiswa angkatan 2010 jauh lebih banyak. Totalnya, kira-kira, ada sekitar tiga ribu mahasiswa yang semester kemarin menimba ilmu di Kampus Jurangmangu. Tapi surat yang masuk ke redaksi jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Mungkin ini adalah dampak tumbuhnya media sosial; entah ini dampak positif atau negatif. Bersuara lewat media sosial tak perlu waktu dan usaha keras mengingat kontennya hanyalah satu-dua pernyataan yang tak terstruktur—tentu ini tidak bermaksud menggeneralisasi. Ini jelas lebih mudah dibanding menyusun sebuah artikel yang berkualitas; yang punya argumentasi sekaligus diksi yang baik.

Ini mungkin juga disebabkan faktor suasana kampus yang mendukung terjadinya dialektika. Saya salut pada tim redaksi masa lalu yang pandai tampilkan isu atau opini yang memancing tanggapan. Salut juga pada mahasiswanya yang lebih memilih menulis di media ketimbang nggerundel di belakang layar. Ditambah lagi, saat itu, organisasi ekstrakampus masih diperbolehkan eksis di lingkungan kemahasiswaan. Bertambah pula lingkungan subur untuk adakan adu pemikiran.

Saya banyak menemukan tulisan dari aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan, sebuah organisasi kemahasiswaan underbow Hizbut Tahrir Indonesia. Surat-surat itu mempertanyakan tema yang “sangat HT”: demokrasi dan liberalisme. Surat-surat tersebut sepertinya banyak dikirim sebagai counter isu demokrasi yang hangat dibicarakan di kampus, sampai ia jadi tema penugasan seleksi redaktur di internal Media Center.

Saya juga menemukan surat pembaca dalam bentuk cetak yang judulnya khas ghazwul fikri tahun 90an: Mewaspadai Upaya Meliberalkan Ajaran Islam. Tulisan itu menanggapi Amina Wadud yang putuskan jadi imam shalat Jumat di sebuah gereja di AS. Tentu, di tahun-tahun itu, isu seperti ini luar biasa sensitif dibicarakan orang, walau seharusnya sensitivitas itu terus dipertahankan dan tidak terganti dengan perasaan ringan ketika hal-hal seperti ini dibicarakan.

Ada pula yang secara halus mempertanyakan jargon “peduli pajak” yang dicanangkan Direktorat Jenderal Pajak. Saya tahu alasan sejati penulisnya mengirimkan artikel itu sebab ternyata tak hanya sekali ia mengirimkan surat pembaca dengan tema yang hampir sama ke Civitas. Tapi apa pun motifnya, tetap saja keberanian mempertanyakan jargon itu perlu diacungi jempol. Ini sama dengan tikus yang mempropagandakan pembakaran lumbung padinya sendiri sebab beberapa ikat gabah terindikasi mengandung pestisida berkadar mematikan.

Entah sejak kapan acara semisal Journalist Days atau Media Camp itu bermula. Kemarin saya juga menemukan arsip hand-out talk show bertajuk Quo Vadis Kebebasan Pers yang ditulis oleh Rivai Hutapea, salah satu redaktur Sabili. Mungkin, bagi yang hadir saat itu, tahun 2006, argumen yang dituliskan oleh Rivai sudah sangat canggih. Sekarang, kita perlu menggali lagi, kita perlu belajar lagi, untuk paham hal-hal terkait imparsialitas dan teman-temannya itu.

Kampus masa lalu rasanya asyik sekali. Saat memilah-milah file itu pula, saya menemukan tulisan Formad (Forum Mahasiswa Anti Diskriminasi) yang memprotes pernyataan Presiden Mahasiswa mengenai terusiknya ia dengan “anak kesayangan papi”. Saya tak tahu apa sebenarnya dua makhluk ini. Sebab surat-surat yang masuk itu semuanya menyatakan protes belaka, dan tidak mencantumkan deskripsi yang jelas. Mungkin, Formad adalah paguyuban temporer untuk menyikapi pernyataan Presma. Kalau AKP, saya benar-benar tak tahu siapa persisnya orang-orang ini.

Surat Formad ini bentuknya sederhana. Hanya tulisan cetak dengan font Courier berspasi besar dengan format mirip pamflet. Saya teringat beberapa adegan di film Gie (yang sedikit banyak mempengaruhi gambaran saya tentang dunia mahasiswa saat masih duduk di SMA; oke, ini lucu), terutama ketika setting tempat diambil di area kampus. Pamflet-pamflet propaganda yang hanya berisi jargon sampai rincian opini mahasiswa, semuanya ada. Mahasiswa yang berkumpul sambil berdiskusi, entah tentang isu terkait kampus dan situasi politik nasional atau membahas materi kuliah, semuanya ada.

Ternyata isu “anak kesayangan papi” itu cukup populer. Ada cukup banyak tulisan yang menuntut MC bersikap netral dengan tidak memuat opini yang tidak memihak. Frase terakhir itu memang terkesan oksimoron. Tapi, sekali lagi, keberanian mahasiswa menuliskan pendapatnya—dan tidak berlindung di balik kata “malas” untuk ungkapkan “takut berbeda pendapat”—sudah perlu diberi apresiasi.

Ada lagi dokumen yang entah berasal dari mana memuat serangkaian nama politisi yang bermasalah dengan pelanggaran HAM. Saya baru sadar, beberapa nama yang disebutkan di situ masih eksis di dunia politik hingga kini. Misal, Idrus Marham, Priyo Budi Santoso, Suryadharma Ali, Alvien Lie, sampai Arifin Panigoro. Dan saya juga baru sadar bahwa terselip nama Daud Rasyid di dokumen itu dalam kategori “kekerasan terhadap perempuan” sebab halalkan poligami.

Sayang sekali, saya hanya mengambil beberapa arsip tersisa yang saya temukan. Mungkin yang lain memang sudah terbuang sejak lama. Atau, ia tak sengaja terlewat saat saya pilah-pilah tumpukan kertas itu. Kalau ada lebih banyak yang bisa saya baca, tentu menarik sekali menelusuri jejak pemikiran mahasiswa sepuluh tahun yang lalu.

Tapi dari yang sedikit itu, saya kian yakin bahwa dulu, tugas tim redaksi adalah menyeleksi surat yang layak naik cetak. Sementara tugas tim redaksi di masa saya menjabat sebagai Pemred adalah memancing keterlibatan mahasiswa untuk berpikir konstruktif dan argumentatif; bukan hanya mengirimkan komentar random di facebook maupun twitter.

Dari yang sedikit itu, saya pun kian yakin bahwa arus pemikiran mahasiswa kampus hari ini, yang baik maupun yang menurut saya buruk, sudah luar biasa berkembang. Tentu kita perlu memetakan lagi, mana yang memang benar memahami apa yang ia yakini, dan mana yang asal-terlihat-hipster. Meski saya kebanyakan melihat jenis mahasiswa yang kedua, tapi saya sungguh berharap gairah kita pada ilmu dan keingintahuan besar kita pada apa yang bersinggungan langsung dengan hidup kita  bisa terus dipertahankan.

Saya tak tahu apa akar masalah literasi media mahasiswa hari ini. Mungkin karena, hari ini, permasalahan sudah bisa diselesaikan dengan “win-win solution”; duduk bersama dan menegosiasikan alur informasi narasumber yang akan disebar ke publik. Atau mungkin karena, hari ini, kita sudah terbiasa bersikap fatalis atas segala hal yang berbeda, entah hal-hal luhur yang kita pegang itu layak diperjuangkan atau tidak.

Sekarang internet sudah sangat banyak mengubah hidup manusia. Barangkali kita sudah tak perlu lagi arsip-arsip seperti demikian. Sudah ada banyak perusahaan yang menyediakan jasa cloud storage, gratis maupun berbayar. Seharusnya, ini makin mempermudah kita mencetak catatan tentang apa yang telah kita lakukan selama ini. Paling tidak, tentang hasil kerja keras kita selama tiga tahun ini.

Saya kemudian teringat cerita Ridwan Saidi di Taman Ismail Marzuki suatu ketika. Ia, bersama Martin von Bruinessen, jalan-jalan ke Belanda hanya untuk melacak apakah Snouck Hurgronje pernah menjadi seorang muslim. Ia juga cerita tentang Kongres Pemuda I yang diboikot banyak organisasi pemuda muslim. Ia sampai punya salinan notulensi rapatnya!

Pernah dengar ungkapan Pram, “Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan,” kan? Mereka yang mencatatkan namanya di pos-pos penting sejarah manusia, sekecil apa pun kita menduganya, akan membuat perubahan besar bagi kesadaran orang-orang yang hidup jauh setelahnya. Dan karenanya, cerita kita bisa dikenang; kisah kita hidup abadi dalam buku dan kepala mereka yang peduli pada masa lalu.

Kita mungkin tak bisa, dan barangkali tak perlu, merencanakan ikhtiar dalam membuat catatan hidup sekeras Ridwan Saidi dan teman-temannya. Tapi membiasakan diri membuat catatan atas hal-hal yang kita lakukan, saya yakin, akan datangkan manfaat di masa depan; apa pun itu. Minimal, seperti yang saya katakan kemarin malam, ada bahan cerita untuk diceritakan buat generasi penerus kita kelak bahwa kita pernah memberikan kontribusi sejumlah tertentu untuk kehidupan kampus. Bahwa ternyata, hidup kita juga diisi dengan beragam warna lingkungan intelektual yang tak melulu mempertanyakan indeks prestasi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: