Arsip

Monthly Archives: April 2012

Suatu hari, saya baca komentar yang dituliskan oleh seseorang di blog yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa kampus. Tak perlu saya tulis di mana dan komentar siapa yang saya baca ya. Dalam tanggapannya itu, sang komentator menulis yang kira-kira begini isinya,

Saya bingung. Saya pernah baca bahwa Islam melarang adanya nasionalisme. Tapi Islam sendiri katanya adalah sebuah negara. Saya bingung nih.

Saya cukup kaget (kekagetan yang nggak perlu sebenarnya) karena menyadari bahwa ternyata, saat bicara tentang Islam di forum “umum”, masih ada orang yang dengan rendah hati mengakui ketidaktahuannya, dan menghindari spekulasi premis-premis keimanan untuk “menipu” diri sendiri bahwa dia tahu sesuatu tentang sebuah sistem ideologi.

Spekulasi itu contohnya sering diungkapkan dengan serangkai kalimat penuh frase “menurut saya” yang tidak dilengkapi dengan dasar yang jelas. Jadi jangan heran melihat orang-orang ini penuh kebimbangan saat dihadapkan pada sejumlah dalil yang secara tersurat bertentangan dengan premisnya tadi.

Lho, apakah bicara agama harus selalu berpegang pada dasar yang jelas? Bukankah agama lebih merupakan serangkaian pengalaman spiritual yang penafsirannya berbeda antara satu orang dengan lainnya?

Pertama, memahami Islam sebagai pengalaman spiritual belaka jauh dari apa yang saya tangkap mengenai kehidupan Rasul, sahabat, dan para salaf yang shalih. Islam, seperti berkali-kali saya nyatakan dalam blog ini, bukan sekedar konsep peribadatan ritual, apalagi konsep kebatinan semata. Dalam al Mushthalahatul Arba’ah fil Qur’an, misalnya, Abul A’la al Maududi menjelaskan bahwa diin, secara bahasa, lebih dekat artinya dengan “jalan hidup”, yang dengannya segala aspek kehidupan kita bernaung.

Ini tentu sedikit berbeda dengan kata “agama” yang berasal dari bahasa Sansekerta. Wikipedia mencatata definisi yang juga berbeda. Menurut penulis (dan editor)nya, kata “agama” di sana diartikan sebagai, “doktrin atau persepsi tradisional, kumpulan doktrin, dan amal-amal yang disakralkan; segala hal yang terkait dengan tradisi.”

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi lebih jelas. Agama didefinisikan sebagai “sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan pada tuhan serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya”.

Maka, Islam bukan hanya sebuah sistem keyakinan saja. Ia juga melingkupi sistem tata negara dan penyusunan hukum. Premis ini pun senada dengan pendapat Alexis de Tocqueville, seperti yang dikutip Read More

Iklan