Arsip

Monthly Archives: Mei 2010

dengan mesin waktu,
pernah aku menjumpa istana madyan
pernah aku hinggap di bumi seribu menara
pernah aku berjalan di antara pilar colloseum

kulihat fir’aun
sosok pongah yang mengaku penguasa kerajaan
yang pernah meminta haman
membuat menara untuk melihat tuhan;
pribadi congkak yang menolak kebenaran
ah, ternyata ia melestarikan perbudakan
dan sihir yang kekanak-kanakan

kutengok Caesar
dan aku sendiri jadi saksi
bahwa ribuan manusia telah mati
saat dihadapkan pada singa yang begitu punya hati
merobek-robek jasad yang takkan bangun lagi
bahkan saat ia berkenyang-kenyang dengan darah dan babi

kuhampiri sosok gagah itu di istana putih
menanyakan nasib para hamba yang menahan perih
saat menyediakan bahunya untuk sang titisan dewa
yang tak mampu hidup bahkan dengan tiga ribu nyawa manusia;
tak ketinggalan pula Read More

Iklan

tak pantas kiranya seorang muslim membunuh harapan,
karena ia bukanlah tuhan
yang mampu melihat apa yang tersembunyi dalam benak hambaNya di segala medan.

juga, tak pantas kiranya seorang muslim memburu kemenangan dengan tergesa
hingga ia melalaikan fakta bahwa dirinya adalah manusia,
dan menghakimi apa yg lewat dari kesanggupannya.

maka, aku teringat sebuah kisah di padang pasir,
yg diceritakan seorang sahabat, seorang pemuda, putra dari seorang budak.

***

kisahnya bermula di huruqat Bani Juhainah.
ya, saat itu adl masa-masa Read More

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Saya tidak hendak menyatakan selamat. Justru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait perayaan ini. Dan ini berkaitan dengan masalah fundamental dalam memahami perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Hari pendirian Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, saat ini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Sebuah hari di mana tonggak perjuangan nasional Indonesia dimulai. Namun, ternyata ada beberapa fakta yang harus kita pertimbangkan dalam mencerna pernyataan ini. Apa saja?

Pertama, dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis, “Tujuan organisasi adalah untuk menggalang kerja sama guna memajukan tanah Read More

Kata ini tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya. Entah kenapa. Tapi, yang jelas, untuk menjadikannya lebih bermanfaat, saya ingin berbagi sedikit dengan pembaca.

Saya yakin masih ada yang ingat dengan protes yang mewarnai banyak wilayah di Indonesia ketika pembahasan tentang RUU Antipornografi sedang digodok oleh wakil rakyat di gedung parlemen Senayan. Beberapa argumen yang saya temui, seperti pembatasan atas kebebasan berekspresi pun muncul. Yang jelas, anggota masyarakat ini tak ingin adanya pembatasan ‘kebebasan’ mereka dalam melakukan segala hal yang mereka inginkan, dalam hal ini eksploitasi terhadap tubuh kaum hawa.

Hal serupa terjadi di Turki. Anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Edibe Sozen menggulirkan aspirasi mengenai pengaturan mengenai segala entitas yang berbau Read More

aku ingat setiap tetes hujan yang menyatukan kenangan kita
dan bahkan saat itu aku telah bangkit dari sekedar angan
bahwa suatu saat pasti ada yang berubah jadi selembar foto tua.

bukan apa-apa,
hanya saja, aku kembali ingat pada hari-hari indah kebersamaan kita.

***

sering kita berusaha menyamakan langkah
tertatih menyudutkan ruang untuk amarah
nyatanya, masih ada saja yang tak terungkap,
dan tak menyisakan celah guna sedikit kata cinta

entah mengapa, aku ingat hari sabtu yang hangat itu
kalian mencariku, bertanya di mana aku
hey, keras sekali suara di seberang sana!
saling bertanya dengan kalut, di mana makhluk bernama Read More

Beberapa waktu lalu, di Malaysia, terjadi sengketa penggunaan kata “Allah”. Sedikit tergelitik juga saya jadinya. Bahwa penelusuran sejarah mutlak diperlukan guna membuktikan argumen masing-masing pihak. Tapi, kali ini, saya tak berminat mengomentari polemik yang terjadi di sana. Saya lebih tertarik membahas asal kata tuhan, dan komparasinya dengan kata yang sering digunakan al Quran untuk menjelaskan “jabatan” Alloh: ilah dan rabb.

Dalam buku Bahasa Menunjukkan Bangsa, Alif Danya Munsyi menyorot beberapa kesalahan berbahasa Indonesia masyarakat negeri ini, baik lisan dan tulisan. Salah satu yang ia tulis adalah kata Read More

Saya benci birokrat. Juga, saya benci jadi birokrat. Mengapa? Kawan, akan kuberikan jawabnya setelah kau simak kisah ini terlebih dahulu.

***

Malam itu, gelisah mewarnai rupa ibu ini. Di depan tungku, berkali-kali diaduknya seonggok panci dengan sendok kayunya yang panjang. Berkali-kali pula ditengoknya, tak kunjung jelas apa maksudnya. Sementara, putrinya menangis meraung-raung, kelaparan. Wajar saja. Sebab, sedari pagi, sang putri berpuasa karena tiadanya makanan di rumahnya, dan tak ada makanan berbuka untuk mengganjal perutnya.

Tak sengaja, sosok berperawakan tinggi besar itu lewat di depan rumah sang ibu. Bersama budaknya, ia merasa keheranan. Apa gerangan yang menjadi penyebab seseorang menangis di larut malam begini? Read More