Arsip

artikel reguler

Saya tak tahu. Kadang, saya merasa bahwa diri memiliki banyak kurang. Kurang memiliki kualifikasi untuk membawa agama ini di garda terdepan. Kurang syukur; kurang sabar. Aneh. Sekaligus mengkhawatirkan. Padahal rasul dahulu pernah berkata bahwa keduanya merupakan salah satu dari sedikit kendaraan menuju surga. Juga, mengingat para pendahulu kita yang dijamin surga, Umar bin Khaththab misalnya, memiliki dua sifat ini. Sampai-sampai ia tak peduli lagi dengan kendaraan apa ia akan masuk ke dalamnya.

Sering saya mengeluh. Mereka yang dekat dengan saya tahu ini. Ada saja yang dikeluhkan. Tugas yang menumpuk, tanggung jawab yang menanti, atau kurangnya ilmu yang dikuasai. Sebagai apologi, saya sering berkata dalam hati, “Ah, keluhanku ini untuk Allah. Untuk agama Allah.” Tapi jarang sekali ingat bahwa dulu, ketika para sahabat berada dalam tekanan dan mengadukannya pada rasul, bertanya kapan pertolongan Allah datang, wajah rasul memerah sembari berkata, “Sungguh kalian adalah orang yang terburu-buru.”

Karena telah tampak pengorbanan Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yahya, Musa, Zakariyya, Isa, dan sederet rasul lainnya, ‘alaihumussalam. Mereka menderita kepedihan yang parah. Tubuh yang digergaji, kepala yang dipenggal, ummat yang luar biasa bebal, sosok yang dicari dengan ancaman penuh siksa; semua berkejaran. Tapi adakah di antara mereka mengeluh?

“Ya Allah, aku mengadukan kepadaMu akan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Yaa arhamar rahimiin, Engkaulah rabbnya orang2 yang merasa lemah, dan Engkaulah rabbku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada musuh yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaanMu? Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang mulia yang menyinari seluruh langit dan menerangi semua yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. KepadaMu lah aku mengadukan urusanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan melalui Engkau.”

“rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan…”

Atau ungkap penuh kesabaran Hajar di padang pasir tandus itu,

“Yaa Ibrahim, kalau itu adalah perintah rabbmu, maka tidak ada jalan lain selain mematuhinya. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong..”

Rabbi..

Mungkin tak ada lagi kata dalam lisanku untuk mengungkapkan kesabaran hamba-hambaMu yang mulia itu. Ah ya, cuma satu. Kalau memasuki jannahMu membutuhkan keduanya; sabar dan syukur; jadikan aku bagian dari orang yang sabar dan syukur itu..

Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengannya dan seterusnya; seseorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya; apabila agamanya kuat maka cobaanya keras, dan apabila agamanya lemah maka ia mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan terus menerus menimpa hamba Allah tak pernah lepas darinya sebelum ia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa lagi. (HR Bukhari)

*saat harapan memudar, hanya Kau sandarku..

Iklan

Saudi, 20 November 1979. Sejarah mencatat nama Juhaiman al Utaibi sebagai orang pertama, atau mungkin satu-satunya, di wilayah jazirah Arab yang begitu berani berusaha membobol status quo pemerintahan kerajaan Ibnu Saud. Hari itu, bertepatan dengan tahun baru hijriyah, kucuran darah tumpah di wilayah Masjidil Haram. Kisah ini cukup fenomenal, mengingat, di tanah itu, saya merekam memori bahwa hanya darah Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Jahl, keluarga Yasir, Abdullah bin Zubair, dan darah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri—beserta kaum muslimin yang turut andil dalam konflik pelik di akhir pemerintahan khulafa’ur rasyidin—yang pernah memerahkan tanah Makkah. Itu empat belas abad yang lalu.

Tapi ada yang aneh. Gerakan ini sama sekali luput dari pengamatan intelijen kerajaan Saudi. Tiba-tiba saja, pagi itu, muncul ratusan orang bersejata lengkap yang kemudian berbuat huru-hara di sekitar kompleks Masjidil Haram.

Salahkah Juhaiman? Saya tak bisa memberikan jawaban absolut: ya atau tidak. Karena kalau kita tinjau dari ghirahnya dalam memurnikan tauhid dari syirik, menyucikan ibadah dari bid’ah, serta konsistensinya dalam menegakkan sunnah, jelas kita semua harus angkat topi. Harus menaruh hormat. Wajarlah, mengingat Juhaiman sendiri—seperti yang dikisahkan pada saya oleh seorang kawan dari buku yang ia baca: The Siege Of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of Al Qaeda karya Yaroslav Trofimovadalah salah seorang ikhwah yang belajar banyak dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, serta menyatakan diri sebagai pengusung gerakan da’wah salafiyyah. Tapi di sisi lain, luput dalam memaknai “al Mahdi” ternyata membawa al Ikhwan, sebutan kelompok ini, pada kesalahan terbesarnya.

Mereka memaksakan kehadiran al Mahdi. Bukan menjadikannya Read More

Mengingat Mu’tah, mau tak mau kita juga akan mengingat Termopylae. Kedua tempat ini biasa dikaitkan dengan nama Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah, radhiyallahu ‘anhum, serta Leonidas. Tiga nama pertama, seperti yang telah kita ketahui, adalah panglima perang Mu’tah yang ditunjuk secara langsung oleh Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara nama terakhir adalah pemimpin tiga ratus pasukan Sparta melawan terjangan dua ratus ribu pasukan Persia di bawah komando Xerxes.

Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury, dalam ar Rahiqul Makhtum, menyebut nama al Harits bin Umair sebagai kurir Rasulullah pada para pemimpin Bushra. Tapi, belum sempat menunaikan misinya, Syurahbil bin Amr al Ghassany tiba menghadang jalannya. Pemimpin al Balqa’, sebuah daerah di wilayah Syam, ini lantas mengikat al Harits. Dibawanya ia ke hadapan Qaishar, penguasa wilayah Romawi. Dan di hadapannya, dengan pongah memenuhi dadanya, dipenggallah leher al Harits bin Umair, radhiyallahu ‘anhu.

Seperti sudah jamak diketahui, di masa itu, pembunuhan terhadap kurir atau pembawa pesan berarti tantangan perang pada pihak lawan. Dan bagi umat yang tak beradab sekali pun, pembunuhan terhadap pembawa pesan itu sudah dianggap sebagai perbuatan keji. Tak termaafkan. Maka, tak heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera menghimpun Read More

Malam Idul Fitri ini, ponsel murah saya dipenuhi hamburan SMS dari berbagai kenalan. Dari kampus, dari kawan bermain masa kecil, atau dari teman-teman di bangku sekolah dulu. Iseng saja, saya kemudian membuka akun facebook serta twitter saya. Semua sama. Mengucap syukur atas datangnya Idul Fitri, salah satu dari tiga hari raya Islam yang ditetapkan Rasulallah, diiringi kata-kata puitis ber-rima, dan tak ketinggalan pula ucapan maaf atas segala khilaf.

Well, saya selalu tertarik pada hal yang tak biasa. Dan saya pun tertarik pada tradisi minta maaf saat Idul Fitri ini. Karena memang ia sangat tak biasa. Atau luar biasa mungkin. Apa lagi kata yang lebih tepat untuk mengekspresikan ketertarikan atas perbuatan yang hanya ada di satu tempat dan di satu waktu? Unik? Ah, terserah lah kalian mau menyebutnya apa.

Mengucap kata maaf, bagi saya, seperti melambungkan ingatan saya belasan abad yang lalu, saat pembawa risalah untuk umat akhir zaman ini masih menarik nafasnya di dunia.

Kenangan pertama ditorehkan Read More

Medan Badar mengabadikan dialog dua sahabat cilik ini: Mu’adz bin Amr bin al Jumuh dan Mu’adz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Dikisahkan langsung oleh sahabat mulia nan kaya namun zuhud, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, namanya kini harum. Sebagai salah satu pejuang Badar termuda dari kalangan sahabat. Empat belas dan tiga belas masing-masing usianya. Dan kisahnya, kini, tertulis rapi dalam Shahih Bukhari.

“Aku,” kata Ibnu ‘Auf, “berada dalam sebuah barisan saat perang Badar. Aku menoleh kanan dan kiriku, terdapat dua pemuda yang masih belia. Dan aku khawatir akan keduanya.”

Beliau melanjutkan kisahnya. “Wahai paman,” kata salah seorang di antara dua Mu’adz itu, “tunjukkan padaku mana yang bernama Abu Jahl.”

Ibnu ‘Auf terkaget. “Apa yang ingin engkau perbuat padanya?” Jawaban Mu’adz bin Amr begitu dahsyat. “Aku dengar dia telah melukai Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahi! Jika aku melihatnya, tak kubiarkan hitam mataku dengan hitam matanya berpisah hingga salah satu dari kami mati!”

Singkat cerita, seperti mereka yang jujur pada kata-katanya sendiri, serupa seorang sahabat tak dikenal yang syahid karena anak panah di lehernya, atau semisal dr. Abdul Aziz al Rantisi yang diterjang roket Apache, Allah menggenapkan ucapan pemuda ini. Benteng tangguh berupa manusia-manusia tegap nan sigap pengawal Abu Jahl berhasil ditembus. Tak tanggung-tanggung, bocah ingusan ini berhasil Read More

Suatu ketika, Ziaul Haq, presiden Pakistan pada 1977-1989, pernah mengundang beberapa wartawan untuk makan siang sekaligus berdialog di kediamannya. Salah satu yang diundang adalah Nizami, pemimpin redaksi surat kabar The Nation terbitan Pakistan. Di sana, saya kemudian mengenang sebuah dialog yang cukup apik untuk membuka wawasan kita semua.

“Wahai Nizami, menurutmu, siapa yang mendirikan dan membangun suatu negara?”

Cukup lama Nizami berpikir, mencoba memahami logika Zia. Lantas ia menjawab, “Politisi.”

Mendengar jawaban itu, Ziaul Haq tersenyum. “Ternyata wartawan sekelas Anda masih berpikir sependek itu.” Para undangan saling pandang. Apakah presiden mereka ini hendak membanggakan dirinya sendiri?

Dan dengan sangat simpel, Zia menjelaskan pandangannya. “Sesungguhnya, pendiri dan pembangun bangsa itu adalah kaum intelektual.” Read More

Baru saja saya berwudhu. Di tengah wudhu itu, saya teringat sebuah kata dari seorang sahabat, “Bahkan seorang ‘Umar bin Khaththab pun adalah seorang mualaf!”

Saya kemudian jadi teringat kisah hidup Ustadzah Irena Handono. Beliau dulu adalah seorang biarawati. Ketua Legio Maria, malah. Bukan jabatan yang bisa dianggap remeh. Tapi setelah membaca satu surat dalam bagian akhir al Quran, yaitu surat al Ikhlas, berkat petunjuk dari Allah, beliau mengikrarkan Islam sebagai diin-nya.

Saya juga baru saja membaca perjalanan hidup Ustadz Insan Mokoginta. Betapa dulu aqidahnya terombang-ambing hingga ia sempat memilih Kristen sebagai pilihan hidup. Hingga ia sempat memilih untuk mengabarkan injil pada ‘domba-domba tersesat’ di kalangan umat manusia.

Beberapa hari yang lalu, Allah mengenalkan saya dengan seorang saudara baru. Namanya Stephanus Iqbal. Beliau mengajak saya untuk menimba ilmu dari seorang ustadz–yang secara kebetulan saya menjumpai banyak tulisannya di website ini–di daerah Blok M. Mmm.. sebenernya saya juga tidak tahu itu daerah mana. Tapi kalau dari tempat tinggal saya sekarang, di daerah Bintaro, untuk menuju rumah ustadz itu, saya harus lewat Blok M. Dari sana, tempat tinggalnya sudah tak jauh lagi.

Nah, akh Iqbal ini sempat nyeletuk, Read More