Arsip

Monthly Archives: Februari 2012

Saya tahu artikel ini sangat terlambat di-post di blog ini. Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan selepas ujian semester beberapa pekan lalu. Tapi saya pikir, ini perlu ditulis mengingat hal semacam yang akan saya bahas ini beberapa kali saya temui di percakapan sehari-hari saya. Tak hanya terkait dengan satu peristiwa yang akan dibahas ini saja.

Beberapa waktu lalu, Zuhairi Misrawi, di akun twitternya, mengkritik MUI Sumbar atas kasus Aan—orang yang, katanya, menuliskan beberapa ungkapan yang mengandung kemungkinan terjatuhnya orang tersebut pada ateisme.

Saya tak ingin mengomentari kasus itu. Saya tak paham kasus itu dan, karena itu, saya tak ingin menghabiskan waktu dengan mencoba sok tahu dan mengoceh ke sana kemari. Saya hanya ingin mengomentari kritik Zuhairi Misrawi di akun twitternya itu.

Screenshot ini diambil tanggal 21 Januari 2011. Sayangnya, beberapa hari kemudian, setelah saya lihat lagi screenshot ini, ternyata gambarnya kurang jelas. Terpaksa saya cari-cari lagi di akun twitter Zuhairi. Ternyata twit tersebut belum dihapus. Maka, mengingat belum dihapusnya twit tersebut, saya berasumsi bahwa belum ada perubahan pendapat dari Zuhairi dalam hal ini.

Intinya begini: seperti yang sudah dituliskan oleh Zuhairi di akun twitternya, MUI Sumbar melangkahi wewenang Read More

Iklan

Frase ini biasa digolongkan sebagai argumentum ad ignorantiam. Secara umum, argumentum ad ignorantiam itu didefinisikan sebagai kekacauan logika terkait anggapan bahwa sebuah ide adalah benar karena ide itu belum terbukti salah. Mudahnya begini: bila sebuah pernyataan belum dikatakan salah, maka ia harus dianggap benar. Sebaliknya, bila sebuah pernyataan belum dikatakan benar, maka ia harus dianggap salah.

ilustrasi: logical-critical-thinking.com

Wikipedia menyebut, argumen jenis ini digunakan bagi mereka yang kesulitan menunjukkan bukti penguat atas hal-hal yang mereka yakini.

Nah, untuk membantah argumen seperti itu, digunakanlah bantahan ringkas menggunakan kalimat dalam judul itu. Ketiadaan bukti bukanlah bukti dari ketiadaan. Ini terkait keterbatasan manusia untuk menemukan bukti untuk membenarkan atau menyalahkan sebuah tindakan. Contohnya ada di laman wikipedia yang saya tautkan tadi.

Mengingat hal tersebut, perlu dicatat, bantahan ini tak berlaku bagi setiap hal. Jadi, untuk beberapa kasus, saya kira kalimat “absence of evidence is not evidence of absence” tak bisa digunakan sebagai pembantah atas argument of ignorance itu. Sebab kadang ketiadaan bukti itu hampir-hampir jadi bukti bahwa seseorang atau sesuatu sudah berada di pihak yang benar—kecuali kalau seseorang menghendaki proses pembuktian terbalik; itu hal yang lain lagi.

Yang ingin saya bahas bukan filosofi kata-kata ini. Tapi kalimat itu terkait erat dengan apa yang terjadi di sekitar saya akhir-akhir ini. Beberapa waktu lalu, seorang kolega punya Read More

Gerakan ini mulai saya kenal dari pengumuman di akun facebook koordinator gerakan ini, ustadz Herry Nurdi. Intinya, gerakan yang diprakarsai oleh Teachers Working Group ini berupaya mengkampanyekan jilbab sebagai busana yang akrab dan lazim digunakan para muslimah. Melihat momennya, tentu tak bisa kita pisahkan dari usaha melawan isu valentine yang tiap tahun seolah tak surut dirayakan masyarakat, termasuk yang berstatus muslimah.

Saking besarnya kampanye yang saya lihat, baik di lingkungan media sosial maupun di tempat lain, saya sampai melanggar janji saya pada diri sendiri untuk absen terlebih dahulu dari kegiatan blogging. Bahkan rencananya, bila tak ada halangan berarti, gerakan ini juga akan dikampanyekan di beberapa negara. Malaysia, misalnya.

Kampanye ini dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah ajakan terbuka yang dilakukan oleh sekelompok orang, baik pribadi maupun atas nama organisasi, untuk mengenakan jilbab, pengumpulan jilbab, dan sebagainya; tepat di tanggal 14 Februari.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Mungkin ada yang merasa berat. Maka bila merasa tak mampu melakukan hal-hal itu, tetaplah berpartisipasi. Bagi pembaca yang punya jaringan di dunia maya, baik berupa blog, milis, media sosial, dan sebagainya, bolehlah kiranya turut menghidup-hidupkan kampanye ini agar makin akrab di lingkungan masyarakat.

Fattaqullaaha maastatha’tum. Maka mari sebarkan semangat ini ke lingkungan terdekat, dengan cara apa pun yang berada dalam jangkauan kita.

Ini sejalan dengan misi gerakan ini yang, kata ustadz Herry, bertujuan Read More

Terkait dengan jadwal ujian akhir semester 5 yang sudah dekat dan beberapa agenda setelahnya, saya mungkin tidak akan menambah posts di sini selama beberapa pekan. Insya Allah saya akan tetap menulis dalam rentang waktu itu; saya hanya ingin mengurangi interaksi saya dengan koneksi internet.

Saya mohon doa supaya di ujian kali ini, ada hasil penuh berkah yang saya raih. Terima kasih. 🙂