Terhitung sejak tadi malam, blog baru saya sudah online di rezasyam.com, alhamdulillah.

Memang baru ada satu post, sebab saya masih sibuk utak-atik beberapa fitur yang semula instan. Di versi dotcom ini, beberapa widget dan plug-in harus di-download dulu sebelum dapat digunakan. Jadi insya Allah perlu waktu beberapa lama sebelum blog baru saya itu bisa berjalan dengan semestinya.

Mengingat kepindahan ini, teman-teman yang rutin berkunjung ke sini dipersilakan memperbarui bookmark-nya. Yang sudah follow blog ini, silakan mengambil fungsi subscribe yang akan saya pasang secepatnya, insya Allah.

Mulai awal Januari tahun depan, insya Allah, saya juga akan menonaktifkan fungsi komentar di blog ini. Ini mengingat sebentar lagi, blog ini akan jarang sekali saya periksa. Supaya tak ada komentar aneh-anehlah tujuannya. Bila ingin menanggapi, dipersilakan masuk ke blog baru. Di situ akan terdapat tulisan-tulisan dengan substansi serupa.

Demikian pemberitahuan saya. Terima kasih.🙂

Reza Syam Pratama.

Terharu baca ini. Nggak pantes banget lah kita yang bergelimang fasilitas menyerah di tengah jalan!

Kaleng Ilmu

[Copas dari FB]
MAU KE MANA, MAS ?

I will fly to reach my dreams too..

Ia hanyalah seorang pelajar sekolah menengah SMA yang sering hadir di pengajian masih berseragam putih abu-abu di sore hari selepas sekolah. Roy Grafika ,berprawakan kurus, adalah anak yang sangat rajin mencatat isi pengajian. Ia orang yang terbina memiliki catatan lengkap dan rapi. Bukan sekedar lulus dan menuntaskan sekolah menengah namun
disertai dengan nilai lulus dari SMA 1 Jogja pun cukup bagus, kalau tidak salah nilai matematikanya 10. Karena sangat terkesan dengan cara berislam yang ilmiah, ia tidak mengambil kursi di universitas namun selepas SMA ia mondok 2 tahun di suatu pesantren di Gresik. Sewaktu di pesantren ia berhasil lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa S1 di bidang hadits di Universitas Islam Madinah. Saat ini ia adalah Ustadz Roy Grafika, Lc, MA (semoga Allah menjaganya !) mahasiswa S3 bidang aqidah di Universitas Islam Madinah.

Firanda hanyalah…

Lihat pos aslinya 1.277 kata lagi

Ketika kita berusaha adil dan rendah hati dalam memandang kehidupan, kita akan sadar pelan-pelan bahwa sebaik-baik kebaikan adalah hidup di bawah naungan Quran.

Hari itu 2 Juli 2012, lepas Isya’. Bapak pergi ke stasiun untuk menjemput dua orang kerabat yang berkunjung ke rumah. Dalam perjalanan, sampai sebuah pesan dari pengasuh panti asuhan bahwa seseorang meninggalkan bayinya di panti tersebut.

Berpikir bahwa itu adalah kasus biasa, bapak saya bilang, “Diterima saja dulu. Itu tugas kita kan?”

Setibanya di rumah, Bapak—yang juga pengurus panti tersebut—menghubungi pengasuh di sana. Informasinya ternyata buram. Yang mengantarkan bayi berusia 23 jam itu bukan orang tuanya. Ia adalah teman ibu si bayi ini. Dan sang kawan ini juga jadi induk semang ketika masa kehamilan memasuki usia lima bulan.

Terus, di mana orang tuanya?

Satu-satunya kabar tentang sang ayah, kata orang yang berbaik hati mengantarkan bayi ini ke panti asuhan, adalah kabar burung. Beberapa manusia memang berlumur mitos kemuliaan berkat kabar burung, tapi kabar yang beredar tentang orang ini adalah hal-hal yang tak layak.

Ia lari entah ke mana ketika istrinya hamil dua bulan. Kabarnya, ia terjerat kasus penipuan jual-beli Blackberry yang biasa kita lihat di Facebook. Tuduhan, bisik-bisik, dan spekulasi lainnya bisa kita tambahkan. Tapi entahlah, karena langkanya jejak dan bukti, sepertinya dugaan-dugaan seperti ini sulit dibenarkan juga.

Sementara ibunya, sehari setelah melahirkan, pulang ke Balikpapan. Pengurus panti asuhan tak dapat menghubungi ponselnya. Untungnya, terselip informasi bahwa sang ibu dulunya adalah mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember. Namanya Sarah-something, saya tak begitu ingat.

Bapak, melalui beberapa tetangga yang bekerja di FH Unej, akhirnya mendapatkan akses ke data mahasiswa di sana. Maka, profil sang ibu sudah dikantongi. Yang belum dilakukan tinggal mencari. Kata Bapak, ada anak tetangga yang tinggal di sana yang bersedia mencari keberadaan sang ibu. Tapi hingga kini, kabarnya juga masih tak jelas.

Karena panti asuhan mungil ini sudah tergolong overload, dan karena mereka tak terbiasa mengasuh bayi secara khusus, para pengurus panti kemudian berinisiatif menawarkan pengasuhan ke komunitas mereka. Khususnya pada keluarga yang sekian lama menanti buah hati, tapi Allah masih belum berkenan beri amanah ini pada mereka. Apalagi di antara mereka ada yang sudah nyaris dua puluh tahun menanti anak kedua, tapi sang bayi akhirnya lahir dalam keadaan tak bernyawa. Ada pula yang sudah berniat mengeluarkan uang belasan juta demi adopsi dan ongkos rumah sakit yang ditinggalkan orang tua si bayi, tapi batal sebab persyaratan administrasi yang susah dipenuhi.

SMS disebar, tak ada satu pun yang terbalas.

Di tengah keriuhan para pengurus panti, ibu saya nyeletuk, “Gimana kalau kita yang asuh?”

Ringkas cerita, orang tua saya akhirnya sepakat mengasuh anak ini hingga entah kapan—paling tidak sampai ia baligh. Bapak meminta saya memberi nama dua hari sebelum aqiqah. Saya mengirimkan tiga opsi. Athifa Rahma, Farha Zakiyya, atau—ini yang paling saya suka—Khonsaa’ Mardhiyyah. Tapi Bapak memilih nama pertama. Memang terdengar lebih catchy sih.

Saya kemudian menitipkan dua pesan: Read More

Apa yang seharusnya dilakukan ketika kita berbeda? Sikap apa yang harus ditanam dalam-dalam saat melihat mereka yang punya pandangan tak sama?

Saya sedang mengantar Bapak ke kantor kelurahan ketika menerima kabar itu: Ma’had al Muslimun, tempat saya belajar sejak saya duduk di bangku SMP dulu, dikeroyok massa. Bagian kiri masjid hancur. Tak ada penjelasan; baik tentang motif maupun akibat lengkapnya.

Sepanjang perjalanan, saya diam.

Saya kemudian tenggelam dalam ingatan tentang insiden Pesantren Robbani. Saya baru beberapa saat pulang kuliah ketika di siang yang panas bulan April itu, Bapak menelepon dari rumah. Kemarin sore, katanya, pesantren ini dirusak warga. Tiga orang yang sedang mengaji di dalamnya tak berdaya menghadapi kepungan sedikitnya tujuh puluh warga bersenjata.

Mereka hanya bisa melihat kaca-kaca yang pecah dan terlukanya dinding serta lantai dalam diam.

Tidak ada takbir atau kalimat thayyibah lainnya saat itu. Hanya ada kecam geram atau dengus tawa manusia yang ternyata susah diajak bicara.

***

Siang itu, berbulan yang lalu, Bapak bercerita tentang kronologi peristiwa Robbani. Mungkin hanya kekagetan yang memenuhi pikiran andai saya jadi mereka. Tanpa kalimat sapa, basa-basi, atau itikad rujuk dengan semangat ukhuwwah, tiba-tiba saja datang kabar dari Polres Jember. Katanya, warga setempat melaporkan hal berikut: bahwa Pesantren Robbani mengaktifkan empat buah speaker keras-keras, dan ini mengganggu kenyamanan warga; bahwa jama’ah Robbani memarkirkan motornya sembarangan, dan itu mengganggu gerak warga sekitar; dan bahwa Robbani diduga mengajarkan ajaran sesat, khususnya dalam hal shalawatan, tahlilan,  dan sebagian tata cara merawat jenazah.

Menerima laporan ini, Polres Jember mengirimkan staf intelnya untuk mengumpulkan informasi. Laporan intel Polres itu, yang belakangan dipaparkan saat mediasi, menjadi pembatal tuduhan yang diarahkan pada pesantren ini. Bahwa empat buah speaker yang dipermasalahkan ternyata bukan milik Pesantren Robbani, melainkan milik warga yang tinggal tepat di sebelah pesantren tersebut.

Bagaimana dengan Read More