Fanatisme

Di sebuah siang yang lembap, beberapa tahun lalu, saya memutuskan tidak lagi meneruskan draft buku yang pernah saya ceritakan di sini. Alasannya, seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan itu, adalah kurang percayanya saya terhadap validitas dan kelengkapan literatur. Dan tersebab menulis tentang Islam adalah sesuatu yang berat, saya memilih mundur. Mungkin saat itu, atau bahkan juga sampai saat ini, saya belum siap untuk menanggung amanah keilmuan seberat itu.

Tema draft tulisan itu adalah persatuan ummat. Tentang kita yang termetafora jadi satu tubuh; tentang kita ketika memelihara kepedulian; dan tentang musabab terkikisnya rasa saling memiliki di antara kita. Ingatan-ingatan tentangnya, pagi ini, kembali terulang setelah beberapa saat mengkaji lagi beberapa hadits tentang iftiraqil ummah (perpecahan ummat).

Oya, saya tidak menuliskan argumen lengkap saya dalam draft tersebut di tulisan ini. Yang ada hanyalah tinjauan syar’i tentang hal-hal terkait dalil-dalil yang dibahas kali ini.

gambar diambil dari iqbalnurhadi.com

Pembahasan ini biasanya dimulai dengan hadits Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berikut ini.

Orang-orang sering bertanya pada Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya padanya tentang keburukan karena khawatir ia menimpaku. Saya bertanya, “Yaa Rasulallah, dulu kami berada dalam masa jahiliyyah dan keburukan, lantas Allah datangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan lagi?” beliau menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan lagi?” Beliau menjawab, “Ya, tetapi ada kabut padanya,” Saya bertanya, “Apa yang dimaksud kabut itu?” Beliau menjawab, “Yaitu, suatu kaum yang mengambil petunjuk bukan dari petunjukku. Engkau mengenali mereka dan mengingkarinya.” Saya bertanya, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya, yaitu para penyeru pada pintu-pintu Jahannam. Barangsiapa menerima seruan mereka, niscaya akan dilemparkan ke dalamnya.” Saya bertanya, “Yaa Rasulallah, beritahukan ciri-ciri mereka!” Beliau menjawab, “Mereka memiliki kulit seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Saya bertanya, “Lantas, apa yang engkau perintahkan padaku bila aku berjumpa dengan masa itu?” Beliau menjawab, “Berpegangteguhlah pada Jama’atil Muslimin dan imam mereka.” Saya bertanya, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?” Beliau menjawab, “Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu, sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.” (HR Bukhari)

Yang dilanjutkan dengan hadits berikut.

Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab berpecah jadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 golongan, dan 72 golongan masuk neraka, sementara yang satu di dalam surga, yaitu al Jama’ah. (HR Abu Dawud)

Beberapa hadits dengan tema serupa ini, menurut pengamatan saya, akan membawa kita pada dua kemungkinan. Pertama, mencari jawaban yang menenangkan hati, kemudian menjadikannya firqah najiyyah (golongan yang selamat) dan menganggap yang lainnya adalah 72 golongan yang masuk neraka. Kedua, menyandarkan loyalitas (wala’) pada kebenaran dan berlepas diri (bara’) dari keburukan. Tentu, timbangan baik-buruk di sini adalah al Quran dan as Sunnah.

Jadi, berdasarkan dua hadits di atas, apakah bergabung pada jama’ah da’wah tertentu saat ini, ketika tidak ada jama’atul muslimin, menjadi terlarang?

Kunci memahami hadits ini ada pada frase “du’aat ilaa abwaabi jahannam” atau “da’i/penyeru yang mengajak pada pintu-pintu Jahannam”. Batasan ini menjelaskan pada kita bahwa kelompok yang masuk kategori sesat adalah mereka yang mengajak manusia pada diin lain selain Islam; atau mengambil sumber petunjuk selain al Quran dan as Sunnah.

Ini didasarkan pada hadits yang saya kutip dari Tafsir al Quran al Adzim berikut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai firqah najiyyah dari golongan-golongan yang ada. Nabi menjawab, “Golongan yang memegang sunnahku pada saat ini dan sunnah para shahabatku. (HR al Hakim)

Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, dalam edisi terjemahan Kitabut Tauhid, bahkan memasukkan tindakan ini—bergabung dengan madzhab-madzhab ilhad (atheis) dan kelompok jahiliyah—sebagai salah satu yang melenyapkan tauhid.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz menyebutkan hal serupa, seperti dikutip dari Syubhat Salafi. Makna firqah najiyyah itu adalah jama’ah yang sesuai dengan jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum dalam hal menaati perintah dan laranganNya. Maka, kaidahnya adlaah keistiqamahan mereka di atas kebenaran. Jika ditemukan seorang atau jama’ah yang mengajak pada Kitabillah dan Sunnah RasulNya, maka mereka itulah al Jama’ah, dan mereka termasuk firqah najiyyah.

Lebih lanjut, beliau menulis,

Jika mereka istiqamah di atas kebenaran dan mentauhidkan Allah, ikhlas padaNya, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perkataan, perbuatan, dan aqidah, maka nama apa pun tidak jadi masalah. Tetapi wajib bagi mereka bertaqwa pada Allah dan jujur dalam ketaqwaannya. Adapun bahwa sebagian mereka disebut Ansharus Sunnah, sebagian lainnya dinamakan as Salafiyyun, atau dinamakan al Ikhwanul Muslimun, atau disebut dengan nama lain, tidak masalah jika mereka jujur dalam ketaqwaannya, istiqamah di atas kebenaran dengan mengikuti al Kitab dan as Sunnah, berhukum pada keduanya, istiqamah di atas keduanya dalam aqidah, perkataan, dan perbuatannya.

Fatwa beliau ini mengingatkan saya pada salah satu rekaman ceramah Syaikh al Utsaimin. Dalam rekaman tersebut, kurang lebih beliau mengungkapkan bahwa yang disyariatkan bukanlah menisbatkan nama dengan sebutan as Salafi, atau as Salafiyyun, tapi yang benar adalah mengikuti manhaj salaf dalam memahami hal-hal terkait Islam.

Ini juga dikuatkan dengan pendapat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang kata “al Jama’ah” yang tadi sempat dikutip. Dalam Ushul I’tishom bil Kitaabi was Sunnah, disebutkan bahwa Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menafsirkan kata ini dengan, “al Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran, meski engkau seorang diri.” (HR Ibn Asakir)

Imam Syathibi, dalam al I’tishom, menjelaskan dengan hal serupa. Beliau berkata, al Jama’ah adalah, “Yang mengikuti sunnah, walaupun hanya satu orang di dunia.” Sementara Ibnul Qayyim, dalam I’lamil Muwaqqi’in, berkata, “Ketahuilah bahwa ijma’, hujjah, dan kelompok terbesar itu adalah orang berilmu yang berpegang pada kebenaran, walaupun ia sendirian dan seluruh penduduk bumi menentangnya.”

Dari penjelasan-penjelasan tersebut, kita bisa mengambil simpulan berikut. Pertama, bahwa yang disebut “al jama’ah” adalah seseorang atau sekelompok orang yang senatiasa berpegang pada al Quran dan as Sunnah, tak peduli mereka mayoritas atau minoritas. Kedua, bahwa firqah najiyyah yang dimaksud tak terbatas pada organisasi atau partai tertentu. Ia, seperti dijelaskan oleh Syaikh Abdul Qadir bin Abdil Aziz dalam al Umdah fii I’dadil Uddah, memiliki tiga ciri: berilmu yang benar, berpengaruhnya wahyu terhadap iman mereka, dan hidup sesuai tuntunan wahyu.

Ada satu catatan penting dari ustadz Fathi Yakan terkait hal ini dalam Idzharul Aidz Haraki. Memang ada kebaikan yang mungkin muncul dari beragamnya organisasi-organisasi da’wah. Namun, ia juga menyimpan bahaya laten: fanatisme. “Keragaman yang ada kini tidak melahirkan apa pun, kecuali semakin memuncaknya permusuhan,” katanya. “Ia menghembuskan nafsu hasad kepada sesama.”

Bahkan beliau kemudian sampai pada simpulan bahwa ashabiyah, atau fanatisme, berujung pada batalnya keislaman seseorang. Ini berangkat dari ayat berikut.

Kembali bertaubat padaNya, dan bertaqwalah padaNya, serta dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (QS ar Ruum 31-32)

Ayat ini memang cukup sering jadi pembuka bahasan mengenai ashabiyah, beserta bahayanya. Salah satunya adalah seperti yang dijelaskan dalam ayat ini: membawa seseorang pada kesyirikan. Secara ringkas, ini bisa terjadi sebab qaidah fiqh “al ibratu bi umumi lafdzi, wa laa bi khushushi sababi; sebuah pelajaran itu (diambil) dengan keumuman lafadznya, dan bukan dengan kekhususan sebabnya”.

***

Saya adalah orang yang hidup di tengah masyarakat dengan kadar fanatisme cukup tinggi. Terutama pada organisasi tempat kita berafiliasi. Ia membuat logika jarak dan sejarah jadi tak masuk akal. Kadang, kita melihat mereka yang berada di ceruk dan latar belakang sejarah yang sama berseteru sebab hal yang menurut orang luar absurd. Gejalanya, marah yang tidak pada tempatnya; atau bersemangatnya kita pada sesuatu yang bahkan tak layak dibela.

Saya tak fasih menjelaskan kaitan antara afiliasi dengan fanatisme. Apa yang dimiliki sebuah kesalahan sehingga ia layak mendapat pembelaan kita? Mengapa, ketika kita berjumlah besar, kita sulit sekali bersatu? Apa karena jumlah besar memaksa diri menerima kesamaan yang lebih kecil? Atau karena jumlah besar membuat common enemy jadi lebih kecil pula?

Menyamakan persepsi mengenai hal-hal ini memang perlu usaha luar biasa. Sebab ia menyangkut isi kepala banyak orang. Kebingungan saya dalam memberikan solusi inilah—selain kembali rujuk pada al Quran dan as Sunnah, seperti yang Allah perintahkan dalam QS 4:59—yang jadi salah satu sebab saya mengurungkan niat menyelesaikan buku tersebut. Sebab, saya khawatir, segala penjelasan yang berorientasi pada masalah, bukan pada solusi, pada akhirnya hanya akan menjebak kita pada rangkaian pertanyaan dan keraguan; bukan pada langkah nyata yang berujung perbaikan.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: