Arsip

Monthly Archives: November 2011

Selayaknya tiap muslim bertanya pada dirinya sendiri tiap saat; berapa banyak orang yang telah mendapatkan hidayah dari Allah dengan perantara dirinya pekan ini? Berapa desa yang telah dimasukinya guna menyeru penduduknya pada Allah? Sudahkah kerabat dekat, tetangga, dan kedua orang tua dida’wahi?

Berapa kali mengunjungi orang sakit dan mengajak mereka pada Islam? Atau memperbaiki hubungan yang renggang antara dua orang yang tengah berseteru? Atau mengunjungi ikhwah fillah? Atau mengajaknya pada Allah dalam pekan ini?

Berapa banyak harta yang telah diinfaqkan bagi kaum muslimin di jalan Allah dalam sepekan ini? Berapa banyak keluarga dari mereka yang tengah diuji sudah mendapatkan bantuan; tenaga, harta, materi, dan dorongan moral? Berapa banyak keluarga syuhada’ yang telah dipenuhi kebutuhannya?

Berapa malam dihabiskan untuk memikirkan amal Islami secara umum, di kota atau desa tempat tinggal secara khusus? Berapa kali telah beramar ma’ruf nahi munkar? Berapa kali telah berjihad menghadapi musuh Islam dan meninggalkan sesuatu yang berarti pada mereka? Berapa kali memperjuangkan hukum Allah dan membela kaum muslimin; dengan darah dan kehormatan mereka?

Adakah langkah kaki ini maju menuju pemahaman dan pengamalan Islam yang lebih baik?

Bila rintangan sedang menghalang, katakan pada diri sendiri,

 “Bukankah jika Allah hendak mengambil para syuhada’, Ia menciptakan kaum yang membuka tangan mereka untuk membunuh orang yang beriman? Apakah pantas ada orang yang membunuh Umar selain Abu Lu’lu’ah? Atau Ali selain Ibn Muljam? Atau Sumayyah selain Abu Jahal?

–Syaikh Abdullah Azzam; Washiyyatul Mushthafa li Ahlid Da’wah

Iklan

Beberapa bulan belakangan adalah waktu kritis bagi Media Center untuk berbenah diri. Ada dua momen penting dalam hal ini. Pertama, pergantian kepengurusan dan pembenahan di beberapa bidang, terutama redaksi, yang menjadi bagian dari fokus kami tahun ini. Kedua, ini yang menarik: tak seperti biasanya, suara-suara “protes” menghampiri ruang redaksi kami.

Hal pertama tentu tak bisa dilepaskan dari dinamika di tiap organisasi mahasiswa tiap tahun. Ini bukan hal yang istimewa. Sementara peristiwa kedua jelas perlu diperhatikan. Ada bermacam suara yang sampai ke kami seperti keluhan mengenai berita-berita basi yang perlu waktu cukup lama untuk menunggu jadwal terbit tabloid, sampai tendensi Media Center untuk menampilkan “borok” organisasi-organisasi mahasiswa, tanpa turut merekam jejak-jejak positif yang ditinggalkan warga kampus.

Mari mengkajinya dari sudut pandang tugas pers sebagai watch dog (anjing penjaga). Maksudnya, salah satu fungsi pers adalah memantau kinerja pihak-pihak yang berkuasa supaya tetap berada dalam jalurnya. Bila ditemukan kesalahan, ingatkan. Bila ada hal positif dalam kinerjanya, berikan apresiasi. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Elements of Journalism menulis rumusan sederhana mengenai hal ini. “Wartawan,” tuilsnya, “harus bertindak sebagai pemantau independen terhadap kekuasaan.”

Setelah jelas bahwa kita perlu melacak tiap penyalahgunaan wewenang, perlukah memberikan perhatian khusus pada prestasi yang telah dicapai? Jawabnya, tetap perlu, tetap penting. Tapi mengapa Media Center terkesan memojokkan organisasi mahasiswa yang sedang punya hajat, yang kemudian diindikasikan timbul kesalahan di dalamnya? Ini terkait dengan Read More

Melalui blog Mas Haris Firdaus, saya menemukan situs yang dirancang untuk memetakan nilai politik kita. Letaknya ada di sini. Saya klik situs tersebut dan mulai menjawab pertanyaan yang diajukan di sana. Hasilnya? Ini dia.

Ilustrasi tersebut kira-kira menggambarkan orientasi politik saya setelah menjawab kuisioner yang diajukan dalam situs tersebut. Hasilnya, saya dianggap memiliki nilai progresif esoteris moderat. Maksudnya? Penjelasan berikut yang saya ambil dari situs tersebut mengenai nilai itu mungkin bisa menjelaskan.

Seperti halnya dengan varian progresif esoteris lainnya, prinsip kesetaraan antar individu menjadi penekanan dalam sistem nilai. Namun prinsip kesetaraan ini bukan lagi sebagai tujuan melainkan suatu kondisi awal yang setara dimana setiap individu mampu mencukupi kebutuhan dasarnya. Tanpa adanya jaminan pendidikan, kesehatan dan standar kesejahteraan minimum mustahil individu dapat mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai level kesejahteraan yang lebih baik.

Sementara itu, konsep kebebasan pun dipahami sebagai kemerdekaan individu untuk memaksimasi pilihan dan kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya. Dengan kata lain, dari perspektif progresif esoteris moderat, prinsip kebebasan dan kesetaraan antar individu bukan merupakan dua konsep yang saling bertentangan satu sama lain. Dalam sistem nilai ini, negara tetap memegang peranan penting dalam membentuk dan mengarahkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Namun hal tersebut dilakukan tanpa melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini untuk menghindarkan negara berubah menjadi rezim otoritarian dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat sekaligus menjamin kebebasan rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial politik.

Dibandingkan varian progresif esoteris lainnya, peran negara dalam perspektif sistem nilai progresif esoteris moderat ini jauh lebih terbatas. Dalam sistem nilai ini, negara mengakomodasi mode ekonomi kapitalistik sambil tetap menjalankan peranannya dalam upaya pemerataan kesejahteraan melalui redistribusi pendapat dan jaminan sosial dasar.

Sistem nilai ini memiliki kecenderungan pada ideologi sosial demokrasi, yakni varian sosialisme yang sudah mengakomodasi mode ekonomi kapitalistik dengan tetap menekankan pada ide-ide keadilan sosial dari sosialisme. Ideologi ini menyokong peran aktif negara dalam upaya pemerataan kesejahteraan melalui distribusi pendapat dan jaminan sosial dasar.

Setelah mengetahui letak nilai politik saya, sebagai perbandingan, berikut ini adalah peta perbandingan Read More

Suatu hari, di sebuah kesempatan yang saya sudah lupa waktu dan tempatnya, seseorang berkata pada saya yang kira-kira begini isinya.

Saya tak habis pikir dengan orang-orang yang rajin berkampanye syariat dan jihad itu, seolah mereka ini benar sendiri. Padahal kan yang baik menurut mereka belum tentu baik menurut tuhan; jangan memaksakan kehendak dong…

Sekali lagi, karena saya lupa masalah detail mengenai pernyataan ini, saya hanya menampilkan poinnya. Ini bukan transkrip kata per kata. Tapi saya yakin poin yang hendak disampaikan orang ini adalah seperti yang saya tulis itu.

Apa yang menarik? Begini, kalimat terakhir orang itu sebenarnya merupakan sepenggal kutipan dari al Quran. Tepatnya di QS al Baqarah 216. Berikut kutipan lengkapnya.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS al Baqarah 216)

Saya tak sedang membicarakan tafsirnya. Hanya menunjukkan bahwa penegakan syariat jihad yang dibenci kawan saya itu ternyata disebutkan oleh Allah dengan redaksi yang sama sekali berbeda.

Oya, perlu dicatat bahwa saya tidak sedang mengomentari pernyataan mengenai memaksakan kehendak. Sayyid Quthb, dalam Ma’alim fit Thariq, saya kira sudah memberikan penjelasan yang cukup mudah dimengerti mengenai batasan “pemaksaan di dalam diin“ yang diizinkan oleh Islam; selain karena saya sedang tidak bicara mengenai poin itu kali ini.

Nah, melihat pernyataan kawan saya itu, luar biasa ironis bila dibandingkan dengan hal yang tersebut dalam al Quran, kan?

Ada lagi kasus populer yang sering mencuat ketika masyarakat bimbang, harus menuruti pemerintah—atau pihak-pihak berkuasa lainnya—atau ikut pada ijtihad pribadi atau ulama yang dinilai lebih dekat pada kebenaran. Seorang teman—orang yang berbeda dengan yang saya ceritakan di awal tulisan ini—pernah mengirimkan pesan singkat pada saya. Intinya agar saya Read More

Dengan membaca, konon kita bisa melihat dunia. Decit tikus dan alunan terompet dari Jerman, kecerdikan Toyotomi Hideyoshi di Jepang rezim Ashikaga, juga lembaran kamus yang dibaca Malcolm X. Dari tumpukan buku berbau apak itu juga, ada bekas-bekas perjuangan Ibn Taimiyah, Abdullah Azzam, sampai Abdullah bin al Mubarak; ulama yang cucurkan darah di medan perang.

Terakhir, dari buku pula, seseorang akan tahu bahwa dirinya tengah sendirian.

***

Beberapa kali, di lingkungan sekitar kos maupun lingkungan online saya, pertanyaan datang mengenai bagaimana kita menumbuhkan minat baca, khususnya terhadap buku yang membahas tema keislaman. Keluhannya rata-rata sama: ada keengganan berada di depan buku lama-lama. Terutama buku yang menampilkan banyak fakta dan membutuhkan konsentrasi untuk menggabungkannya jadi satu simpulan. Ah ya, di sini, buku teks kuliah tak masuk hitungan.

Bicara soal buku, saya kemudian ingat komik serial yang dibelikan oleh bapak saya saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Komik serial itu bercerita tentang kehidupan nabi. Seingat saya, ada dua belas seri. Berikut ini salah satunya. Read More