Arsip

Monthly Archives: September 2010

tak ada yang lebih indah daripada
menampung cucuran kepastian
bahwa akhirnya, di kehidupan yang lebih kekal,
ada kesempatan bersua dan merajut cerita
tentang masa-masa penuh lomba
yang kadang diisi tawa, tangis, diam yang pilu,
atau senyum akrab yang bersahaja

mungkin ini kisah cinta yang lebih romantis
daripada kisah cinta para nabi
karena seringkali, satu harap mereka tak tersambut tangan terbuka
yang, ironisnya, Read More

Iklan

Prihatin mewarnai hati saya malam ini. Juga khawatir. Bukan, bukan karena kekhawatiran saya pada mentee-mentee saya akan orientasi kampus hari pertama yang dimulai esok hari. Tapi lebih pada kaum muslimin, beserta jama’ah-jama’ah yang ada di dalamnya. Tak ingin menggeneralisasi, saya masih meyakini tak semua di antara mereka berperilaku negatif layaknya yang sebentar lagi saya bicarakan. Tapi, percayalah, saya sudah kerap menjumpanya. Bukan cuma satu atau dua kali.

Diawali dari teman se-liqo’ saya yang bercerita tentang sebuah website “tandingan” dari media online kaum muslimin yang selama ini saya kira dapat diterima oleh banyak orang, oleh banyak golongan, dan mendasarkan argumen pada al Quran dan as Sunnah. Yang posting-postingnya tentang tauhid begitu saya nikmati untuk dibaca. Tapi karena friksi yang berangkat dari ketidaksediaan untuk menerima kritik, dua pihak ini berseberangan. Buat saya selama ini, berbeda gerbong tak masalah. Asal masih berada di rel yang sama, rel tauhid. Masih menggunakan lokomotif yang sama, da’wah ilallaah. Bukan kepada Read More

Begitu ustadz Rahmat Abdullah menyebut mereka, dalam Warisan Sang Murabbi: Pilar-pilar Asasi. Di dalamnya, sang ustadz sempat menuliskan pelajaran bermakna, yang berangkat dari fakta-fakta sejarah bani Israil. Bahwa begitu banyak kata “seharusnya” yang terlontar saat membacanya.

Seharusnya mereka berjuang penuh peluh, sekuat tenaga, dengan taruhan jiwa, raga, maupun harta. Bukannya berkata, “Wahai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang dan engkau datang”. Karena janji Allah itu pasti datang! Lihat, dengar, simaklah kisah umat terdahulu. Adakah Allah melanggar perjanjianNya pada mereka? Yang ada, merekalah yang melanggar perjanjian mereka pada Allah. Serupa Tsamud yang menyembelih onta titipan Allah.

Lagi-lagi, seharusnya mereka tidak duduk, menyerah, diam, dan bertahan saja, seraya berkata, “Kami tak akan masuk ke sana (Palestina) selama mereka masih ada di sana. Maka pergilah engkau dan rabbmu, biar kami duduk-duduk di sini,” karena kemenangan Allah tentu akan datang bila mereka yakin bahwa Allah bersama mereka, serupa kata penghiburan rasul pada Read More

“Wallahi, kalau kalian mau, sementara kalian bisa membenarkan dan dibenarkan, maka kalian bisa berkata, ‘engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, namun justru kami membenarkanmu; dalam keadaan lemah dan kamilah yang menolongmu; dalam keadaan terusir dan kamilah yan gmemberimu tempat; dalam keadaan papa dan kamilah yang menampungmu’. Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat keduniaan, yang dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan terhadap keislaman kalian aku sudah percaya? Wahai orang-orang Anshar, apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang lain pergi membawa onta dan domba, sedangkan kalian kembali bersama rasul Allah ke tempat tinggal kalian?

Demi yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang Anshar. Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang Anshar menempuh celah gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang Anshar. Yaa Allah, rahmatilah orang Anshar, anak-anak orang Anshar, dan cucu orang Anshar.”

-Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ba’da Hunain-

Mengingat Mu’tah, mau tak mau kita juga akan mengingat Termopylae. Kedua tempat ini biasa dikaitkan dengan nama Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah, radhiyallahu ‘anhum, serta Leonidas. Tiga nama pertama, seperti yang telah kita ketahui, adalah panglima perang Mu’tah yang ditunjuk secara langsung oleh Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara nama terakhir adalah pemimpin tiga ratus pasukan Sparta melawan terjangan dua ratus ribu pasukan Persia di bawah komando Xerxes.

Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury, dalam ar Rahiqul Makhtum, menyebut nama al Harits bin Umair sebagai kurir Rasulullah pada para pemimpin Bushra. Tapi, belum sempat menunaikan misinya, Syurahbil bin Amr al Ghassany tiba menghadang jalannya. Pemimpin al Balqa’, sebuah daerah di wilayah Syam, ini lantas mengikat al Harits. Dibawanya ia ke hadapan Qaishar, penguasa wilayah Romawi. Dan di hadapannya, dengan pongah memenuhi dadanya, dipenggallah leher al Harits bin Umair, radhiyallahu ‘anhu.

Seperti sudah jamak diketahui, di masa itu, pembunuhan terhadap kurir atau pembawa pesan berarti tantangan perang pada pihak lawan. Dan bagi umat yang tak beradab sekali pun, pembunuhan terhadap pembawa pesan itu sudah dianggap sebagai perbuatan keji. Tak termaafkan. Maka, tak heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera menghimpun Read More

Marah. Kesal. Panas. Jengkel. Mungkin itu yang memenuhi hati kita saat mendengar rencana pembakaran al Quran. Segera saja muncul grup-grup penolakan di facebook. Langsung saja muncul posting-posting terkait masalah ini. Dengan cepat muncul demonstrasi di berbagai tempat untuk menunjukkan sikap mengenai rencana kontroversial ini. Mungkin tak ada yang pro. Semua kontra. Tapi cara menyampaikannya jelas berbeda. Ada yang keras dengan kata-kata kasar, ada pula yang menggunakan cara lebih elegan.

Rencana pembakaran dan perobekan al Quran ini diikuti oleh rencana pembakaran yang serupa di pihak yang bertentangan. Juga gerakan protes dalam bentuk lainnya yang saya yakin bisa ditemui di beberapa tempat. Tiba-tiba, semua orang seolah berubah jadi pembela besar Islam yang berusaha menyelamatkan aqidah kaumnya. Tiba-tiba saja, semua orang seolah berubah jadi mujahid yang siap membela kehormatan agamanya dari serbuan salibis. Mirip dengan perang ratusan tahun untuk memperebutkan Palestina itu, katanya.

Saya tersenyum geli melihat mereka. Walaupun dalam hati juga tersimpan rasa jengkel pada Terry Jones. Di sisi lain, saya jelas menghargai semangat tinggi untuk membela agamanya yang sedang dihinakan. Itu bukan sikap yang Read More

Malam Idul Fitri ini, ponsel murah saya dipenuhi hamburan SMS dari berbagai kenalan. Dari kampus, dari kawan bermain masa kecil, atau dari teman-teman di bangku sekolah dulu. Iseng saja, saya kemudian membuka akun facebook serta twitter saya. Semua sama. Mengucap syukur atas datangnya Idul Fitri, salah satu dari tiga hari raya Islam yang ditetapkan Rasulallah, diiringi kata-kata puitis ber-rima, dan tak ketinggalan pula ucapan maaf atas segala khilaf.

Well, saya selalu tertarik pada hal yang tak biasa. Dan saya pun tertarik pada tradisi minta maaf saat Idul Fitri ini. Karena memang ia sangat tak biasa. Atau luar biasa mungkin. Apa lagi kata yang lebih tepat untuk mengekspresikan ketertarikan atas perbuatan yang hanya ada di satu tempat dan di satu waktu? Unik? Ah, terserah lah kalian mau menyebutnya apa.

Mengucap kata maaf, bagi saya, seperti melambungkan ingatan saya belasan abad yang lalu, saat pembawa risalah untuk umat akhir zaman ini masih menarik nafasnya di dunia.

Kenangan pertama ditorehkan Read More